
Di part ini moment lebih banyak dari kehidupan Tiara dan Aiden. Babak baru untuk mereka berdua. semoga tetep suka ya readers.
############
HAPPY READING
Setelah berpisah dengan Faizi. Fina masuk kedalam kelas dan berjalan menuju tempat duduknya. Fina menyapa teman sebangkunya, Ifah.
"Selamat pagi ifah" ucap Fina memberikan salam.
"Kau sudah datang, selamat pagi juga Fina" balas Ifah.
"Kau terlihat berseri dan bahagia" puji Ifah ketika melihat wajah Fina yang begitu berseri dari biasanya.
"Iya kah? Wajah ku memang selalu berseri." Narsis Fina.
"Narsis sekali sahabatku ini. Kau sedang jatuh cinta ya" tebak Ifah tiba-tiba.
"Apa terlihat jelas Fah?" Tanya Fina sambil memegang wajahnya.
"Jadi benar kau jatuh cinta? Dengan siapa?" Tanya Ifah kembali penasaran.
Fina pun memberikan isyarat dengan menggunakan tangannya agar Ifah mendekatkan diri dengannya.
"Aku berkencan dengan kapten basket Almer Faizi Adiguna" Bisik Fina pelan di telinga Ifah.
"Apa? Kau kencan dengan kap..." pekik Ifah kaget.
Namun sebelum melanjutkan kalimatnya. Fina sudah membungkam mulut ifah dengan tangannya agar tidak mengeluarkan kalimat selanjutnya. Akan bermasalah jika berita ini menyebar ke satu kelas atau bahkan satu kampus. Headline berita kampus pasti akan berisi mengenai dirinya dan pacarnya, Faizi. Memikirkan hal jelek itu saja sudah membuat Fina pusing dengan akibat-akibat kedepannya yang akan terjadi.
"Pelan-pelan ifah sayang. Kau ini suka sekali berbicara keras keras hm" Fina memberikan nasihat pada ifah.
"Maafkan aku fin, berita ini membuatku kaget. Kan tau sendiri kau bahkan tidak terlihat begitu dekat dengannya. Namun, tiba-tiba aku mendapatkan berita bahwa kau jadian dengan nya. Tentu aku syok mendengar berita itu." Ifah memberikan pembelaan.
"Aku mengerti, ini juga diluar dugaanku. Aku juga tidak menyangka bahwa sekarang aku sudah menyandang sebagai kekasihnya"
"Selamat Fina. Semoga kau bahagia selalu". Ifah memberikan pelukan pada Fina.
"Ahhh ifah terimakasih. Segera lah kau cari pacar hm" ledek Fina sesaat setelah mereka melepaskan pelukannya.
"Haih aku belum berminat, mencari pacar itu tidak semudah menemukan jarum dijerami. Kau tau itu" ifah mengelak.
"Selalu seperti itu. Dasar"
Dan mereka pun tertawa bersama sama. Hingga tawa mereka berhenti. Ketika dosen yang mengajar dikelas tersebut mulai masuk dan memberikan pelajarannya.
#################
"Bagaimana fin sudah selesai?" Tanya Ifah pada Fina.
"Ah iya .. fah" ucapnya
"Ayo, kita selesaikan di perpustakaan" ucap Ifah
"Iya..baiklah" balas fina.
Kedua sahabat ini segera keluar dari kelas mereka dan berjalan bersama menuju perpustakaan untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh dosen nya sebelum perkuliahan berakhir.
“Bagaimana kalau kita nanti minta usul dari Delon. Kurasa ia lebih paham dibagian manajemen.” Ucap Ifah
"Iya, kau benar. Ketua memang jagonya dalam hal itu" ucap Fina menyetujui.
#############
Tiara berjalan pulang setelah selesai perkuliahan. Hari ini dia tidak memiliki jadwal kelas lagi. Tiara memiliki kerja part time
Dia berfikir alangkah lebih baik jika dirinya bekerja part time, ia tak ingin selalu merepotkan Fina dan keluarganya.
