Way Back Into Love

Way Back Into Love
Tatapan Penuh Cinta



Flora dan Ibu Panti kemudian mencari data tentang Flora di ruang berkas. Dan setelah mencari hampir satu jam memang tidak ada data tentang anak bernama Flora.


“Mungkin aku salah mendengar” ucap Flora pada Ibu panti.


“Nanti kalau Shanty pulang akan Ibu tanyakan apakah dia mengenal Flora ya” ucap Meli lembut.


“Terima kasih ya bu” ucap Flora. Tak lama setelah itu, dia dan Zayn pun pamit dari Panti Asuhan. Kepala Flora rasanya pening memikirkan ini semua. Bila dirinya tidak ada lalu kemana perginya Anya yang asli? Kenapa dia bisa masuk ke tubuh Anya, sedangkan Flora sendiri tidak ada.


“Apa yang kamu pikirkan?” tanya Zayn yang masih penuh tanda tanya di kepalanya. Dia tidak menemukan jawaban atas pertanyaannya. Melihat Flora begitu terharu ketika bertemu dengan pengurus panti membuat Zayn bertanya-tanya.


“Tidak ada kak, aku hanya lapar” jawab Flora berbohong. Zayn melihat jam di pergelangan tangannya yang memang sudah menunjukkan pukul 3 sore.


“Kita makan dulu ya” tanpa mendengar jawaban Flora, Zayn langsung membanting setir untuk mencari restoran yang menurutnya paling cocok dengan selera Flora. Eating clean is a must bagi Flora.


Tak perlu waktu lama mereka pun tiba di restoran. Zayn yang memang sudah lapar langsung menyantap makanannya dengan lahap ketika makanan itu tiba. Melihat cara makan Zayn kembali mengingatkan Flora pada Liam.


“Kenapa aku belum bisa melupakan kamu Liam?” ucap Flora dalam hati. Hari ini banyak kenangan di masa lalu yang membuat dia sedih. Mengingat kenangan Liam dan bertemu kembali dengan pengurus panti. Flora sama sekali tidak berselera makan karena itu.


“Anya, kamu bisa kok cerita sama aku. Kamu kenapa?” Zayn menyelesaikan acara makannya dan menatap lekat pada Flora yang terlihat mengaduk-aduk makanannya.


Flora menoleh ke arah Zayn.


“Aku hanya ingin bertemu dengan Flora, Aku ingin tau keadaanya.” jawab Flora tersenyum.


“Siapa Flora?” Zayn masih belum puas dengan jawaban Flora. 


“Flora itu adalah gadis yang aku temui di rumah sakit. Kami sama-sama pasien disana dan dia berkata kalau dia tinggal di panti. Dia juga menceritakan siapa teman-temannya. Makanya aku ingin bertemu” Flora benar-benar memutar otak agar Zayn mempercayai ceritanya.


“Begini saja, habis ini aku akan antar kamu bertemu temanku yang ahli melukis. Kamu bisa memberikan bagaimana ciri-ciri Flora pada temanku itu. Setelahnya kita bisa mencari temanmu itu di pusat informasi”jelas Zayn memberi saran.


Flora menganggukkan kepalanya.


“Terima kasih ya”.Wajah Flora sudah kembali ceria. Zayn sangat yakin kalau orang itu sangat berarti bagi Flora hingga membuat Flora sampai berbuat seperti ini.


Sesuai janjinya setelah makan, Zayn pun mengajak Flora untuk menemui teman Zayn yang ahli melukis itu. Disana Flora mulai memberikan ciri-ciri bagaimana dirinya dulu. Untung saja teman Zayn tersebut ahli sketsa yang pintar. Dia bisa menggambar sama persis seperti apa yang Flora inginkan.


Flora hampir menangis melihat wajahnya yang dulu.


“Ini Flora temanmu?” tanya Zayn pada Flora. Flora pun menganggukkan kepalanya.


“Gambarnya akan aku kirim besok untuk membuat menjadi seperti nyata” ucap teman Zayn tersebut.


Zayn dan Flora pun menganggukkan kepalanya.


“Kak Zayn… terima kasih ya. Aku sudah merepotkan kakak” ucap Flora merasa sungkan. Zayn menggelengkan wajahnya dengan cepat.


“Jangan berkata seperti itu. Ini sama sekali tidak merepotkan. Malah aku yang harusnya berterima kasih karena kamu sudah membantu aku mengerjakan tugas”.


