Way Back Into Love

Way Back Into Love
Mungkin



"Sudahlah Ayah, Aku juga tidak mau membahas masa lalu lagi. Aku hanya ingin bahagia dengan keluarga kecilku. Aku dan Melani sudah menikah. Tolong jangan ganggu kami lagi Ayah" ucap Emil menimpali. Dia malas berdebat dengan Ayah yang menurutnya tidak mau disalahkan.


Sesaat Ayah begitu Emosi, tapi begitu melihat cucunya yang memiliki tatapan mata yang begitu teduh, akhirnya amarahnya berangsur-angsur berkurang.


"Ayah benar-benar tidak pernah membuang anakmu. Ibumu mengatakan kalau istrimu berselingkuh dan hasil tes DNA mengatakan kalau anak ini bukan anak kandungmu. Ibu juga memperlihatkan hasil tes DNA dan bukti-bukti perselingkuhan."


"Saat itu kamu koma, jadi Ayah tidak sempat berfikir apa-apa"


Ayah menghela nafas berat. Sepertinya dia mulai tahu apa yang terjadi. Harusnya saat istrinya mengatakan kalau Melani membuang bayinya, Ayah tidak diam saja. Secara tidak langsung dialah yang membuang cucu sendiri.


"Lalu siapa yang mempunyai ide mengambil anakku dan menitipkannya di panti asuhan luar negeri saat istriku sakit?" Emil masih belum percaya dengan ucapan Ayahnya. Tidak mungkin menurutnya sang Ayah tidak ikut campur.


Ayah semakin terkejut, dulu Ibu mengatakn Melanilah yang membuang anaknya karena malu.


"Tapi yang Ibumu katakan, Istrimu lah yang membuang anak kalian" jawab sang Ayah.


Deg.


Melani terkejut. Tidak menyangka sebegitu teganya Ibu memfitnahnya seperti itu.


"Sudahlah yah, Aku sudah tidak mempermasalahkan lagi yang sudah berlalu juga tidak akan bisa dirubah lagi. Yang penting aku mohon sekarang ijinkan kami bahagia. Jangan lagi Ayah mengatur hidupku" balas Emil.


Kepala Ayah rasanya berputar-putar. Padahal selama ini dia tahu dimana cucunya dititipkan tapi dia tidak pernah mau ikut campur karena dia sudah percaya kalau itu bukanlah darah daging Emil.


"Akulah yang sudah membuang cucuku sendiri" gumam Ayah dalam hati.


Semakin lama kepala Ayah semakin berputar dan terasa berat hingga Ayah pun tak sadarkan diri.


....


Emil melarikan Ayahnya ke rumah sakit terdekat. Tekanan darahnya meningkat melampaui batas. Untung saja pembuluh darahnya tidak sampai pecah.


Walau dia marah pada Ayahnya, tapi Emil tetap saja khawatir dengan keadaan Ayahnya tersebut. Bagaimanapun juga ada darah yang sama mengalir di tubuhnya. Ikatan darah lebih kental daripada air.


Ayah saat ini sudah sadarkan diri, disebelahnya Aulia dan suaminya sudah menunggu disana.


Emil sendiri dan yang lain memilih menunggu di luar.


Ayah menatap Aulia dengan tatapan yang tidak bisa Aulia artikan.


"Jangan bilang kalau selama ini kamu sudah tahu apa yang Ibumu lakukan?" tanya Ayah.


Deg


Deg


Deg


Aulia tidak bisa menjawab. Dia hanya menundukkan kepala. Tak lama kemudian bahunya naik turun dengan hebatnya. Aulia menangis dengan sesenggukan.


"Maaf Ayah" hanya kata itu saja yang bisa Aulia ucapkan.


Ayah kembali merasa sesak. Dia menyesali apa yang sudah terjadi.


Ketidaksukaan Ayah pada Melani pertama karena hasutan Ibu yang mengatakan kalau Melani adalah wanita murahan yang sudah tidur dengan banyak pria. Itulah kenapa dia mau tinggal bersama dengan Emil walau tanpa ikatan pernikahan.


Yang kedua adalah ketika Ayah mendengar kalau anak yang dilahirkan Melani bukanlah darah daging Emil.


Dan yang terakhir adalah ketika mendengar Melani membuang anaknya sendiri.


Tiga hal yang membuat Ayah tidak menyukai Melani dan ternyata itu adalah karangan istrinya.


Tapi Melani dan Emil memang bersalah karena tinggal bersama walau tanpa ikatan pernikahan. Andai saja dulu mereka langsung menikah saja mungkin Ibu tidak mempunyai alasan untuk meracuni pikiran Ayah.


Bersambung...