
Marvel masih menyelidi kasus yang menimpa Flora dulu. Kasus yang membuat Pierry hampir saja kehilangan kontrak dengan Shopping Center. Hingga detik ini mereka belum bisa menemukan dalang sesungguhnya dari kasus tersebut.
Saat itu juga Anya dan Zayn datang untuk mengajukab surat pengunduran diri. Anya sudah mantap untuk bekerja di perusahaan keluarga Zayn. Hubungan Anya dan Zayn pun semakin dekat.
"Kamu jadi resign?" tanya Marvel pada Anya yang saat ini duduk berhadapan di depannya.
"Iya, aku tidak mau tertekan karena sejujurnya aku tidak memahami tentang dunia ini. Aku akan belajar dulu di tempat Zayn" jawab Anya.
Marvel menganggukkan kepalanya. Jelas saja Anya tidak mengerti karena yang selama ini di dalam tubuhnya adalah Flora.
"Ya sudah, aku juga tidak bisa menahanmu. Aku harap kamu sungguh-sungguh disana. Jangan seperti Stefan. Malas dan manjamu harus dikurangi" pesan Marvel.
"Jangan bicara seperti itu. Anya sudah banyak berubah" Zayn menegur sahabatnya.
Marvel terkekeh. Senang sekali akhirnya cinta mereka saling berbalas sekarang.
Setelah berbincang-bincang hampir satu jam lamanya, Anya dan Zayn pun undur diri. Pengunduran diri Anya sudah Marvel yang mengurusnya.
Marvel pun mengantar kedua sahabatnya itu keluar dari ruangannya. Tidak ada yang berani melihat ke arah Anya karena mengira Anya adalah kekasih dari Liam. Apalagi Valeria dan Wanda, dia takut sekali kalau sampai di pecat karena pernah menjadi orang yang cukup keterlaluan pada Flora.
Saat keluar dari ruangan divisi, bertepatan dengan Liam yang baru saja tiba ditemani Samuel.
Marvel dan Zayn menyapa sahabat baiknya itu.
Liam hanya menganggukkan kepala dan tersenyum tipis lalu berjalan keruangannya tanpa menyapa. Dia sudah terlambat untuk meeting.
Valeria dan Wanda saling berpandangan. Baru beberapa waktu lalu boss mereka terlihat berpelukan dengan Anya tapi sekarang seolah tak saling kenal.
"Vel... Apa Al masih menyukai Anya?" tanya Zayn.
Marvel tertawa kecil.
"Alvaro tidak pernah menyukai Anya" jawab Marvel santai dan tentu itu membuat Zayn kebingungan. Liam sendiri yang mengajaknya untuk bersaing sehat beberapa tahun lalu.
"Yang tadi itu pernah menyukaiku?" Anya bertanya.
"Tidak" jawab Marvel cepat.
"Ayo, aku antar kalian ke depan" ucap Marvel kemudian.
Anya dan Zayn dengan kebingungannya mengikuti Marvel yang sudah berjalan di depan mereka.
Zayn pikirannya berkelana kesana kemari. Dia melihat jelas bagaimana tatapan tidak peduli Liam pada Anya. Bukan seperti Liam yang dia lihat beberapa tahun lalu.
Menyadari Zayn yang kebingungan membuat Marvel mendekat dan menepuk pundaknya.
"Percayalah padaku, Al tidak pernah menyukai Anya." ucap Marvel menenangkan.
"Memangnya aku dulu sempat dekat dengan dia?" Anya masih saja penasaran.
"Tidak, bukan kamu yang Alvaro sukai" jawab Marvel pula.
Anya pun menganggukkan kepala. Mendengar jawaban tegas Marvel sepertinya memang benar kalau Liam Alvaro itu tidak menyukainya.
"Tapi kenapa Zayn seperti tidak percaya?" gumam Anya dalam hati.
Saat sudah sampai di Loby, bertepatan dengan Flora yang baru saja turun dari taxi nya. Dia sengaja datang menemui Liam untuk membicarakan tentang apartemen. Flora dan Mamanya sudah sepakat untuk tinggal di rumah mereka sendiri.
Marvel yang melihat kedatangan Flora langsung menghampiri.
"Kamu mau ketemu Alvaro?" tanya Marvel.
"Iya kak. Liamnya ada?" tanya Flora.
"Selamat siang" dia juga menyapa ramah pada Anya dan Zayn.
Zayn telihat mengingat-ingat dimana dia pernah melihat Flora.
"Al ada, tapi sepertinya ada meeting. Kamu tunggu di ruanganku saja bagaimana?" saran Marvel.
"Iya boleh kak, terima kasih ya" jawab Flora kemudian.
Marvel menganggukkan kepala.
"Kalian hati-hati ya" ucap Marvel pada Anya dan Zayn.
Anya dan Zayn menganggukkan kepala dan berjalan menuju mobilnya. Saat membuka pintu Zayn baru ingat dimana pernah bertemu dengan Flora.
"Bukankah dia yang kata Anya adalah Flora anatacia temannya di rumah sakit?". Gumam Zayn dalam hati.
Dia akhirnya tahu dimana pernah bertemu dengan Flora.
Bersambung....