
Flora berjalan menyusuri koridor kantornya dengan langkah gontai. Pikirannya melayang pada kejadian tadi saat sarapan, dimana Mamanya terlihat begitu sedih dan kehilangan. Flora bisa membayangkan bagaimana perasaannya karena dia pun pernah kehilangan. Kehilangam calon anak, buah cintanya dengan Liam dulu. Terlalu larut dalam pikirannya dia tidak sadar sudah menabrak orang yang saat ini masih mengisi ruang di relung hatinya.
Pandangan mereka bertemu dalam waktu yang cukup lama tapi Liam langsung mengalihkan pandangannya.
Grep
Flora menahan lengan Liam yang hendak pergi itu. Liam membeku beberapa saat, dia tidak menyangka Flora akan berani menahan dirinya.
Mata Flora sudah berkaca-kaca. Inginnya dia memeluk kekasih hatinya ini tapi itu tidak mungkin mengingat status mereka yang bukan siapa-siapa.
Liam membalik tubuhnya, bisa dia lihat kalau saat ini wanita yang begitu dia cintai sedang tidak baik-baik saja.
"Aku Flo" ucap Flora lirih.
Sesaat wajah Liam menegang, tapi dia kemudian melengkungkan senyumnya.
"Iya aku tahu, kamu Flora. Istriku" balas Liam.
Samuel yang ada disana sampai membelalakkan matanya. Tidak menyangka sama sekali dengan apa yang dia dengar.
Flora berhambur ke pelukan Liam. Dia menangis sekencang-kencangnya. Liam pun membalas pelukan itu.
"Kenapa kamu tidak bilang dari awal kalau kamu mengenaliku?" tanya Flora. Flora sudah begitu terisak. Dia tidak bisa menahan air matanya lagi. Padahal saat ini mereka berada di korodor perusahaan. Banyak pasang mata yang memperhatikan mereka walau tidak ada yang berani berkomentar sedikit pun. Mereka hanya bisa menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi.
Liam mencium puncak kepala istrinya.
"Maafkan aku." Liam hanya mengucapkan kata maaf.
Flora masih menangis dan tidak menyangka kalau hal ini bisa terjadi.
Dia pukul pukul dada Liam karena kekasih hatinya itu tidak jujur dari awal.
Pantas saja Liam semarah itu saat Flora hampir memakan makanan pedas, rupanya dia sudah tahu kalau Anya adalah Flora.
Marvel yang baru tiba begitu terkejut melihat Liam dan Flora berpelukan di tengah jalan, disaksikan oleh banyak karyawan. Sungguh sesuatu yang tidak pernah Marvel bayangkan sebelumnya.
Marvel ingin mendekat tapi Samuel menahannya.
"Ada apa ini Sam?" tanya Marvel meminta penjelasan.
"Aku juga tidak mengerti, tapi kenapa Pak Al mengatakan kalau Anya adalah istrinya? Dan beliau mengatakan kalau Anya adalag Flora. Saya tidak mengerti" jawab Samuel apa adanya.
"Flora?" Marvel nampak mengingat-ingat dimana pernah mendengar nama itu.
"Dimana ya?" batin Marvel.
Deg.
Marvel jadi ingat dengan gadis di foto yang Stefan pernah perlihatkan padanya beberapa waktu lalu, Gadis yang kata Flora temannya di rumah sakit. Gadis yang Marvel bisa lihat di dalam diri Anya.
Marvel perhatikan lamat-lamat Liam dan Flora yang sedang berpelukan. Lama-lama dia bisa melihat siapa sesungguhnya yang ada di depan sana.
Gadis di foto dan Liam yang usianya terlihat lebih dewasa dari sekarang.
Marvel bahkan hampir terjatuh ketika berhasil menggunakan mata batinnya.
"Anda tidak apa-apa pak?" tanya Samuel sambil menahan tubuh Marvel yang terhuyung ke belakang.
"Ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi?" marvel merasakan kepalanya berputar-putar.
Bersambung...