
Sekitar jam 2 dini hari, Ayah, Aulia dan Gino baru tiba di rumah. Gino dan Aulia memapah Ayahnya karena memang kondisi Ayah belum sehat betul, tadi setelah masa observasi Ayah sudah membaik maka dokter memperbolehkan pulang.
"Ayah kenapa?" Setengah berlari Sarah menghampiri suaminya.
Hans menatap istrinya dengan tatapan begitu marah. Dia masih tidak menyangka, wanita yang sudah menemaninya berpuluh tahun dan melahirkan seorang putri untuknya ternyata dengan tega berbuat begitu kejam pada putranya.
Sarah seketika ketakutan ketika melihat tatapan marah suaminya. Bertahun-tahun hidup bersama membuat sarah tahu bagaimana expresi wajah Hans ketika sedih, senang dan juga marah.
"Bertahun-tahun aku hidup dengan istri yang aku kira menyayangi putraku seperti anak sendiri. Tapi ternyata kamu tidak lebih dari seorang wanita jahat" Hans berkata dengan suara bergetar saking marahnya dia saat ini.
"Apa maksud Ayah?" Sarah masih berpura-pura tidak tahu apa yang suaminya maksud. Tidak mungkin ada yang bisa mendapatkan bukti kejahatannya.
"Kamu dengan tega memfitnah Melani, membuang anaknya dan yang paling membuatku marah adalah kamu tega menyuruh orang untuk mencelakai cucuku hingga dia harus koma selama beberapa tahun. Dasar wanita tidak punya hati!!!!!" Fakta baru yang Hans dapatkan ternyata Sarahlah yang telah mencelakai Flora hingga koma beberapa waktu lalu.
"Apa maksud Ayah? Aku tidak mengerti?" entah terbuat dari apa muka Sarah hingga wajahnya tetap terlihat tidak tahu apa-apa. Andai Hans tidak mendapatkan buktinya dari orang suruhannya, mungkin saja dia akan percaya dengan yang Sarah katakan. Mungkin ini alasan Aulia tidak berani speak up selama ini, Ibunya memang sangat pintar berakting.
"Aku tidak perlu menjelaskan apapun, sebentar lagi polisi akan datang" Ayah sudah begitu emosi berbicara dengan Sarah.
Sarah tercengang. Padahal selama ini dia sudah berpikiran positif kalau sampai kapanpun rahasianya akan tertutup rapat. Tapi ternyata hari dimana kejahatannya ketahuan akhirnya tiba juga.
Hans melepas pegangan tangan Aulia serta menantunya lalu masuk ke kamar tamu. Dia tidak sudi tidur sekamar dengan wanita jahat. Wanita yang dia kira baik dan tulus ternyata begitu jahat dan tidak berprikemanusiaan.
Aulia dan Gino memilih langsung masuk ke kamar mereka tanpa menjelaskan apapun.
"Mau kemana kalian?" Sarah setengah berteriak, dia tidak ingin suaminya tambah emosi.
Tapi Aulia dan Gino sama sekali tidak peduli, dengan tenang mereka masuk ke kamar. Aulia tidak menyangka kalau Ibunya sampai tega melenyapkan nyawa orang seperti apa yang Sarah lakukan pada Flora.
Di dalam kamarnya Aulia menangis dalam pelukan Gino.
"Aku tidak menyangka kalau Ibu akan setega itu. Kenapa Ibu sampai tega melenyapkan nyawa orang?" Aulia meraung-raung dalam pelukan suaminya.
Kini hanya penyesalan yang bisa Aulia rasakan. Andai sejak awal dia berani jujur pada Ayahnya mungkin masalah tidak akan melebar sebesar ini.
"Aku tidak pernah menginginkan harta, kenapa Ibu sampai bertindak sejauh ini?".
Gino tidak menjawab sama sekali. Yang dia lakukan hanya mengeratkan pelukannya dan memberikan sentuhan lembut pada punggungnya. Sesekali dia juga mencium puncak kepala istrinya.
"Dad, kita pindah saja, Ajak anak-anak keluar dari rumah ini" mohon Aulia. Rasanya dia sudah tidak sanggup bila masih tinggal disana.
Bersambung...