Karena waktu sudah hampir malam, Zayn pun mengantar Flora pulang ke rumahnya. Di depan rumah Flora sudah berjejer beraneka ragam jenis dan merek mobil mewah yang sepertinya milik teman-teman Stefan.


“Terima kasih ya kak, kakak mau mampir?” tanya Flora pula.


Zayn memperhatikan satu persatu mobil-mobil itu. Dia tidak melihat mobil Mario disana.


“Aku langsung pulang aja ya, titip salam untuk Tante dan Om” putus Zayn kemudian. 


Flora menganggukkan kepalanya. 


Dia pun turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam rumah. Tidak ada siapa-siapa di ruang tamu, sepertinya Stefan mengajak temannya di halaman belakang.


“Mama…aku pulang” ucap Flora lalu seperti biasa mencium punggung tangan Ibunya.


“Gimana kencan hari ini, seru?” ucap Rina menggoda putrinya.


Flora hanya terkekeh.


“Aku hanya berteman Ma dengan Kak Zayn, Mama jangan berpikiran macam-macam” ucap Flora menimpali.


Rina hanya tertawa.


“Ya sudah, sana mandi dulu”.


Flora pun pamit ke kamarnya untuk mandi dan beristirahat sejenak. Selesai mandi, Flora merebahkan diri di kamarnya. Suara tawa Stefan dan teman-temannya terdengar hingga ke kamar Flora.


“Ya ampun…” Flora hanya bisa geleng-geleng kepala.


Setelah dirasa dirinya cukup beristirahat. Flora pun turun ke dapur untuk mengambil air minum. Disana asisten rumah tangganya terlihat kesusahan membawa minuman.


“Biar saya bantu, Bi” ucap Flora sambil membawakan satu nampan yang tadi di pegang asisten rumah tangganya. Flora lalu berjalan menuju halaman belakang untuk membawakan minuman pesanan dari Kakaknya itu. Ternyata teman Stefan jumlahnya lebih dari 10 orang. Pantas saja halaman rumah mereka full dengan mobil-mobil mewah.


Dengan tersenyum manis Flora menghampiri Stefan yang seperti biasa tingkahnya seperti boss itu.


“Ini adikku datang” pekik Stefan saat melihat kedatangan Flora. Semua teman Stefan pun melihat ke arah Flora. Ada beberapa yang Flora kenali karena memang mereka sering datang berkunjung. Tapi ada satu yang menarik perhatian Flora. Pemuda yang sangat Flora kenali. 


Pemuda itu pun tatapannya tidak bisa lepas dari Flora barang sedetikpun. Dada pria itu rasanya berdebar tidak karuan melihat kedatangan Flora. Flora pun demikian. Dia dan pria itu saling bersitatap. 


Air mata Flora tiba-tiba terjatuh. Dia bisa melihat tatapan penuh puja pemuda itu pada Anya. Tatapan yang dulu pemuda itu hanya berikan untuk Flora.


“Liam….” Flora bergumam dalam hati.


Saking terkejutnya Flora melihat Liam, dia sampai menjatuhkan minuman yang dia bawa hingga gelas tersebut pecah seketika.


“Anya…” pekik Stefan khawatir.


Air mata Flora semakin tidak bisa dibendung, dia tidak menghiraukan pecahan gelas yang tadi dia jatuhkan. Flora memilih pergi dari sana. Dia berlari secepat yang dia bisa.


Liam yang melihat kepergian Flora hanya bisa membeku di tempatnya.


“Anya…” Stefan berusaha mengejar adiknya. Tapi Flora sudah dengan cepat masuk ke kamar dan menguncinya dari dalam.


“Anya….” Stefan memanggil adiknya sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar tersebut.


“Kenapa aku harus bertemu dia lagi?”


“Ternyata seperti ini rasa sakitnya, melihat dia menatap penuh cinta pada wanita lain”.


“Tatapan mata itu dulu hanya tertuju padaku,tapi kini tatapan itu dia tujukan pada Anya”


“Sedalam itu rasa cinta Liam pada Anya, pantas saja dia bisa dengan begitu mudah melupakan aku”


Flora menangis tersedu-sedu. Hatinya begitu sakit melihat dengan kepalanya sendiri , bagaimana Liam memandang dengan tatapan penuh cinta pada wanita lain.


Di luar kamar, Stefan masih terus mengetuk pintu adiknya.


“Kenapa nak?” tanya Rina yang tidak tau apa yang terjadi. 


“Kenapa kamu mengetuk pintu kamar adikmu seperti itu?” tanya Rina pula.