Ketika sedang berjalan, Tiara tidak begitu memperhatikan langkahnya, hingga dirinya tidak melihat seseorang yang tengah berjalan didepannya. Ketika merasakan sesuatu yang keras, ia mulai mengangkat wajahnya menatap apa yang ada di depannya. Mata bulatnya menjadi membesar ketika retina mata cantiknya itu menatap wanita yang kini tengah basah akibat tertumpahnya minuman.
"Ahh.. maafkan aku. Aku tidak sengaja" Tiara melangkah maju untuk membantu membersihkan baju orang yang ia tabrak itu.
Setelah wajahnya mengangkat dan meneliti korbannya, nyali Tiara menciut ketika mendapati Yuna di depannya. Wanita cerdas, anggun, kaya, dan banyak di sukai oleh lelaki. Sebanding dengan sahabatnya Fina.
"Maaf aku sungguh tidak sengaja" ucap Tiara tulus.
"YAKKKKKK!! kau bodoh ya, apa yang kau lakukan padanya" teriakan keras itu membuat tubuh Tiara terlonjak kaget, kini iris matanya menangkap sesosok lelaki yang sering menjadi topik para wanita, Revan.
Revan Wijaya pria dari keluarga grup wijaya yang memiliki rumah sakit dan kampus terbesar di kota itu. Lelaki tampan idaman para wanita. Tapi berbeda dengan wanita lainnya, Tiara justru tidak menyukai sikap dan karakter Revan. Karena sikap nya yang sombong dan otoriter. Kejadian ini saja sudah membuat jengah, melihat tingkah Revan yang berlebihan melindungi kekasihnya, Yuna.
"Minggir" tubuhnya hampir saja terhempas jatuh ke lantai jika ia tidak menahannya dengan kuat. Ia bisa melihat Revan yang sedang membantu membersihkan pakaian milik Yuna dengan tisu.
"Kau tidak apa-apa yun?" Tanya Revan pada kekasihnya.
"Aku tidak apa-apa, Re" balas Yuna lembut.
"Pakaianmu basah, kau pakai jaketku saja."
"Tidak usah Re, ini hanya basah sedikit.
"Turuti saja perkataanku" paksa Revan.
Setelahnya Revan melepaskan jaketnya dan memberikannya pada Yuna. Lalu dia membalikkan badannya menatap gadis didepannya yang telah membuat pakaian kekasihnya menjadi basah dan kotor. Wajahnya meneliti dengan seksama seluruh tubuh Tiara dari atas hingga bawah ujung kaki. Dengusan kecil disertai senyuman sinis terlontar begitu saja ketika Revan tidak menemukan satu barang mewah yang melekat di tubuh Tiara.
"Ckckckck dasar gadis kumel"
Tubuh Tiara merasakan sesak tepat di ulu hatinya. Ini kali pertama ia mendapatkan penghinaan secara langsung. Kejadian ini membuat nya bingung harus bertindak seperti apa. Nyatanya dia memang benar, dirinya merupakan gadis yatim piatu yang kumel dan hanya memiliki keberuntungan karena bisa diangkat dan dijadikan masuk keluarga Adiguna.
"Maaf" hanya kata itu yang dapat dilontarkan oleh Tiara karena dirinya memang bersalah.
"Berapa penghasilan keluargamu huh?"
"Huh" Tiara tidak mengerti dengan perkataan Revan.
"Kau pikir kau mampu menggantikan pakaiannya, ck. Lihat dirimu, bercermin lah kau hanya gadis kumel yang bisa bersekolah dikampus elit dengan belas kasihan. Jika bukan karena itu mana ada yang mau menerimamu"
Tidak. Semua yang dikatakan lelaki di depannya ini tidak benar. Mereka menerima Tiara di kampus ini bukan karena kasihan. Melainkan karena otak nya yang jenius dan pintar. Justru akan sia-sia jika mereka tidak menerimanya.
