
Emil dan Aulia sudah berada di ruangan Ayah mereka.
Ayah sudah duduk bersandar di kepala ranjang pasien miliknya. Ayah yang biasa arogan dan tempramental kini matanya sudah berkaca-kaca melihat kedatangan putranya.
"Maafkan Ayah nak" kalimat pertama yang bisa Ayah ucapkan.
"Maafkan Ayah karena lebih mempercayai Ibu tanpa mendengar penjelasanmu. Maafkan Ayah karena sudah ikut mengancammu dulu. Maafkan Ayah" Hanya kata maaf yang bisa Ayah ucapkan walau dia tahu hal itu tidak akan bisa merubah apa yang sudah terjadi.
Melani yang hidup menderita dan kesana kemari mencari putrinya yang hilang. Tidak bisa melaporkan ke kantor polisi karena tidak mempunyai bukti apalagi dia saat itu sedang dalam keadaan sakit. Serta Flora yang harus hidup kekurangan tanpa pendidikan yang memadai di panti asuhan. Belum lagi Emil yang harus koma selama hampir dua puluh tahun.
Ayah belum tahu alasan Emil bunuh diri karena mendengar dari Ibunya kalau Melani dan Flora telah meninggal, yang Ayah tahu kalau Emil bunuh diri karena dipaksa menikah.
"Aku sudah mengikhlaskannya Ayah. Walau sampai kapanpun tentu saja aku tidak akan lupa. Tapi aku belajar menerima itu semua. Aku juga yang salah karena pasrah saja bukannya memberontak. Andai aku memberontak dari awal ini pasti tidak akan terjadi. Ibu tidak akan membuat karangan kalau Ela dan anakku sudah meninggal" ucap Emil.
"Jadi Ibu mengatakan kalau istri dan anakmu sudah meninggal makanya kamu bunuh diri? Bukan karena menolak untuk untuk menikah?" Ayah semakin syok mendengar fakta yang baru saja dia tahu.
Emil menganggukkan kepala.
"Iya, aku tidak akan menuntut atas apa yang sudah terjadi, tapi aku mohon jangan lagi mengusik keluarga kecilku" pinta Emil.
"Ayah tidak mungkin mengusik kebahagiaan anak sendiri. Ayah hanya salah paham. Mengira kalau istrimu bukanlah wanita baik-baik. Ayah tidak ingin kamu sakit hati dan dikhianati". Lanjutnya.
"Aku yang dari awal salah disini. Kami tinggal seatap tanpa status pernikahan karena aku yang memaksanya. Ela adalah wanita baik-baik. Dia tidak pernah berselingkuh. Akulah prianya satu-satunya. Bahkan saat aku pergi meninggalkan dia yang sedang hamil dia pun tidak pernah pindah ke lain hati. Dia tidak menikah dengan pria lain" sahut Emil.
Ayah dalam hati membenarkan apa yang Emil katakan. Walau berusaha tidak ikut campur tapi Ayah tetap mendapat kabar tentang wanita itu. Bagaimana pendidikan, kehidupan keluarga serta karirnya. Tak sedikit Ayah mendengar deretan pria yang mendekati Melani tapi tak satupun yang berhasil.
Dua puluh tahun yang begitu disayangkan. Sesuatu yang harusnya bisa dicegah terpaksa harus terjadi karena sifat egois Ayah sendiri.
Malam ini Ayah bukan hanya meminta maaf pada Emil, tetapi juga pada Melani dan Flora. Ayah berjanji akan melindungi mereka agar Ibu tidak bisa lagi melakukan hal kotor lainnya.
"Maafkan kakek ya nak. Kamu harus tinggal di panti dan tidak mendapatkan kehidupan yang layak. Kakek sangat menyesal" Ayah menggenggam tangan Flora meminta pengampunan pada cucunya.
"Iya kek, dari awal aku tidak membenci kakek. Walau dulu aku sering bertanya-tanya kenapa aku dititipkan di panti asuhan tapi aku begitu bahagia. Aku mendapatkan keluarga disana. Aku mendapatkan pendidikan yang bagus. Aku sudah sangat bahagia akan hal itu. Kakek jangan terus merasa bersalah ya" Flora berkata dengan lembut dan teduh. Mentramkan hati Ayah yang diliputi kesedihan dan penyesalan.
Bersambung