Way Back Into Love

Way Back Into Love
Lega



Aulia berjalan memasuki rumahnya bagai orang linglung. Sungguh dia bingung bagaimana caranya menyampaikan kabar ini pada orang tuanya. Tentu saja kabar ini bukan hanya kabar baik tapi juga kabar buruk bagi Ayah dan Ibunya.


"Bagaimana keadaan kakak ipar?" Gino suami dari Aulia bertanya ketika melihat istrinya masuk dengan pikiran kosong. Gino mengira kondisi Emil memburuk melihat keadaan Aulia yang bagai orang linglung ketika memasuki rumah.


Aulia menghela nafas berat.


"Kita bicara di kamar saja , Dad" sahut Aulia lalu mendahului Gino masuk ke dalam rumahnya.


Gino semakin penasaran dengan kondisi kakak iparnya, apalagi Aulia tidak ingin berbicara di luar.


"Jadi bagaimana kondisi Kak Emil?" tanya Gino tidak sabaran. Padahal baru saja dia menutup pintu kamarnya.


Aulia duduk di tepi tempat tidurnya dan menghela nafas berkali-kali. Dia bingung harus bercerita dari mana.


"Kak Emil sudah pergi" Aulia memulai ceritanya.


"Apa????" Gino begitu syok.


"Kak Emil meninggal?" pekik Gino tak bisa menutupi keterkejutannya.


"Sssstttt...." Aulia sampai meminta Gino mengecilkan suaranya.


"Kak Emil pergi bersama wanita itu. Bukan meninggal" jelas Aulia.


"Maksudnya?" Gino benar-benar tidak mengerti dengan apa yang Aulia sampaikan.


Gino loading beberapa saat. Dia sedang mencerna apa yang Aulia sampaikan.


"Jadi Kak Emil sudah sehat dan menikah dengan Melani?" tanya Gino memastikan.


Aulia pun menganggukkan kepalanya.


"Syukurlah kalau begitu. Sudah terlalu lama kakak ipar seperti itu. Sudah sewajarnya dia mendapatkan kebahagiaannya sekarang" Gino kurang lebih paham apa yang Emil rasakan selama ini.


"Tapi Ibu bagaimana, Dad? Ibu pasti akan marah besar kalau tahu Kak Emil kembali pada wanita itu" Itu lah yang paling Aulia khawatirkan. Takut Ibunya marah dan kembali mencelakai Melani serta anaknya. Dulu saja Ibunya tega membuang anak dari Emil.


"Sebenarnya apa yang Ibu cari? Ibu sudah tua. Harta tidak akan dibawa mati. Bukankah Ibu sudah menyayangi Kak Emil seperti anaknya sendiri? Kenapa masih saja menuntut Kak Emil untuk menikah dengan wanita pilihan Ibu? Kalau sekarang Kak Emil sudah pergi bukannya Ibu harusnya senang? Tak ada lagi yang akan menghalangi Ibu untuk mendapatkan warisan. Kita tinggal disini saja aku sebenarnya malu. Kita kan punya rumah sendiri walau tidak besar" Gino yang biasanya lebih banyak diam kini mengeluarkan semua yang ada di dalam hatinya. Dia geram dengan tingkah mertuanya yang masih saja memikirkan tentang harta. Menurut Ibu kalau Emil menikah dengan keponakan Ibu maka Ibu bisa mengatur menantunya itu dan harta milik Ayah Emil tidak akan jatuh sepenuhnya untuk Emil dan istrinya.


"Jangan bicara begitu, Dad. Kalau Ayah dengar bisa jadi Ayah akan marah besar pada Ibu. Bukan hanya Ibu yang akan kena getahnya tapi kita juga karena kita menutupi ini semua selama bertahun-tahun".


"Sampai kapan kamu mau menutupi kejahatan Ibu? Ini sudah kejahatan karena membuang cucu , walau bukan cucu kandungnya. Tapi tetap saja itu adalah kejahatan" balas Gino kesal.


"Aku sudah tidak mau lagi diam. Aku merasa bersalah. Aku ingin hidup tenang. Kasihan Kak Emil. Coba kalau kamu yang dipisahkan dengan anak kita bagaimana perasaanmu?" bentak Gino pula.


Dia kesal dengan istrinya yang hanya diam saja dan tidak berani menentang Ibunya. Andai Gino tahu dari awal dia pasti akan menggagalkan itu semua.


"Puji Tuhan akhirnya mereka bisa berkumpul menjadi keluarga. Aku lega sekarang. Semoga mereka bahagia selalu" lanjut Gino pula.


Bersambung....