
“Al… bisa kita bicara?” Marvel sengaja menunggu Liam di depan mobilnya. Ini sudah hari ketiga mereka berada di perusahaan yang sama tapi terasa begitu asing satu sama lain.
Samuel yang berada di belakang Liam memperhatikan lawan bicara boss nya dari atas sampai ke bawah.
“Sudah lama aku mencari kabarmu, Bagaimana keadaanmu disana? Aku merindukan kebersamaan kita” ujar Marvel pula.
“Bukannya kamu senang kalau aku tidak ada? Kamu bisa semakin dekat dengan dia kan?” sindir Liam.
Marvel yang awalnya memasang wajah sendu karena perubahan sikap Liam beberapa hari ini sontak saja menjadi tertawa.
“Oh… jadi karena itu? Kamu cemburu padaku?” tanya Marvel yang akhirnya paham.
Liam tidak menjawab, dia langsung masuk ke dalam mobilnya. Tapi Marvel tidak kehilangan akal, dengan cepat dia juga melesat masuk ke dalam mobil keluaran terbaru milik Liam.
“Ngapain kamu ikutan masuk?” tanya Liam kesal.
“Aku hanya tidak ingin kamu salah paham. Aku hanya menganggap Anya sebagai adik. Tidak lebih Al. Dia juga hanya menyukaimu bukan aku” jelas Marvel.
“Kamu yang enggan menatapnya membuat dia berkecil hati. Dia sedih Al walau bibir nya masih bisa tersenyum tapi tidak dengan matanya. Apa kamu tidak cukup mengujinya selama 4 tahun ini?” ujar Marvel panjang lebar.
Liam terdiam. Dia melihat ke luar jendela. Dari sana dia melihat Flora yang baru saja keluar dari lift bersama beberapa rekan kerjanya.
Marvel ikut melihat ke luar jendela.
“Selama 4 tahun ini Anya tidak pernah dekat dengan lelaki manapun. Apa itu tidak cukup membuktikan kalau dia juga sebenarnya menyukaimu?” Marvel kembali berucap.
“Walau sebenarnya merasa aneh. Kenapa dia bisa menyukaimu padahal kalian saat itu baru bertemu?” tidak ada hentinya Marvel bercuap-cuap. Liam sendiri masih terus memperhatikan Flora yang sudah semakin menghilang di kerumunan karyawan.
Bisa Marvel lihat tatapan kerinduan di mata Liam.
“Kamu kemana Al selama ini?” tanya Marvel.
“Kenapa padaku juga tidak memberi kabar?” tanya Marvel beruntun.
Liam terlihat menghela nafas.
Dia menoleh ke arah Marvel.
“Selama ini aku terpaksa mengikuti keinginan Papa. Papa mengancam akan membuat usaha keluarga Angel bangkrut” jelas Liam.
Marvel terkejut mendengar penjelasan Liam. Tidak menyangka kalau Alvin akan setega itu.
“Papa melarang ku berhubungan dengan semua orang yang ada kaitannya dengan Angel. Termasuk kamu karena kamu berteman baik dengan Stefan”.
“Sam… jalankan mobilnya” titah Liam.
“Baik Pak” jawab Samuel patuh. Samuel pun menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dapat Liam lihat Flora yang baru saja memasuki mobilnya.
“Aku merindukanmu sayang” gumam Liam dalam hati.
“Kenapa Om Alvin bisa seperti itu? Apa salah Anya?” tanya Marvel kecewa.
“Karena scandal itu bisa menjadi bumerang pada masa depanku. Jejak digital susah di hapus. Papa tidak ingin ada scandal scandal lainnya” jelas Liam.
Marvel menghela nafas berkali-kal.
“Sekarang apa Om Alvin masih melarangmu mendekati Anya?”.
Liam menganggukkan kepala.
“Aku harus menjaga jarak darinya untuk sementara waktu” jawab Liam.
“Apa kamu tidak mau mencari gadis lain saja?” Marvel sengaja menggoda Liam yang tentu saja berhasil. Wajahnya langsung memerah mendengar pertanyaan Marvel.
Bersambung....