"Re.. sudahlah." Suara Yuna mengalun ketika sudah terjadi kerumunan mahasiswa yang mulai melingkari mereka.
Tanpa di duga ketika Revan melihat salah satu orang mahasiswi sedang membawa botol air minum dan tanpa permisi ia langsung mengambil botol air minum itu dengan kasar. Ia menatap Tiara sebentar yang tengah diam menunduk, sangat salah jika gadis sepertinya membuat masalah dengan Revan Wijaya.
"YAKK" teriak Revan ketika tangannya terhempas saat akan menyiramkan air minum yang direbutnya untuk membalas perlakuan Tiara, namun tanpa di duga seseorang telah berani menggagalkannya.
"Apa yang akan kau lakukan padanya?"
Tiara berusaha menahan tangisnya agar tidak keluar, ternyata diri nya masih ada yang mau membelanya. Didongakkan wajah Tiara untuk melihat siapa orang yang telah membela nya.
"Kak Aiden"
Aiden menatap tajam kearah Revan, suara lembut itu ia yakini keluar dari bibir milik Tiara yang menatapnya terkejut.
Aiden mengunci mulutnya, ia sudah paham akan karakter orang yang hanya bisa menghina orang yang lemah. Kini pandangan nya menatap sebentar Tiara yang tengah menatap sendu dirinya. Sadar akan orang-orang yang menontonnya Aiden mendekati Tiara, gadis itu pasti tengah menahan tangis dan malunya.
Tiara menunduk dalam saat tangan kekar Aiden menarik lengannya untuk segera pergi dari tempat itu.
Sebelum benar-benar pergi, Aiden mengatakan sesuatu pada Revan.
"Kau hanya pemuda ingusan yang masih membutuhkan belas kasihan orang tuamu. Setidaknya dia lebih berharga dari pada dirimu. Dan ku peringatkan jangan kau berani macam-macam dengan Tiara, apalagi melukainya. Jika hal itu kembali terjadi maka aku tidak segan menghancurkan semua yang kau miliki. Ingat nama ku Aiden Wirantaka." Ucap Aiden tegas.
Revan yang mendengar perkataan Aiden sedikit bergidik dan geram. Dirinya menyadari bahwa kepemilikan keluarganya tidak sebanding dengan keluarga Wirantaka dan Agatha. Setelah hal itu tidak ada yang mesti lelaki itu katakan, Revan hanya diam dan merenungi perbuatan dirinya sendiri.
#################
"Kenapa kau hanya diam, kau punya mulut yang bisa kau gunakan untuk berbicara. Kau bela dirimu di mata orang yang menghina mu itu" bentak Aiden sedikit emosi ketika mereka sudah di dalam mobil.
Aiden sedikit gemas dengan tingkah Tiara yang hanya menerima penghinaan itu tanpa melakukan pembelaan. Untung dirinya masih dilingkungan kampus itu. Dan kejadian itu tanpa sengaja dia ketahui. jika dirinya tidak disana mungkin Tiara akan mendapatkan hal yang lebih memalukan lagi.
"Untuk apa membela, lelaki itu mengatakan hal yang benar kak."
Air mata Tiara mulai jatuh. Segala luapan emosional yang dia tahan akhirnya ia keluarkan. Gadis itu menangis sekencang-kencangnya. Mengeluarkan rasa sakit dihatinya. Melihat itu Aiden merasa bersalah karena telah membentaknya. Didekatkan tubuh Aiden untuk merengkuh tubuh mungil gadis itu masuk kedalam pelukannya. Didalam pelukan Aiden, tangisan Tiara semakin pecah. Aiden mencoba mengelus pundak gadis itu untuk memberikannya ketenangan.
###############
Shyshy cuma mau ngingetin buat pembaca semuanya.
Jangan lupa untuk like komen dan berikan vote pada novel ini.
Terimakasih semuanya.