Way Back Into Love

Way Back Into Love
Cepatlah Lulus



Dengan merangkul kekasih hatinya, Liam berjalan menyusuri koridor perusahaan menuju ruangannya. Tentu saja apa yang Marvel khawatirkan benar terjadi. Tak sedikit yang membicarakan boss mereka yang menggandeng wanita baru. Apalagi kabar kalau Anya resign dari perusahaan sudah tersebar luas.


"Ternyata playboy juga atasan kita, sepertinya ada kesempatan untuk di dekati" ucap salah satu staff dengan rekannya.


"Dimana-mana boss kan memang begitu. Tak usah bermain hati yang penting kita dapat uangnya" sahut yang lain.


Kesya salah satu staff tersebut sudah merancang ide untuk menjerat hati Liam.


"Tapi yang tadi sepertinya masih muda" ucap salah satu staff. Sebut saja namanya Marry.


"Kita juga masih muda, jangan pesimis" balas Kesya.


Para gadis itu sudah membayangkan kalau mereka akan berhasil menjerat hati Liam. Apalagi dari segi penampilan mereka lebih up to date dari Flora.


Andai saja mereka tahu hal apa yang sudah Liam lalui untuk bisa bersama Flora, mereka tidak akan pernah berani untuk merencanakan ini semua.


....


Flora duduk di sofa sedangkan Liam kembali sibuk dengan pekerjaannya.


"Kamu tidak apa-apa kan aku tinggal bekerja?" tanya Liam tanpa mengalihkan pandangannya dari Laptop di depannya.


"Tidak apa-apa sayang" balas Flora.


"Kenapa tidak bilang mau kesini?" tanya Liam pula.


"Kebetulan tadi aku pergi ke toko buku, jadi sekalian mampir" jawab Flora.


"Ada yang mau aku sampaikan juga" lanjutnya.


Liam menghentikan sejenak pekerjaannya dan menoleh ke arah kekasih hatinya itu.


"Aku dan Mama akan pindah ke rumah yang Mama beli. Minggu depan rumahnya sudah bisa kami tempati" jelas Flora.


Liam benar-benar menghentikan pekerjaannya dan menghampiri Flora.


Flora menggelengkan kepalanya.


"Tidak sayang, bukan begitu. Aku dan Mama hanya merasa tidak pantas untuk tinggal disana. Bagaimana tanggapan orang tuamu nanti jika tahu aku dan Mama tinggal disana? Kamu tahu sendiri Papa sempat tidak menyukaiku bukan?" jawab Flora sejujurnya.


"Papa tidak pernah tidak menyukaimu sayang. Papa hanya salah paham saat itu. Papa hanya tidak ingin aku terlibat scandal yang merugikan kita berdua. Bukankah kita waktu itu menikah tanpa hambatan?" ucap Liam menimpali.


"Iya aku tahu itu, Bahkan saat tahu statusku yang yatim piatu pun Papa tetap merestui kita. Tapi sekarang aku tidak ingin Papa salah paham padaku. Dengan aku tidak tinggal di apartemen bukan berarti kita jadi jarang bertemu. Kita masih bisa sering bertemu karena Mama mencari rumah di dekat sini. Kantor Mama ada di Jalan XX" jawab Flora.


Liam sebenarnya keberatan, tapi dia juga tidak bisa memaksa mengingat status mereka yang belum menjadi sepasang suami istri.


"Baiklah. Tapi saat istirahat kamu kesini ya. Bawakan makanan untukku. Kita makan siang bersama" ucap Liam dengan tatapan memohon.


Flora menganggukkan kepalanya tanda setuju.


Liam senang sekali, dia membawa Flora ke dalam pelukannya lalu menghadiahi ciuman bertubi di puncak kepalanya.


"Aku mencintaimu, cepatlah lulus agar kita bisa segera menikah".


Flora hanya terkekeh saja.


"Sabar, hanya setahun saja" balas Flora.


"Setahun itu lama sayang, Aku sudah merindukan malam-malam panas kita" keluh Liam.


"Ih...mesum kamu!" ucap Flora sambil memukul dada bidang Liam dengan gemas.


"Aku tidak suka munafik sayang, aku kan bicara apa adanya".


Flora hanya terkekeh saja. Kekasih hatinya ternyata bisa mesum juga.


Bersambung...