Way Back Into Love

Way Back Into Love
Tidak Peduli



Saat ini Flora sudah kembali ke ruang rawat inapnya ditemani Liam. Mamanya yang kata suster masih dalam perjalanan hingga kita belum kelihatan sama sekali.


"Ilona Louise" Liam membaca nama yang tertera di brankar.


"Siapapun namamu, di hatiku kamu tetap Flora Anastacia" ucap Liam lalu mencium kening wanitanya.


Flora tersenyum.


"Selamanya aku akan menjadi Flora Anastacia mu" balas Flora.


Liam duduk disebelah brangkar kekasih hatinya dan menggenggam tangannya erat.


"Ayo kita menikah" Liam tidak mau menunda-nundanya lagi.


Flora melirik tanggal lahirnya yang tertempel di dinding.


"Aku masih 20 tahun, bila aku koma selama 4 tahun berarti aku belum lulus senior high school" ucap Flora.


"Aku tidak peduli dengan hal itu. Buatku yang penting bisa bersama denganmu tak peduli latar belakang pendidikanmu" balas Liam.


"Tapi aku peduli sayang, walau jiwaku sudah kuliah sampai dua kali tapi ragaku belum. Aku tidak mau membuat seorang Liam Alvaro malu memiliki istri sepertiku".


Liam malah tertawa mendengar penuturan Flora.


"Yang benar saja, mana mungkin aku malu akan hal itu" ucap Liam saat tawanya mulai mereda.


"Kamu tidak bisa jadi Mama dan Papa iya, dengan Anya saja Papa tidak suka kan?" sahut Flora pula.


"Itu hanya salah paham saja sayang, Kamu tahu Papa tidak pernah mempasalahkan hal itu bukan? Dulu apa Papa pernah melarang hubungan kita?" ucap Liam meyakinkan.


"Dulu atau masa depan?" Flora malah merasa lucu dengan jalan hidupnya.


"Bagiku itu adalah dulu, aku tidak ingin mengingatnya lagi. Berjanjilah untuk tidak meninggalkan aku lagi, Jaga pola makanmu demi aku" Mohon Liam.


"Iya sayang, semenjak diberi kesempatan hidup lagi aku benar-benar menjaga pola makanku" ujar Flora.


Liam mengelus rambut istrinya dengan sayang.


"Aku tidak bisa hidup tanpamu, Jangan tinggalkan aku lagi" mohon Liam.


Samuel yang juga berada diruangan tersebut semakin merasa kepalanya berputar. Dia tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Marvel sendiri sudah pulang sejak tadi. Dia tidak ikut mengantar ke dalam kamar.


....


Rina memasuki ruang inap Anya bersama Andra. Disana dia melihat Anya yang sedang tertidur dan Stefan selonjoran di sofa sambil bermain ponsel.


"Bagaimana keadaan adikmu?" tanya Rina lalu duduk disofa yang sama dengan Stefan. Andra sendiri memilih duduk di kursi di sebelah brangkar putrinya.


"Kata dokter baik-baik saja" jawab Stefan.


Rina pun menganggukkan kepalanya.


"Tadi Mama bertemu dengan Liam Alvaro di depan, tapi dia sedang memeluk seorang perempuan. Apa karena itu dia tidak berkabar selama ini?" Rina bercerita pada putrinya.


"Benarkah? Mama yakin?" tanya Stefan memastikan.


Rina menganggukkan kepalanya.


"Walau jarak kami jauh saat itu tapi mama bisa melihat dengan jelas, apalagi Marvel juga ada disana" jawab Rina yakin.


"Aku juga tidak tahu Ma. Semoga saja bila benar itu terjadi, Anya bisa menerima semuanya. Aku tahu Anya menyukai Alvaro".


Andra sendiri tidak berkomentar. Dia lebih memilih melihat kondisi putrinya. Pernah kehilangan salah satu putrinya sebenarnya membuat dia trauma tapi dia tidak mau kelihatan di depan Rina. Andra tidak mau menambah beban pikiran istrinya. Rina sudah begitu beban dan banyak pikiran atas hilangnya putri mereka, lama sekali proses Rina bisa perlahan melupakan dan Andra tidak ingin memperburuk keadaan. Biarlah traumanya dia pendam sendiri.


Bersambung...n