Way Back Into Love

Way Back Into Love
Pindah



"Tidak kak...Kakak tidak boleh seperti itu" tolak Aulia dengan menggelengkan kepala.


"Aku punya kebahagiaan ku sendiri. Aku juga ingin bahagia" balas Emil.


"Jangan kak... Kalau Kakak pergi siapa yang mengurus perusahaan?" Aulia kembali menggelengkan kepala. Air mata bahkan sudah mengenang di pelupuk matanya.


"Dua puluh tahun aku koma, bukankah selama itu juga kalian sudah mendapatkan penggantiku? Ijinkan Aku bahagia sekali saja" kini giliran Emil yang memohon.


Aulia terdiam. Matanya semakin berkaca-kaca. Dia tidak tahu harus berkata apa. Dia melihat ke arah Flora. Walau keseluruhan lebih mirip dengan Melani tapi mata nya yang berwarna coklat serta rambutnya yang berwarna coklat menandakan kalau dia memang darah daging Emil.


Aulia juga melihat ke arah Liam.


Deg.


"Bukankah itu anak pertama keluarga Thompson?" gumam Aulia dalam hati.


"Aku hanya berpamitan saja, entah kalian menerimanya atau tidak aku sudah tidak peduli. Aku hanya ingin kebahagiaan ku sendiri" ucapan Emil kembali menyadarkan Aulia dari lamunannya.


Aulia tidak bisa berkata apa-apa. Dia paham apa yang kakaknya rasakan tapu dia juga tidak berani pada orang tuanya.


....


Emil, Flora dan Melani kini sudah tinggal di rumah mereka sendiri. Rumah yang hanya memiliki 3 kamar tidur dengan kamar mandi di masing-masing kamar , 1 dapur , 1 ruang mencuci, ruang tengah dan ruang tamu . Rumah yang Melani beli atas hasil kerja kerasnya selama bekerja di luar negeri.


"Kamu suka sayang?" tanya Melani pada putrinya.


"Suka ma" jawab Flora dengan tersenyum. Saat ini hanya mereka bertiga yang berada di rumah tersebut. Tadi selesai mengurus kepulangan Emil, Liam tidak bisa mengantar pulang karena ada pekerjaan yang harus dia selesaikan.


"Iya Ma, sekarang lebih baik Papa dan Mama istirahat. Nanti saat makan malam aku panggil" sahut Flora lalu membantu Melani menuntun Emil menuju kamar.


Rumah ini sudah Melani beli sekitar seminggu yang lalu. Rumah dengan dua lantai dan halaman yang tidak begitu luas. Peralatannya pun belum semuanya terisi sepenuhnya tapi sudah cukup untuk di tempati. Melani menyewa orang untuk membersihkan rumah sebelum akhirnya rumah ini akhirnya mereka bisa tempati.


"Maafkan Aku ya sayang, harusnya Aku yang menjadi tulang punggung keluarga" sesal Emil yang saat ini sudah sama-sama berbaring di kamar mereka. Melani yang awalnya tidur terlentang langsung merubah posisi agar menghadap suaminya.


"Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri. Kita tidak bisa merubah masa lalu. Yang bisa kita lakukan adalah merubah masa depan. Setelah sembuh ayo kita berjuang bersama" ucap Melani sambil mengelus-elus pipi suaminya.


Emil terharu, dia memang tidak salah memilih istri. Melani adalah wanita yang baik dan beraura positif.


Emil dekatkan wajahnya dan mencium kening Melani cukup lama.


"Terima kasih karena kamu menjaga hatimu. Aku tidak bisa membayangkan saat aku koma kamu telah memiliki tambatan hati lain" ucap Emil.


Melani tersenyum.


"Tak sedikit memang yang mengatakan siap menjadi suamiku." balas Melani. Tentu saja Emil langsung tersenyum kecut mendengarnya. Begitu saja dia sudah cemburu.


"Tapi yang ada dalam pikiran ku bukan lagi tentang cinta, aku hanya ingin menemukan putriku yang dibuang oleh keluargamu" Melani seketika terisak ketika mengingat bagaimana dia kesana kemari mencari putrinya yang dengab kejam dibuang oleh keluarga Emil.


Emil ikut bersedih. Tidak bisa dia bayangkan bagaimana sakitnya hati istrinya kala itu. Dia peluk tubuh istrinya dan mereka sama-sama menangis mengeluarkan isi hati masing-masing.


Bersambung....