
Flora dan Vivi sudah sampai di depan pintu gerbang rumah Liam yang bisa disebut mansion. Rumah yang begitu megah bak istana. Rumah yang beberapa bulan sempat Flora tinggali sebelum menetap di rumah mereka sendiri.
“Wow… Liam ternyata anak konglomerat” ucap Vivi kagum.
Flora tidak menimpali, dia langsung turun dan menyapa security yang berjaga di sana.
Pak Arman yang jauh lebih muda dari terakhir kali Flora ingat.
“Pak Arman, Liamnya ada?” tanya Flora pada security tersebut.
Arman tentu saja terkejut karena gadis muda di depannya mengetahui namanya.
“Adik siapa ya?” tanya Arman.
“Saya Anya pak, temannya Liam. Liamnya ada pak?” tanya Flora.
Arman nampak berpikir sejenak. Dia memang tidak tahu alasan majikannya pindah ke luar negeri tapi dia sempat mendengar dari asisten Alvin kalau Liam akan diminta fokus dengan pendidikan.
“Mereka sekeluarga pindah ke luar negeri dik.” jawab Arman tanpa menjelaskan lebih detail.
Bukan hanya Flora yang terkejut. Tapi juga Vivi. Mereka tidak menyangka kalau Liam dan keluarganya pindah ke luar negeri. Dengan perasaan yang tidak menentu Flora pamit pada Arman dan pulang bersama Vivi.
“Aku yakin Om Alvin sengaja memindahkan Liam ke luar negeri. Beliau tidak suka denganku” gumam Flora lirih.
“Sabar ya Anya” hibur Vivi sambil menepuk pundak sahabatnya.
Flora termenung. Padahal dulu dia yang tidak ingin bertemu dengan Liam lagi tapi kenapa sekarang dia bersedih ketika tahu Liam dipindahkan orang tuanya? Apa ini yang namanya munafik?. Flora akui dia memang munafik dan tidak jujur dengan perasaannya. Itu semua karena yang Liam gencar dekati bukanlah dirinya melainkan Anya.
Salahkan bila dia menghindar?.
Tapi kini Flora sudah tidak perlu menghindar. Dengan sendirinya Liam sudah pergi dari kehidupannya.
….
Hari demi hari berlalu, tidak ada kabar sama sekali tentang keberadaan Liam. Bahkan Zayn maupun Marvel sama sekali tidak tahu. Orang tua mereka tidak mau membagi informasi sedikitpun tentang Liam.
“Maafkan Aku Anya, harusnya aku tidak memukul Varo seperti itu. Orang tua Varo menjadi marah dan mengirimnya ke luar negeri” sesal Stefan yang saat ini sedang duduk berdua di taman di rumah mereka.
Flora tersenyum sambil menggelengkan kepala.
Stefan menyadari semenjak kepindahan Liam ke luar negeri, adiknya menjadi lebih pendiam.
“Sayang… di depan ada Zayn” Rina sang bunda datang dan mengabarkan kalau ada Zayn datang berkunjung.
“Cari aku atau Anya?” tanya Stefan.
“Cari adikmu” jawab Rina dengan tersenyum.
“Mama ajak kesini ya?” tanya sang Mama.
Tapi ternyata Zayn sudah datang sendiri. Dia datang dengan membawa buket bunga lily yang begitu indah.
“Untukmu” ucap Zayn sambil menyerahkan bunga itu pada Flora. Flora menerima bunga itu dan mengucapkan terima kasih.
“Terima kasih ya Kak”.
Zayn menganggukkan kepala sambil tersenyum.
Zayn ikut duduk di sebelah Stefan sedangkan Rina kembali masuk ke dalam rumah.
“Anya, boleh aku bertanya sesuatu?” tanya Zayn.
“Kalian bicaralah, aku ke dalam dulu” Stefan tahu diri kalau keberadaannya sepertinya mengganggu.
Zayn dan Flora kompak menganggukkan kepalanya.
“Mau nanya apa kak?” tanya Flora.
“Apa sebelumnya kamu pernah bertemu dengan Alvaro? Maksudku sebelum dia pindah ke kampus kita?” tanya Zayn.
“Kenapa kak? Aku pertama kali bertemu dengan Liam saat dia datang kerumah bersama teman-teman Kak Stefan yang lain” jawab Flora.
“Tapi kenapa kamu memanggilnya dengan nama Liam? dan tidak menambahkan kakak?” Jujur Zayn sangat penasaran. Dan Liam juga seolah tidak marah bila Flora memanggilnya dengan nama Liam karena biasanya dia akan melarang dan meminta orang tersebut memanggilnya dengan sebutan Alvaro. Hanya keluarganya saja yang boleh memanggilnya Liam.
Flora sedang mencari jawaban yang pas yang sekiranya bisa membuat Zayn percaya. Tapi otaknya begitu buntu, dia tidak menemukan jawaban yang cocok dan tidak membuat Zayn meragukan jawabannya.
Bersambung...