Way Back Into Love

Way Back Into Love
Was Was



Dengan menggandeng tangan Flora erat, Liam mendekat pada calon mertuanya.


"Tolong jangan berkata seperti itu lagi tante. Aku dan keluargaku sama sekali tidak berpikiran kesana. Keluarga Flora adalah keluargaku juga." ucap Liam.


Melani terdiam. Dia tidak tahu harus bicara apa. Bukannya dia tidak mau menerima bantuan Liam tapi tetap saja rasanya tidak pantas. Apalagi status Liam dan Flora bukanlah suami dan istri.


"Bukan begitu nak, hanya saja tante tidak mau terlalu merepotkanmu" ucap Melani kemudian.


"Aku tidak repot sama sekali tante. Tolong jangan tolak lagi bantuanku" mohon Liam.


Melani melihat ke arah Emil meminta pertimbangan.


Emil pun juga sama, dia sebenarnya tidak enak terus-terusan meminta bantuan Liam. Hanya saja saat ini hanya keluarga Liam yang bisa membantunya.


"Sayang, Mama benar. Rasanya tidak baik kalau kamu terlalu banyak membantu kami." Flora akhirnya angkat bicara.


Liam tidak suka mendengar perkataan Flora, seolah dirinya hanya orang asing saja padahal mereka pernah menjadi sepasang suami dan istri.


"Disini kita belum menikah sayang" ucap Flora lembut sambil mengelus pipi Liam dengan sayang. Dia tahu kalau Liam sedikit kesal dengan perkataannya.


"Tapi kita akan menikah. Apa bedanya nanti atau sekarang? Kamu tetaplah tanggung jawabku" sahut Liam.


Liam menghela nafas berat. Ingin sekali dia mengikrar janji suci saat ini juga. Sayangnya lagi-lagi dia harus kembali bersabar.


"Tapi om sekarang memang perlu bantuan kamu Liam. Om dan Tante ingin menikah secepatnya. Apa kamu bisa membantu?" ucap Emil.


"Om ingin memiliki keluarga yang utuh." lanjutnya.


Liam menganggukkan kepala.


"Tentu Om, besok pagi Om dan Tante sudah bisa menikah. Sore ini juga aku akan meminta Papa untuk membantu" jawab Liam.


Emil tersenyum lebar. Liam memang bisa diandalkan. Tapi berbeda dengan Emil, Melani justru merasa sungkan. Dia lebih memikirkan bagaimana tanggakan orang tua Liam pada putrinya. Dia saja yang dulu tidak pernah menerima apapun dari Emil tetap tidak direstui. Apalagi putrinya yang sudah diberikan ini dan itu oleh Liam.


"Ya Tuhan...semoga putriku bisa diterima dengan baik di keluarga Liam" gumam Melani dalam hati.


Jujur hal itu lah yang paling Melani takutkan. Apalagi setelah mendengar cerita Emil kalau keluarga Liam status sosialnya jauh di atas keluarga Emil membuat Melani semakin was was. Keluarga Emil saja yang bukan keluarga yang sangat berpengaruh tidak bisa menerima Melani yang bukan dari kalangan berada padahal karir dan pendidikan Melani cukup bagus. Sedangkan Flora sekarang selain besar di panti asuhan, pendidikannya pun belum lulus senior high school. Bagaimana mungkin keluarga Thompson mau menerima keadaan Flora yang seperti itu? Kalaupun diterima, Melani takut kalau Flora tidak bahagia dentan pernikahannya. Melani takut mertuanya memperlakukan Flora tidak baik dan menjadikan Flora budak disana.


Trauma penolakan dari keluarga Emil membuat Melani sudah ketakutan sebelum berperang. Padahal dia belum tahu dan belum mengenal keluarga Thompson seperti apa.


Bersambung....