“Aku juga tidak tau ma, tiba-tiba Anya menjatuhkan gelas dan pergi berlari. Aku tidak tau kenapa” jawab Stefan apa adanya.


Rina pun mengangguk paham.


“Biarkan dia tenang dulu, nanti pasti Anya akan cerita. Kamu temani teman-temanmu saja lagi. Mereka pasti tidak nyaman” ucap Rina.


Stefan menganggukkan kepala. Dia lalu kembali menemui teman-temannya.


Liam yang paling pertama menghampiri.


“Kenapa adikmu?” tanya Liam khawatir.


Stefan menggelengkan kepalanya.


“Aku juga tidak tau” jawab Stefan.


“Apa adikmu ada terluka?” Liam tidak bisa menutupi rasa khawatirnya.


“Aku rasa tidak” jawab Stefan.


“Teman-teman, aku rasa acara tidak bisa kita lanjutkan. Adikku baru saja sembuh dari koma, aku takut terjadi sesuatu padanya. Tidak biasanya dia seperti ini” ucap Stefan mengusir teman-temannya secara halus.


Liam yang tidak mengetahui hal ini pun begitu terkejut.


“Lalu bagaimana keadaan adikmu? Kenapa adikmu bisa koma?”tanya Liam.


“Dia kecelakaan dan sekarang lupa ingatan” jawab Stefan.


Melihat raut wajah khawatir dari Liam membuat Stefan bertanya-tanya.


“Kamu pernah bertemu dengan adikku?” tanya Stefan. Mengingat mereka bukanlah dari SMA maupun kampus yang sama.


“Ini pertama kalinya aku melihat adikmu” jawab Liam.


Stefan pun menganggukkan kepalanya.


“Sekali lagi aku mohon maaf karena acara kita harus berakhir seperti ini” ucap Stefan meminta pengertian teman-temannya.


….


“Aku lihat kamu begitu khawatir dengan Anya” ucap Marvel salah satu teman Stefan pada Liam. Saat ini mereka berada di dalam mobil yang sama menuju rumah makan untuk makan malam.


“Awalnya aku tidak percaya dengan yang namanya cinta pertama, tapi begitu melihat dia aku tidak bisa berpaling darinya. Aku yakin sudah jatuh cinta pada gadis itu” ucap Liam terdengar serius.


“Jangan bercanda kamu” Marvel seolah tidak percaya.


“Aku sungguh-sungguh. Apa kamu pernah seperti ini sebelumnya?” tanya Liam pula.


Marvel pun menggelengkan kepalanya.


“Bantu aku dekat dengan gadis itu, please” Liam memohon pada Marvel karena di antara mereka Marvel lah yang paling dekat dengan Stefan.


“Tapi Anya menyukai Zayn, begitu juga sebaliknya. Sudahlah cari yang lain saja”


Liam menggelengkan kepalanya.


“Masih ada kesempatan, kalau kamu tidak bisa membantu aku akan melakukannya sendiri dengan caraku”.


Tak pernah Marvel melihat Liam seperti ini tapi dia tidak mungkin juga membiarkan begitu saja. Zayn dan Liam sama-sama temannya.


“Kenapa harus Anya, Al? Bukankah banyak gadis-gadis lain yang mendekatimu?”. 


Marvel masih berusaha menggoyahkan hati Liam agar mau mengurungkan niatnya mendekati Anya. Bagaimanapun juga hubungan pertemanan mereka akan rusak bila mereka memperebutkan gadis yang sama.


“Al…Al… sekalinya jatuh cinta kenapa harus dengan gebetan teman sendiri sih?” Marvel menggerutu dalam hati. Tapi Marvel Akui Anya memang cantik. Tak heran kalau Liam Alvaro bisa jatuh cinta pada pandangan pertama.


“Anya lupa ingatan, dulu dia begitu menyukai Zayn. Kemana-mana dia selalu mengikuti Zayn. Tapi setelah kecelakaan itu Anya berubah. Dia tidak lagi mengejar-ngejar Zayn tapi sebaliknya Zayn lah yang mengejar-ngejar Anya. Sekarang mungkin kamu bisa mendekati Anya. Tapi kalau ingatannya sudah kembali, bisa saja dia akan kembali pada Zayn” jelas Marvel panjang lebar.


“Jadi kamu pikir aku lebih buruk dari Zayn? Kalau gadis itu sudah jatuh cinta padaku, dia tidak akan pernah berpaling pada pria manapun” Liam berbicara dengan penuh percaya diri.


Bersambung...