
Keesokan harinya Marvel langsung menghadap direktur untuk menyerahkan bukti kalau Flora tidak bersalah.
“Siapa kira-kira pelakunya dan apa motifnya?” tanya Direktur pada Marvel.
“Masih saya selidiki pak, pelakunya paham tentang IT jadi sedikit susah untuk menyelidikinya” jawab Marvel.
“Semoga saja bukan kompetitor yang ingin menjatuhkan perusahaan. Bisa saja kan?” ucap Direktur menimpali.
Marvel menganggukkan kepalanya. Dia malah tidak kepikiran kesana. Bisa saja salah satu anak buahnya bekerja sama dengan kompetitor.
“Sampaikan permintaan maaf saya pada gadis itu. Besok dia sudah bisa kembali bekerja. Dan kamu boleh tidak ikut penyambutan direktur yang baru hari ini. Sebagai gantinya kamu ke Shopping Center, sampaikan permintaan maaf sekaligus membawa beberapa cendera mata” ucap direktur pula.
“Baik terima kasih pak. Saya akan kesana sekarang” ucap Marvel patuh.
….
Selesai dengan semua urusannya di Shopping Center, Marvel mampir ke salah satu toko kue untuk membeli cake kesukaan Flora. Dia pernah mendengar dari Stefan kalau Flora sangat menyukai carrot cake.
“Semoga saja Anya tidak kecewa atas kejadian ini” gumam Marvel.
“Tapi aku salut karena pendiriannya kuat, dia sama sekali tidak takut saat disudutkan” lanjutnya.
“Pantas saja Zayn belum bisa move on padahal sudah beberapa kali dia mencoba dekat dengan gadis lain” Marvel tertawa ketika mengingat bagaimana Zayn menceritakan dirinya yang gagal move on. Ketika mengingat Zayn maka Marvel akan mengingat Liam.
“Al bagaimana ya kabarnya? Om Alvian benar-benar menutup akses untuk bisa berkomunikasi dengan Alvaro”.
Marvel menghela nafas berat lalu segera mengendarai mobilnya menuju rumah keluarga Stefan.
10 menit kemudian dia sudah sampai disana. Satpam yang sudah mengenal Marvel dengan baik langsung membukakan pintu gerbang untuk teman anak majikannya itu.
Stefan yang kebetulan ada di depan pintu utama langsung menghampiri Marvel yang baru saja memarkir kendaraanya. Stefan bahkan langsung menyilangkan tangan di depan dada dengan tatapan yang tidak bisa dibaca.
“Ngapain kamu kesini? Aku sudah bilang untuk menjaga adikku tapi kenapa malah kamu yang tidak mempercayainya?” Stefan memang cepat sekali tersulut emosi tapi aslinya dia sebenarnya baik.
“Aku bukan tidak percaya, hanya sedang mengumpulkan bukti agar bisa membersihkan nama baik Anya” terang Marvel.
“Alasan saja” Stefan masih terlihat jengkel.
“Dimana Anya?” tanya Marvel mengalihkan pembicaraan.
“Dia di taman, tapi aku tidak akan membiarkanmu berbicara berdua saja dengannya” jawab Stefan. Marvel hanya terkekeh.
“Ya sudah ayo kita bersama-sama menemui Anya” ajak Marvel pula.
“Om dan tante kemana?” tanya Marvel karena kedua orang tua Stefan tidak ada terlihat.
“Papa kerja seperti biasa. Ini masih jam kerja kalau kamu lupa” jawab Stefan ketus.
“Kalau Mama biasalah arisan dan kumpul-kumpul dengan temannya”.
Marvel menganggukkan kepala. Mereka mengobrol hingga tanpa sadar mereka sampai di taman. Terlihat Flora sedang menyiram beberapa bunga. Dia mengenakan dress berwarna kuning gading yang membalut tubuh langsingnya. Rambutnya dijepit sebagian dengan pita besar berwarna putih. Sungguh penampilannya sangat mempesona walau tanpa riasan sama sekali. Flora tersenyum begitu melihat kedatangan Marvel dan kakaknya.
Deg
Deg
Deg.
Marvel merasa melihat sosok orang lain di diri Flora. Dia yang memang sering dijuluki anak indigo dan bisa melihat sesuatu di luar batas normal. Tapi beberapa tahun terkahir dia sudah sedikit demi sedikit kehilangan kemampuan tersebut. Tapi sekarang dia bisa melihat lagi sosok berbeda di diri Flora.
“Siapa dia?” gumam Marvel dalam hati.
Bersambung...