
“Tiara.... ada apa ini? Kenapa kau bisa sakit hm? Tanya Fina. Sedangkan Tiara hanya diam, ia masih tertidur.
Tak lama kemudian Bibi Hanum datang dengan sebuah baskom dan sebuah kain untuk kompres.
"Biar aku saja bi." Ucap Fina.
Bibi hanum mengangguk dan memberi semua kebutuhan kompres pada Fina, lalu keluar kamar untuk membuatkan makan Tiara dan Fina.
Fina mengompres tubuh Tiara dengan begitu telaten. Tiba-tiba saat Fina tengah mengompres tubuh Tiara. Tiara mengigau.
"Ayah..ibu.. Tiara kangen" ucap Tiara dalam gigauannya. Fina memandang sendu Tiara yang terbaring lemah di tempat tidur.
"Aku mohon Ara, kau jangan seperti ini. Lekaslah sehat. Kau bagian keluargaku. Aku merindukan mu yang cerewet dengan segala tingkahmu. Aku mohon sehatlah." Ucap Fina tulus.
Setelah selesai mengompres, Fina pun keluar dari kamar Tiara. Fina berjalan dengan pandangan kosong, hingga ia tidak menyadari akan seseorang yang memandangnya selalu. Seseorang itu menarik tangan Fina, hal itu membuat Fina terpengarah kaget.
"Kau masih disini kak?" Tanya Fina ketika melihat Faizi masih dirumahnya.
"Aku khawatir dengan mu, bagaimana keadaannya?"
"Masih belum turun panasnya"
"Sebentar lagi pasti turun, kau makan lah dulu"
Fina menggeleng.
"Tidak kak, aku belum lapar"
"Jika kau tidak makan, dan sakit siapa yang akan merawat Tiara? Kau harus sehat agar bisa merawat nya biar segera pulih"
Fina diam sejenak, setelahnya ia mengiyakan perkataan Faizi.
Faizi menggiring Fina jalan ke ruang makan. Di meja makan sudah tersedia aneka hidangan yang telah bibi hanum siapkan.
Mereka mulai menikmati makanannya.
#################
Tiara terbangun dari tidurnya. Tanganya mulai meraba ke bagian wajah mengambil sebuah handuk kompresan yang menempel di dahi nya. Segera ia beranjak menuju kamar mandi. Namun, ketika akan bangun, tubuhnya limbung dan jatuh.
“Aww..” pekiknya
Ada apa denganku? Kenapa kepala ku pusing sekali? Gumam Tiara pada dirinya sendiri.
Tiara mencoba mengingat apa yang terjadi.
"Ahh.. semalaman aku menangis. Aku menangis karena mengingat ucapan Revan. Dan aku belum memakan apa pun sejak kemarin".
Tiara segera bangun. Tiara mencoba untuk mengangkat tubuhnya agar berdiri dengan tegap. Menopang tubuh nya pada ranjang tempat tidur dan berusaha berdiri. Setelah berhasil menjaga keseimbangan, Tiara berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya.
#####################
Terlihat disebuah kamar, Fina sedang berkutat dengan buku-buku nya. Dia begitu sibuk mengerjakan tugas perkuliahannya yang ia terlantarkan seharian ini. Hingga kegiatan tersebut harus berhenti sejenak akibat seseorang yang mengetuk pintu kamarnya.
Tokkk tokk tokkkk
"Masuklah" teriak Fina dari dalam kamar.
Seseorang yang masih begitu lemah berjalan dengan pelan memasuki kamar Fina.
"Fina" panggil nya lirih. Fina menengok ke arah sumber suara.
"YAKKKKK!!!! Tiara, apa yang kau lakukan" ucap Fina khawatir dan berjalan mendekati Tiara untuk membantunya duduk.
"Aku sudah membaik Fin, kau tak perlu khawatir"
"Membaik dari mana nya, kau masih lemah begitu. Jika kau butuh sesuatu kau tinggal menghubungi nomorku. Jadi tidak perlu kau repot-repot ke kamar ku" ucap Fina dengan cerewetnya.
Tiara hanya terkekeh melihat sahabat kecilnya yang begitu khawatir.
"Kau tersenyum, ahh senang nya bisa lihat senyum mu" ujar Fina dan ikut menampilkan senyumannya.
"Terimakasih sudah merawat ku, dan maaf merepotkan"
"Apa-apa an kau ini, kita keluarga. Dalam keluarga tidak ada kata terimakasih. Kau tau, selama kau sakit aku sudah memberikan perhitungan pada Revan wijaya tengik itu." Cerita Fina penuh antusias.
"Kau apa kan dia?" Tanya Tiara penasaran
"Ku berikan hadiah yang sangat istimewa."
"Apa itu?"
"Saos ikan belut. Sungguh dia begitu sengsara dan pasti begitu malu karena banyak orang yang melihatnya".
"Kau memberikan hadiah yang sangat bagus". Tiara memberikan kedua jempolnya pada Fina.
"Tentu, karena Fina pemilih yang baik" ucap Fina dengan narsisnya.
Dan mereka pun tertawa bersama-sama.
####################
"Izzzzziiiiii" teriak Andrea saat memasuki basement mereka dan melihat Faizi duduk.
"Iya ada apa" jawab Faizi dan menatap Andrea, saat Faizi menatap Andrea dari belakang Andrea, terlihat Aiden berjalan memasuki basement dan mendekati mereka.
"Yaa ampun Izi ternyata kau disini kami seharian mencarimu. Bahkan apartement mu kosong" ucap Aiden.
