
Marvel dan Flora berjalan beriringan menuju ruangan kerjanya. Rekan-rekan satu divisinya pun menatap penuh tanda tanya pada gadis cantik yang Marvel ajak masuk ke bilik kerjanya.
Terutama Wanda dan Valeria, mereka saling berpandangan karena ini kali pertama Marvel mengajak wanita datang yang bukan dalam urusan pekerjaan. Kenapa mereka bisa berpikiran bukan urusan pekerjaan? Karena gaya bicara atasan mereka tersebut sangat akrab tidak formal sama sekali.
"Kamu mau minum apa?" tanya Marvel sambil mempersilahkan Flora untuk duduk di sofa yang ada di ruangannya.
"Gak usah repot-repot kak" balas Flora sungkan.
"Tidak repot kok. Tunggu ya" Marvel bangkit dari duduknya dan membuka kulkas kecil yang berada di sudut ruangan. Dia tahu kalau Flora tidak pernah meminum minuman berwarna hingga dia mengambilkan satu botol air mineral saja.
"Terima kasih kak" ucap Flora saat Marvel memberikan minuman itu untuknya.
"Maukah kamu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Marvel.
"Maksud kakak?" tanya Flora tidak mengerti.
"Bukankah dari tadi aku berbicara denganmu banyak hal, tentang pekerjaan juga. Padahal kamu bukan Anya kan? Dan kamu bisa menjawabnya dengan benar" ucap Marvel yang tidak mau berbasa basi.
Flora baru menyadari kakau tadi dari lobby hingga ke ruangan mereka berbincang-bincang layaknya Anya dan Marvel saat Flora masih berada di dalam tubuh Anya.
"Kakak tahu?" tanya Flora.
"Percaya tidak percaya , beberapa waktu lalu saat aku sempat pingsan di rumah Stefan, aku melihat kamu di dalam tubuh Anya. Karena itulah aku pingsan. Aku terkejut melihat dirimu disana. Aku memang mempunyai kemampuan itu dari dulu" jelas Stefan.
"Ya memang seperti itu, aku juga tidak mengerti kenapa kami bisa bertukar tubuh" jawab Flora.
"Lupakan kenapa kamu bisa bertukar tubuh. Yang membuatku penasaran dimana kamu mengenal Alvaro? Dan kenapa dia bisa mengenali kamu?. Sebenarnya itu yang paling membuat aku penasaran" ucap Marvel sejujurnya. Itu memang yang membuatnya penasaran. Dimana mereka pertama kali bertemu dan sampai sejauh mana kedekatan mereka.
Flora menghela nafas berat. Dia ragu apakah dia bisa menceritakan ini pada Marvel. Flora terdiam. Dia sedang memilah dan mimilih alasan yang paling tepat.
"Kalau begitu aku merubah pertanyaanku. Apakah kamu mencintai Alvaro?" ucap Marvel kemudian. Dia tidak mau terlalu ikut campur. Yang penting buatnya sekarang adalah memastikan kalau Flora memang menyukai Liam.
Flora langsung tersenyum. Tidak perlu ahli expresi untuk menebak isi hati Flora. Pancaran matanya terlihat jelas kalau dia memang begitu menyukai Liam.
Tok
Tok
Tok
Pintu ruangan Marvel diketuk dari luar. Terdengar suara Nando meminta izin untuk masuk.
"Masuk" sabut Marvel. Nando masuk ke dalam ruangan Marvel sambil membungkuk hormat.
"Ada apa?" tanya Marvel. Nando mendekat dan membisikkan sesesuatu di telinga Marvel.
"Kamu serius?" tanya Marvel.
Nando menganggukkan kepalanya. Mereka kemudian menuju meja kerja Marvel dan mengecek sesuatu. Flora memperhatikan dari tempat duduknya. Sepertinya memang mereka sedang membicarakan sesuatu yang sangat serius. Terbukti hingga satu jam lamanya mereka berdiskusi tanpa ujung pangkal hingga tanpa mereka sadari Liam sudah memasuki ruangan tersebut.
"Sayang kenapa tidak bilang mau kesini?" tanya Liam sambil merentangkan tangannya. Flora bangkit dari duduknya dan berhamburan ke dalam pelukan kekasih hatinya itu.
Nando yang awalnya fokus pada pekerjaannya hanya bisa membelalakkan matanya. Baru beberapa waktu lalu dia melihat dengan mata kepalanya sendiri boss nya itu berpelukan dengan Anya, sekarang dia memanggil sayang dan berpelukan dengan wanita lain.
Bersambung...