Way Back Into Love

Way Back Into Love
Pergi



Alvin terlihat murung dan banyak pikiran saat ini. Dia memikirkan masa depan putranya yang terancam buruk gara-gara insiden ini. Bagaimanapun jejak digital susah dihapus. Walau pelakunya sudah ditemukan rasanya dia belum bisa ikhlas hal ini sampai menimpa putranya. Semua ini terjadi karena Liam dekat dengan Flora, Alvin tidak ingin Liam suatu saat nanti akan kembali terkena masalah.


"Kenapa pa?" tanya Mama Liam. Melihat suaminya murung, dia pun datang menghampiri dan duduk tepat disebelah sang suami.


Alvin menghela nafas beberapa kali. Dia kemudian melihat ke arah putranya yang terbaring di brankar rumah sakit.


“Papa akan memindahkan Liam ke luar negeri” ucap Alvin kemudian.


Anna sang istri nampak terkejut.


“Kenapa pa? Liam baru saja pindah kampus sekarang mau dipindahkan lagi?” Anna tidak setuju dengan keinginan suaminya.


“Papa tidak ingin Liam terkena masalah lagi bila dia masih disini. Papa ingin Liam fokus kuliah. Bukan malah memikirkan tentang cinta yang membuatnya menjadi seperti ini” jawab Alvin tak terbantahkan.


“Tapi Liam begitu mencintai Anya pa. Mama bisa melihat bagaimana anak kita begitu mencintainya. Anya juga gadis yang baik. Anak yang sopan dan tutur katanya halus.” ucap sang istri.


“Liam masih terlalu muda untuk memikirkan cinta Ma, Papa ingin dia fokus dengan pendidikan saja. Kalau memang jodoh nanti juga mereka bertemu lagi. Itupun kalau mereka masih saling menyukai”. Alvin benar-benar tidak menerima penolakan.


Alvin sangat serius dengan niatnya, besoknya dia langsung memboyong istri dan kedua anaknya untuk menetap di luar negeri. Mereka memang mempunyai usaha disana. Liam sendiri sengaja dibuat tertidur agar tidak bisa protes. Mereka sekeluarga mengendarai jet pribadi menuju negara tujuan. Adik Liam yang tidak tau apa-apa juga terpaksa pindah sekolah. Hal yang ribet menurut orang lain menjadi mudah bagi Alvin asal ada uang di dalamnya.


Naina pandangi wajah kakaknya yang masih terlelap. Dia yakin kakaknya akan mengamuk begitu tau apa yang telah Ayah mereka lakukan.


….


Sepulang kuliah, Flora diantar Vivi menjenguk Liam kembali. Dia sudah menenteng paper bag yang isinya adalah kue pie kesukaan Liam. Dengan tersenyum dia masuk ke ruang rawat yang biasanya Liam tempati. Tetapi saat membuka pintu ruangan itu sudah kosong.


“Apa mereka sudah pulang?” gumam Flora.


Vivi pun mengedikkan bahunya tanda tidak tahu.


“Pasien atas nama Liam Alvaro sudah diperbolehkan pulang” jelas resepsionis tersebut. Flora dan Vivi menganggukkan kepalanya kemudian mengucapkan terima kasih.


“Kamu mau nengokin ke rumahnya?” tanya Vivi.


Flora pun menganggukkan kepalanya.


“Kamu tau rumahnya?” tanya Vivi pula.


Lagi Flora menganggukkan kepalanya karena memang dia pernah menjadi nyonya muda disana.


Vivi tersenyum mengejek.


“Coba jelaskan padaku sejak kapan kamu tahu semua tentang Liam?”. Vivi pun ikut memanggil Liam dengan sebutan Liam bukan lagi Alvaro.


Wajah Flora seketika memerah. Dia tidak bisa menutupi perasaanya lagi. Dia memang begitu mencintai Liam walau Liam mencintai Anya bukanlah dirinya.


“Cie…cie…. “ Vivi semakin menggoda Flora yang saat ini sudah salah tingkah.


“Pantas saja sudah tidak lagi menempel dengan Zayn, rupanya sudah digeser oleh Liam” ucapnya pula.


Flora tidak membalas, dia hanya tersenyum dan segera keluar dari rumah sakit. Dia ingin bertemu dengan Liam dan memastikan kalau Liam baik-baik saja.


Vivi cekikikan kemudian menyusul sahabatnya itu.


Bersambung...