
Flora menatap langit-langit kamarnya, rasanya dia masih begitu sesak saat ini. Tatapan penuh cinta yang biasanya hanya Liam tunjukkan padanya sekarang tertuju pada wanita lain dan itu membuat Flora sakit hati luar biasa.
Sebenarnya Liam tidaklah salah, Liam tidak berselingkuh tapi Flora rasanya ingin egois. Flora ingin Liam tetap bisa mencintai dirinya walau Flora sendiri sudah pergi untuk selama-lamanya.
Flora akui dia egois, tapi dalam waktu 100 hari Liam sudah bisa berpaling membuat dirinya begitu kecewa.
Ternyata secepat itu seorang pria bisa berpaling. Padahal awalnya dia begitu terpuruk tapi tak berselang berapa lama rasa sakit itu bisa hilang dan digantikan dengan rasa cinta untuk wanita yang baru.
Mungkin itulah perbedaan laki-laki dan perempuan, perempuan lebih sukar membuka hati daripada laki-laki.
Tok
Tok
Tok
Pintu kamar Flora terdengar diketuk dari luar.
"Sayang..." suara lembut Rina memanggil anaknya.
"Mama boleh masuk?" tanyanya pula.
Flora baru tersadar kalau keterkejutannya pada Liam tadi membuat heboh seluruh anggota rumah.
Flora menghapus air matanya. Dia menarik dan menghembuskan nafasnya untuk menenangkan diri. Sekaligus dia juga sedang memikirkan alasan yang tepat agar keluarganya tidak curiga.
"Sayang..." kembali suara Rina terdengar. Setelah menenangkab diri dan menemukan alasan yang tepat, Flora pun beranjak dari tempat tidurnya dan membuka pintu kamarnya.
Rina langsung memeluk putrinya begitu pintu kamar itu dibuka.
"Kamu kenapa sayang? Coba cerita sama mama" pinta Rina sambil menuntun putrinya untuk duduk di tepi tempat tidur.
"Maaf ma sudah membuat kehebohan, aku tiba-tiba teringat kecelakaan itu, kepalaku mendadak sakit ma" jawab Flora berharap Rina mempercayainya.
Rina tentu saja percaya, dia seketika menjadi khawatir.
"Kita ke dokter ya? Mama khawatir".
Flora dengan tegas menggeleng.
"Tapi Mama takut terjadi sesuatu padamu, Nak" Rina berusaha kembali membujuk.
Flora kembali menggelengkan kepala.
"Begini saja Ma, kalau kepalaku sakit lagi baru kita ke dokter ya ma" Flora memberikan penawaran pada Ibunya. Rina pun mengangguk pasrah.
"Kamu harus jujur kalau ada apa-apa ya" mohon Rina pula.
"Iya ma, aku tidak akan menutup-nutupi apapun dari mama" ucap Flora sambil memeluk Ibunya.
"Maaf Ma kalau aku harus berbohong" ucap Flora pula dalam hati.
...
"Gimana ma?" tanya Stefan saat melihat Rina keluar dari kamar adiknya.
"Adikmu teringat kecelakaan dan kepalanya mendadak sakit, sekarang Anya sedang istirahat" jawab Rina.
Stefan terlihat khawatir.
"Apa tidak sebaiknya kita bawa ke dokter ma? Tadi saat datang dia masih bisa tersenyum tapi tiba-tiba saja dia menjatuhkan gelas" ungkap Stefan.
"Anya bilang sakitnya sudah hilang, nanti kalau memang kepalanya sakit lagi baru dia minta di ajak ke rumah sakit" jelas Rina.
Stefan menghela nafasnya kasar. Jujur dia begitu khawatir karena tiba-tiba saja Flora menjatuhkan gelas dan berlari. Dia seperti terkejut melihat sesuatu.
"Ayo kita makan malam dulu, Anya belum mau makan. Katanya tadi jam 3 baru makan dengan Zayn" ucap Rina sambil merangkul putranya menuruni tangga.
Stefan masih gamang. Dia belum bisa mempercayai alasan adiknya. Rasanya masih ada yang janggal tapi dia tidak tau apa.
"Adikmu pasti baik-baik saja" ucap Rina yang seolah mengerti apa isi hati putranya.
Rina sangat bersyukur dibalik musibah yang dialami putrinya, sekarang kedua anaknya sudah tidak lagi sering berselisih paham seperti dulu. Stefan pun sudah terlihat peduli dan sayang pada adiknya.
"Semoga saja mereka selamanya seperti ini" doa Rina dalam hati.
Bersambung...