
Hari minggu pagi, Flora saat ini sedang di taman rumahnya. Duduk di kursi besi dengan berpangku tangan. Pandangannya lurus ke depan ke arah bunga-bunga yang bermekaran. Waktu menunjukkan pukul 11 siang. Stefan baru saja bangun dan menghampiri adiknya.
Dengan berwajah bantal Stefan memilih duduk di depan Flora sehingga menghalangi adiknya yang sedang menikmati hamparan bunga yang indah itu.
"Gimana? Apa kepalamu masih sakit?" tanya Stefan.
Flora menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak kak, aku baik-baik saja" jawab Flora dengan tersenyum.
"Lalu kenapa kamu melamun disini?" tanya Stefan yang sebenarnya belum percaya seratus persen dengan jawaban adiknya itu.
"Aku hanya bosan kak" ucap Flora beralasan. Stefan tidak memperpanjang lagi. Dia menganggukkan kepalanya dan masuk ke dalam rumah kembali.
"Kalau aku bilang ?aku bukanlah Anya apa mereka akan percaya? Atau mereka malah mengira aku gila? Bisa saja mereka mengira aku berhalusinasi akibat cedera otak yang aku alami" gumam Flora dalam hati.
Flora menggelengkan kepala, Tidak akan ada yang percaya bila dia mengatakan dirinya bukan Anya. Yang ada dia pasti dianggap gila.
...
Di tempat berbeda, Liam sudah siap-siap datang ke rumah Stefan. Dia tidak akan membuang-buang kesempatan untuk bisa dekat dengan Flora.
Liam mematut dirinya di depan cermin. Dia tersenyum begitu bahagia. Sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Flora. Liam akan menjemput Marvel terlebih dulu, setelah kemarin dia memaksa sahabatnya itu untuk membantu akhirnya dengan banyak pertimbangan akhirnya Marvel mau ikut membantu mendekatkan Liam dengan Flora.
Liam menyambar kunci mobilnya dan segera keluar dari kamarnya. Tak ingin membuang waktu untuk bertemu dengan gadis yang sudah bisa membuat dia bergetar luar biasa.
"Aku kesana sekarang" ucap Liam yang saat ini sedang menghubungi Marvel.
"Iya" terdengar jawaban pasrah dari Marvel.
"Zayn...maafkan aku... Bukannya aku berkhianat tapi tidak pernah aku lihat Alvaro seserius ini" gumam Marvel dalam hati.
Toh nanti keputusan tetap di tangan Flora, entah dia memilih Zayn ataukah Liam.
"Berjuanglah Zayn sebelum ditikung Varo" lanjutnya dalam hati seolah sedang berbicara dengan Zayn.
Marvel hanya bisa geleng-geleng kepala. Bisa-bisanya kedua sahabatnya menyukai gadis yang sama.
Marvel, Zayn dan Liam adalah sahabat baik walau mereka dari sekolah dan angkatan yang berbeda. Awalnya yang berteman adalah orang tua mereka dan berlanjut pada anak-anaknya.
"Aku harap hubungan mereka tetap baik walau salah satu dari mereka yang akhirnya bisa mendapatkan Anya" Marvel berdoa dalam hati.
"Atau mungkin saja tidak dua-duanya" lanjutnya pula.
"Pokoknya aku tidak salah, aku tidak berbuat curang. Hanya membantu salah satunya" Marvel meyakinkan dirinya kalau tindakan yang ambil sudah tepat.
Tak berapa lama kemudian, mobil Liam pun terdengar memasuki halaman rumah Marvel. Tidak ingin membuat Liam menunggu lama, Marvel segera menghampiri sahabatnya itu.
Mata Marvel langsung silau melihat penampilan Liam.
"Ternyata dia bersungguh-sungguh" ucap Marvel dalam hati.
Liam sangat totalitas hingga terlihat begitu tampan kali ini.
"Kenapa?" tanya Liam terheran karena Marvel terus melihat ke arahnya dengan tatapan menilai.
Marvel lalu terkekeh.
"Tidak ada, Ayo berangkat. Nanti keburu Zayn yang datang lebih dulu. Kemarin saja aku dengar mereka sudah pergi berdua" jawab Marvel yang sukses membuat Liam berdebar. Dia tidak ingin kalah dari Zayn. Sejuta cara akan dia lakukan untuk membuat Flora menjadi miliknya.
....
Zayn baru saja menerima hasil sketsa wajah yang dibuat temannya.
"Apa benar ini gadis berusia 16 tahun?" gumam Zayn.
Hasil sketsa yang dibuat memang sama persis dengan Flora di usia 26 tahun. Tentu saja Zayn merasa tidak percaya bila gadis di gambar itu baru berusia 16 tahun.
"Wajahnya teduh dan sorot matanya mirip dengan Anya. Kenapa aku malah melihat sosok Anya di gambar ini?".
Zayn terdiam sejenak. Dia seperti memikirkan sesuatu.
"Apa mungkin orang lupa ingatan bisa berubah seperti ini? Aku yakin sedang tidak berbicara dengan Anya."
"Dia terlalu lemah lembut bila menjadi seorang Anya".
"Apalagi tatapan matanya. Sangat berbeda".
Deg
Deg
Deg
"Apa mungkin jiwanya tertukar?".
Setelah berpikir seperti itu Zayn malah tertawa.
"Aku terlalu banyak menonton film".
"Mana ada yang seperti itu?".
Lagi-lagi Zayn terkekeh dengan asumsinya.
"Dia sedang apa ya?" Zayn senyum-senyum sendiri ketika mengingat Flora. Dia kemudian mengirimkan sketsa tersebut ke nomor Flora.
1 menit, 2 menit. Belum ada balasan dari Flora.
"Apa dia sibuk?".
Ingin sekali Zayn menghampiri Flora ke rumahnya dan mengajaknya jalan-jalan. Tapi dia bingung harus mencari alasan apa lagi.
Bersambung...