
Pagi harinya, Liam mengajak Flora berjalan-jalan di taman rumah sakit.
Stefan yang kebetulan lewat begitu terkejut melihat siapa yang saat ini sedang bersama dengan Liam. Dia adalah gadis yang langsung membuat Stefan jatuh cinta pandangan pertama hanya dengan melihat fotonya saja.
"Ckckck...jadi ini alasan kamu menghilang? Karena kamu mempunyai wanita baru?" ucap Stefan dengan senyum mengejek.
Liam tidak menjawab karena menjelaskan pun akan percuma. Mana ada yang percaya dengan cerita yang dia katakan?.
Stefan merasa marah karena pertanyaannya tidak direspon sama sekali.
"Dulu pria ini mengejar-ngejar adikku sampai pindah kampus, tapi begitu adikku sudah membuka perasaannya dia menghilang begitu saja. Apa kamu mau bernasib sama seperti adikku?" Stefan sengaja memanas-manasi Flora agar berpikir ulang tentang hubungannya dengan Liam.
"Kamu juga harus tahu kalau mereka juga terlibat scandal. Kamu harus hati-hati dengan dia" ucapnya pula.
Liam ingin sekali tertawa tapi dia menghargai Stefan karena selama ini dia sudah menjadi kakak yang baik untuk Flora.
Flora tersenyum pada Stefan, dia tidak tahu apa maksud Stefan mengatakan ini. Mungkin karena tidak rela Liam tiba-tiba berpaling dari Anya.
"Terima kasih sudah mengingatkan, tapi aku tahu bagaimana sifat Liam" jawab Flora tidak memperlihatkan emosi sama sekali. Senyumnya manis dan juga teduh. Tentu saja senyum itu mampu meneduhkan hati Stefan.
"Sayang ayo kita ke kamar, sudah terlalu lama kamu berjalan-jalan" ajak Liam yang seolah tahu arti tatapan Stefan.
"Kami permisi" ucap Liam sambil membungkuk lalu melewati Stefan begitu saja. Padahal Stefan masih ingin berbicara panjang kali lebar.
....
Berita tentang Anya yang masuk rumah sakit juga di dengar oleh Zayn yang kebetulan sudah kembali dari luar negeri.
Tanpa membuang waktu, Zayn pun langsung datang menjenguk karena dia begitu merindukan adik stefan tersebut. Saat memasuki ruang rawat inap, tanpa sengaja dia melihat Liam yang sedang mendorong kursi roda Flora.
"Al dengan siapa? Kenapa tidak asing?" batin Zayn. Tak mau ambil pusing, Zayn pun langsung menuju ruang rawat Anya.
Begitu membuka pintu ruang rawat inap Anya, bertepatan dengan Anya yang memang sedang melihatbke arah pintu masuk. Tatapan mereka bertemu. Anya begitu bahagia karena Zayn datang menjenguknya.
Zayn mendekat dan menyerahkan buket bunga pada Anya. Bukannya menerima buket bunga itu dia malah memeluk Zayn erat.
"Aku senang sekali kamu mau datang menjenguk."
Anya malah menangis sesenggukan saking bahagianya.
"Terima kasih sudah datang Zayn...Terima kasih...".
Bukan hanya Zayn yang kebingungan tetapi jaga Rina. Anaknya yang bucin pada Zayn kini sudah kembali.
Anya melepas pelukannya kemudian menerima buket bunga yang Zayn bawa. Dia hirup aroma harum dari bunga tersebut. Senyum sudah melengkung dibibirnya. Dia begitu bahagia bisa melihat Zayn yang begitu dia cintai.
Zayn menarik kursi dan duduk tepat disebelah Anya.
"Tadi aku ketemu Al, apa dia sempat kesini?" tanya Zayn.
"Al? Siapa Al?" tanya Anya kebingungan.
"Liam Alvaro, siapa lagi?" jawab Zayn.
"Aku tidak tahu siapa yang kamu maksud" ucap Anya pula.
Rina yang mendengar itu langsung menjelaskan pada Zayn.
"Anya tidak mengingat apapun tentang kenangan pasca kecelakaan. Ingatannya hanya sebatas sebelum kecelakaan saja" jelas Rina.
Zayn begitu terkejut, pantas saja tadi Anya memeluknya. Itulah yang ada dalam pikiran Zayn.
"Haruskah aku bersyukur akan hal ini?" Gumamnya dalam hati.
Bersambung...