"Aku seharian bersama Fina. Karena males pulang aku mampir kemari. Kalian mencari aku? Ada apa memang nya? " Tanya Faizi yang bingung dengan kehadiran sahabatnya itu ditambah lagi mereka mengatakan jika mereka mencari diri nya seharian ini.
"Yaa ampun pake nanya lagi, kau lupa atau bagaimana? Izi apa kau ingat kalau kita ini ada latihan huh" jawab Andrea sambil memainkan bola basket
"Kau ini tumben sekali lupaan, apa kau banyak pikiran?" Tanya Aiden
"Entahlah aku tidak tahu" jawab Faizi dan meninggalkan sahabatnya itu.
"Andrea lihat sahabat mu itu" ucap Aiden pada sahabatnya.
"Aiden dia itu juga sahabatmu, ingat itu" ucap Andrea dan meninggalkan Aiden dan mengikuti Faizi.
###################
Drrrrtt drrrrtrttttt
Ponsel Faizi bergetar, ia hentikan latihan basketnya. Dan di ponsel tertera nama "Fina Agatha". Segera ia mengangkat sambungan telepon itu.
##############
Seorang lelaki dengan pakaian casualnya sedang berdiri menatap langit malam di sebuah jalan. Ia sedang menunggu seseorang. Hingga ketenangan itu terusik akan kehadiran wanita yang memeluknya dari belakang.
"Kak Faizi" ucap Fina sambil memeluknya dari belakang.
Lelaki itu adalah Faizi yang menunggu kekasihnya setelah Fina menghubunginya, minta bertemu.
"Suasana hatimu sedang baik. Sepertinya hari ini berjalan lancar" ujar Faizi sambil membalikkan badannya menghadap Fina.
"Benar sekali. Tiara sudah kembali membaik. Dan aku sangat senang. Hingga rasanya aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu denganmu"
"Syukurlah. Selarut ini? Kita mau kemana?" Tanya Faizi pada Fina.
"Kau yang harus memutuskan itu. Tunjukkan jalan nya" ucap fina sambil membalikkan badan Faizi untuk memimpin jalan. Faizi hanya menuruti permintaan kekasihnya. Mereka berjalan bergandengan bersama.
#############
Cukup lama mereka berjalan, hingga berjalan mendaki menaiki tangga.
"Kita harus berjalan sejauh apa? Kubilang ingin menghirup udara segar. Aku tidak ingin mendaki hari ini." Keluh Fina karena merasa jika Faizi sedang mengerjainya.
Mereka berjalan cukup lama namun belum sampai tempat tujuan yang diinginkan Faizi.
"Kamu menyuruhku untuk memimpin jalan" jawab Faizi sambil menuntun gadisnya itu untuk berjalan mengikutinya. Fina hanya pasrah mengikuti kekasihnya.
"Kita sudah sampai. Ini dia" ucap Faizi sambil menunjukkan pemandangan lampu kota yang indah.
"Ini sangat indah" ujar Fina manatap kagum pada pemandangan malam didepannya.
"Indah, bukan? Aku sangat ingin datang kesini bersama mu.
"Kamu sangat ingin datang kesini bersamaku?"
"Iya" jawab Faizi sambil menyunggingkan senyumannya. Fina pun ikut tersenyum.
"Belakangan ini aku sangat bahagia setiap harinya. Hingga membuatku bertanya-tanya apakah aku pantas menerima ini" ucap Fina sambil menatap selalu pemandangan indah didepannya.
"Kamu pantas bahagia. Jadi, jangan takut atau gugup bahkan di saat-saat bahagia. Tidak perlu"
"Aku tahu. Tapi aku tetap takut bahkan saat tahu itu."
Faizi memegang tangan Fina dan mengarahnya untuk berdiri sejajar dengan nya. Fina mengikutinya.
"Baiklah. Sekarang fokus. Fokus saja pada masa kini, dimana kita berada dan momen ini saja. Bagaimana perasaanmu?"
Fina mulai merasakan angin malam yang berhembusan disekitar nya. Ia pejamkan matanya untuk merasakan nya lebih lama.
"Angin malam, pemandangan malam yang indah, dan ada kamu disampingku" ucap Fina sambil menghadap ke arah Faizi. Faizi pun ikut menatap matanya dan tersenyum.
"Hanya itu yang kamu butuhkan. Kamu tidak perlu hal lain."
"Sekarang giliranmu. Semua yang kamu lihat dan rasakan sekarang"
"Aku hanya bisa merasakan satu hal" ucap Faizi singkat
"Apa itu?" Tanya Fina penasaran
"Ini sesuatu yang sudah lama ingin kukatakan kepadamu. Tapi, aku tidak bisa memberitahumu karena tidak yakin dan takut"
"Kamu juga tidak boleh takut. Kamu tidak perlu takut atau gugup bahkan di saat-saat bahagia"
Faizi menatap Fina sebentar
"Aku mencintaimu" Fina terpaku sesaat mendengar ucapan Faizi.
"Aku sangat mencintaimu" mendengar untuk kedua kalinya Fina menyunggingkan senyuman nya begitu pula dengan Faizi.
"Aku juga mencintaimu" balas Fina. Mereka saling pandang dan melemparkan senyuman nya. Lalu kembali menghadap hamparan bangunan tinggi yang diterangi oleh lampu-lampu.
"Aku lapar. Kau mau makan kak?"
"Kamu lapar?
"Ya"
"Baiklah ayo kita cari makan"
######################
Shyshy kembali lagi dengan novel abal-abal ini. Jangan lupa untuk berikan like, komen, dan vote nya.
Terimakasih semuanya.