
Liam dan Marvel tiba di rumah Stefan tepat saat semua anggota keluarga sedang makan siang. Melihat kedatangan teman-teman Stefan seketika membuat Rina berdiri dan mengajak keduanya untuk ikut makan siang bersama.
Flora belum menyadari siapa yang datang karena dia sedang di dapur mengambil potato wedges kesukaannya.
Posisi Liam duduk membelakangi pintu dapur hingga Flora tidak tau kalau tamu yang datang adalah Liam.
Dengan santai dia mendekat ke meja makan dan meletakkan potato wedges miliknya. Flora yang bertemu pandang dengan Marvel menganggukkan kepala sambil tersenyum. Marvel memang sudah sering datang ke rumah ini.
Saat ini Flora belum juga menyadari kehadiran Liam, dia dengan perlahan duduk di tempatnya dan mengambil beberapa potong potato wedges serta steak daging lalu meletakkannya di piring.
Sebelum makan seperti biasa dia akan mengucapkan mari makan seperti adegan di kartun doraemon.
Saat itu juga matanya bersiborok dengan Liam.
Deg.
Flora bahkan menjatuhkan garpu dan pisau yang dia pegang hingga menimbulkan suara dentingan.
"Pelan-pelan sayang" tegur Rina yang mengira Flora terlalu bersemangat untuk makan.
Flora bahkan tidak berani melihat ke arah Liam karena saat ini jantungnya sedang berdegup begitu kencangnya.
Liam sendiri terus memperhatikan Flora dengan intens. Dia sama seperti Flora, debaran jantungnya pun begitu menggila. Berada sedekat ini dengan Flora membuatnya seperti kehabisan oksigen.
"Maaf aku ke kamar dulu" pamit Flora tanpa melanjutkan makannya.
"Anya..." tegur sang bunda tapi Flora tidak peduli. Dia buru-buru meninggalkan ruang makan menyisakan kebingungan untuk semua orang.
Stefan pun merasa ada yang aneh dengan adiknya. Padahal tadi dia telihat baik-baik saja. Stefan kemudian melihat ke arah Liam yang masih terus memperhatikan punggung Flora yang sudah semakin menghilang.
"Kenapa Anya bisa tiba-tiba aneh seperti ini, dia seperti mengindari sesuatu" ucap Stefan dalam hati.
"Makan..." tegur Stefan pada Liam yang masih saja melihat ke arah tangga padahal Flora sudah tidak ada disana.
"Ada apa sebenarnya?" batin Marvel.
Selesai makan siang, Rina menghampiri kamar anaknya. Rina ingin memastikan kalau Flora memang baik-baik saja.
Tapi belum sempat masuk ke kamar putrinya, Flora sudah keluar dari kamarnya.
"Kak Stefan mana ma?" tanya Flora. Jujur dia sangat lapar saat ini, tapi dia ingin memastikan kalau Stefan dan teman-temannya sudah pergi.
"Di kamarnya main game" jawab Rina.
"Cerita sama mama, kamu kenapa?".
Flora yang sudah menyiapkan jawaban kemudian berbisik di telinga Ibunya.
Mendengar jawaban Flora membuat tawa Rina pecah seketika.
"Ya ampun... Kenapa bisa sakit perut? Sekarang masih?" Rina kira anaknya sudah menyimpan rahasi darinya ternyata alasan Flora dia malu karena perutnya sakit dan ingin buang angin.
"Tadi pagi aku makan mangga ma" jawab Flora lagi-lagi berbohong.
"Tapi sekarang sudah hilang dan aku kelaparan" ucap Flora dengan cengiran.
Rina pun geleng-geleng kepala.
"Ayo kita makan dulu" ajak Rina kemudian.
Flora menganggukkan kepala dan turun ke dapur bersama Ibunya. Flora kembali makan potato wedges dan steak dagingnya dengan lahap dan tentu saja itu membuat Rina kembali menggelengkan kepalanya.
"Ada-ada saja kelakuan anak gadis" gumamnya pelan.
Bersambung...