
Entah keberuntungan atau bagaimana, hari ini keluarga Emil tidak ada yang menjenguk satupun. Melani menjadi mempunyai waktu lebih untuk berada di samping Emil.
" Ela ... Ayo kita menikah. Aku sudah menyimpan uang yang cukup untuk kita membuka usaha. Aku tidak takut meninggalkan keluargaku. Kita bisa menata kehidupan yang baru" Emil menggenggam tangan Melani dengan erat. Dia ingin mendengar jawaban dari wanita yang menjadi Ibu dari anaknya. Wanita yang sebenarnya begitu dia cintai tapi dulu harus dia tinggalkan karena menerima ancaman dari orang tuanya.
Mendengar ajakan menikah dari pria yang begitu Melani cintai tentu saja membuat dia begitu terharu.
Melani tanpa sadar meneteskan air matanya.
"Apa keluargamu tidak akan mengusik kita?" Melani sangat takut kalau keluarga Emil akan mencelakai mereka terutama mencelakai anak mereka.
"Mereka tega membuang anak kita ke panti asuhan padahal Ilona adalah darah daging mereka. Bagaimana kalau mereka tega melakukan hal buruk lainnya?" Melani tidak bisa menutupi rasa takutnya.
"Mereka tidak akan bisa berbuat macam-macam pada putri kita. Ada Liam yang pasti akan melindunginya. Aku yakin Ayah dan Ibu tidak akan ada yang berani berurusan dengan keluarga Tompson" jawab Emil yakin.
Emil menatap Melani dengan tatapan memohon. Dia ingin Melani menerima lamarannya. Walau banyak keraguan tapi akhirnya Melani menganggukkan kepalanya.
Emil bernafas lega, walau harus menunggu 20 tahun baru bisa bersama tidak masalah baginya asal tetap bisa menikah dengan Melani, wanita yang begitu dia cintai.
"Terima kasih Ela, aku sangat mencintaimu" ucap Emil dengan semakin menggenggam erat jari jemari lentik milik Melani. Wanita yang sudah berusia 40 tahunan tapi masih terlihat awet muda.
Diruangan rawat inap itu saat ini hanya ada mereka berdua. Flora sudah kembali ke apartemen diantar oleh Liam karena waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam dan besok Flora harus sekolah. Walau sekolah dari rumah tapi Flora tetap semangat agar bisa lulus dengan nilai memuaskan.
....
"Kamu berani tinggal sendiri?" tanya Liam saat sudah sampai di depan pintu apartemen Flora.
"Ooohh...aku kira tidak berani dan minta ditemani. Biar aky peluk semalaman" ucap Liam penuh modus.
Flora tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala.
"Ada-ada saja kamu yank..Sana pulang" ucap Flora pura-pura merajuk.
Liam terkekeh saja. Dia cium kening Flora dengan gemas setelahnya dia pun masuk ke apartemennya sendiri. Mereka masih berdiri di depan pintu apartemen masing-masing dengan saling berpandangan. Jangan lupakan senyum manis dari wajah masing-masing.
"Ayo masuk kalau tidak aku akan ikut masuk ke apartemenmu" ancam Liam lagi-lagi penuh modus.
Flora tertawa renyah kemudian masuk ke apartemennya di susul Liam yang melakukan hal yang sama.
"Waktu cepatlah berlalu, aku merindukan istriku.Aku ingin memeluk dan menciumnya seperti sebelumnya" Liam bergumam. Bohong bila dia tidak menginginkan Flora seutuhnya tapi dia tidak ingin egois. Flora juga mempunyai masa depannya sendiri.
Liam tidak ingin egois dan mementingkan diri sendiri. Kebahagiaan Flora lebih penting untuknya walau malam panas pun tak kalah penting bagi Liam.
Liam masuk ke dalam kamarnya. Padahal belum ada lima menit berpisah tapi dia sudah merindukan lagi kekasih hatinya itu.
Kalau dulu sepulang bekerja Flora pasti akan menunggunya di depan pintu utama. Flora akan mengalungkan tangannya dan mencium bibir Liam dengan penuh perasaan. Mengingat itu tiba-tiba saja bagian tubuh Liam terbangun.
"Arrhhh sial...." Liam memukul mukul kepalanya guna menghilangkan pikiran mesoom nya.
Bersambung...