
Selesai acara tangis-tangisan yang cukup memakan waktu berjam-jam, dokter kemudian memeriksa keadaan Emil. Ajaib memang, kehadiran Melani dan Flora bagaikan magic yang bisa menyembuhkan Emil dalam sekejap saja. Memang benar bukanlah fisik Emil yang sakit melainkan jiwanya. Jiwanya tidak ingin sembuh dan memilih tetap koma saja.
Dokter hendak menghubungi keluarga Emil tapi Emil menahannya.
"Saya mohon dok, saya tidak ingin bertemu dengan mereka lagi. Saya ingin hidup bahagia dengan keluarga saya" mohon Emil.
"Maaf pak, kami tidak bisa. Semua harus sesuai prosedur rumah sakit. Jika anda sudah boleh keluar dari rumah sakit nantinya harus atas sepengetahuan keluarga. Kalau tidak rumah sakit bisa dituntut. Mohon pengertiannya" ucap dokter tersebut dengan tegas.
"Baik dok tapi saya mohon tunggu dua jam lagi, baru beri tahukan mereka" ucap Emil pasrah.
"Tidak bisa pak, kita juga harus mengurus administrasi dan kepindahan bapak ke ruangan rawat inap" Dokter kembali menolak.
"Saya yang akan mengurus administrasinya dok" Liam datang bagaikan pahlawan.
Dokter tersebut tentu tahu siapa Liam Alvaro, salah satu anak dari pemegang saham di rumah sakit ini, itulah kenapa dia bisa dengan mudah mengajak Flora untuk menemui Papanya.
Dokter tidak lagi bisa membantah. Dia mengecek sekali lagi keadaan Emil dan meninggalkan ruangan itu ketika tugasnya sudah selesai.
.....
Emil sudah ditempatkan di ruang perawatan yang baru. Liam yang mengurus semuanya. Emil belum bisa berjalan dengan baik karena tubuhnya masih kaku dan sulit bergerak.
"Dia siapa?" Emil sangat penasaran dengan pria yang dari tadi memeluk putrinya.
Liam mendekat pada calon ayah mertuanya.
"Perkenalkan om, saya Liam Alvaro. Calon suami Flora" ucap Liam sambil menjabat tangan Emil.
Emil terkejut, tidak menyangka kalau putrinya bahkan sudah memiliki calon suami.
"Apakah tidak bisa pernikahan kalian di tunda dulu? Papa baru saja bertemu denganmu nak. Rasanya tidak rela kalau kamu sudah harus menikah" Emil tiba-tiba menjadi melow mendengar kalau Flora sudah memiliki tambatan hati.
"Belum pa, Pernikahan kami baru sekedar wacana saja" ucap Flora menenangkan Papanya.
"Walau baru wacana tapi aku serius om tentang pernikahan kami" ucap Liam pula.
Melani yang mendengar itu seketika tersenyum. Dia bersyukur karena putrinya menemukan pria yang tepat. Pria yang terlihat sekali kalau begitu mencintai putrinya.
"Om mau bertemu dulu dengan keluargamu. Om harus tahu apakah mereka bisa menerima putri Om. Om tidak mau putri om menderita" ucap Emil tegas.
"Om sudah mengenal Papa dan Mamaku." sahut Liam.
"Siapa nama orang tuamu?" tanya Emil penasaran.
"Alvin Thompson dan Anna Aurora" jawab Liam.
Emil terkejut, ternyata keluarga Liam masih dalam circle keluarganya. Memang bukan hubungan darah tapi orang tua mereka berteman baik.
"Apa Papa dan Mamamu setuju dengan hubungan kalian?".
Bukan tanpa alasan Emil menanyakan hal itu. Mengingat keluarga Liam jauh lebih terpandang dari keluarganya. Apalagi menurut cerita Melani kalau selama ini Flora di buang ke panti asuhan. Sangat mustahil keluarga Tompson mau menerima keadaan Flora.
"Orang tua ku tidak mempermasalahkan itu, Om. Mereka menerima Flora dengan baik" jawab Liam.
"Bahkan kami sudah pernah menikah" lanjutnya dalam hati.
Emil terlihat sendu. Rasanya dia belum ikhlas kalau putrinya akan segera menikah. Dia belum merasakan bagaimana membesarkan anak dan mendidiknya. Sekarang tahu-tahu saja anaknya sudah akan menikah.
Bersambung...