Way Back Into Love

Way Back Into Love
Sudah Terlalu Lama



Flora saat ini sudah setahun menjadi salah satu mahasiswi di universitas swasta di kotanya. Dia mengambil jurusan manajemen bisnis seperti apa yang memang dia inginkan.


Tiga kali kuliah dengan jurusan yang sama membuat Flora sudah diluar kepala. Dia sengaja mencari jurusan yang sama karena memang dia hanya ingin jurusan itu. Liam sudah menawarkan Flora untuk mengambil jurusan yang berbeda tapi dia tidak mau. Sebenarnya Flora enggan belajar lagi, walau tubuhnya masih muda tapi jiwanya tidaklah semuda tubuhnya. Ada rasa enggan untuknya belajar lagi. Flora lebih suka mengekslor kemampuannya daripada belajar teori.


"Bagaimana kuliahnya?" tanya Liam saat Flora baru saja tiba di kantor Liam yang baru. Liam sudah bekerja di perusahaan Papanya, sedangkan Perusahaan Pamannya di kelola oleh Naila adiknya.


Flora hanya nyengir kuda saja, karena mata kuliahnya sudah sangat diluar kepala. Flora sepertinya cocok jadi dosen. Tak heran hampir semua mata kuliah dia mendapatkan nilai A.


"Ini sudah lewat setahun dari perjanjian" celetuk Liam tanpa melihat ke arah Flora, dia pura-pura sibuk dengan pekerjaannya.


Flora hanya terkekeh. Dia mendekat ke arah Liam dan memeluk leher prianya.


"Terima kasih karena kamu sudah mau menunggu" bisik Flora lembut.


Liam tidak konsen bekerja. Dia sudah begitu rindu dengan kemesraan mereka yang dulu. Liam lepas pelukan Flora lalu dia membalik tubuhnya menghadap wanitanya itu.


"Jangan menyiksaku terlalu lama, aku mohon" tatapan Liam begitu memohon.


Flora tersenyum. Dengan berani dia malah duduk di bangkuan Liam dan kembali memeluk prianya itu.


"Ini sudah terlalu lama sayang, Ayo kita menikah" mohon Liam.


Sebenarnya bukan Flora ingin mengulur waktu, tapi sebenarnya Emil dan Melani yang belum rela melepaa putrinya. Ditambah Kakek Flora yang juga sama posesifnya sehingga membuat ijin mereka menikah semakin sulit.


"Kamu tahu sendiri kalau Mama dan Papa yang belum mengizinkan" jawab Flora manja.


"Aku rela kalau harus tinggal sementara di rumah mu, asal kita menikah" Liam sudah begitu frustasi karena dia begitu merindukan istrinya.


Flora kembali terkekeh.


Liam memeluk tubuh wanitanya dengan erat.


"Aku sudah tidak tahan lagi kalau harus menunggu terlalu lama" bisik Liam.


"Kita sudah pernah menikah dan dulu kita menikah dengan begitu mudahnya, tapi kenapa sekarang begitu sulit?" gumam Liam.


Alvin yang hendak masuk ke dalam ruangan sang putra pun mengurungkan niatnya. Dia mendengar bagaimana frustasinya Liam karena sudah terlalu lama menunggu agar bisa menikah dengan pujaan hatinya.


Alvin hanya menggelengkan kepala dan pergi dari sana.


.....


"Apa kabar Paman Hans?" Alvin menjabat tangan kakek Flora. Saat ini dia sedang berada di rumah besar milik keluarga Emil. Hans hanya tinggal sendiri disana sedangkan Aulia memilih tinggal dirumahnya sendiri bersama Gino dan juga anak-anak mereka serta bersama Sarah juga yang saat ini hanya bisa berbaring di tempat tidur.


"Baik, Kamu sendiri apa kabar? Sudah lama tidak bertemu. Bagaimana kabar Papamu?" jawab Hans dengan pertanyaan.


"Aku dan Papa sehat. Sudah lama juga Aku tidak berkunjung ke kampung halaman. Papa dan Mama enggan untuk meninggalkan rumah kami yang ada di desa" jawab Alvin.


"Kalau aku menjadi Yudi, aku pun akan melakukan hal yang sama. Daripada tinggal di kota tapi kesepian" ucap Hans sambil menghela nafas.


"Oh iya, tumben kamu kesini? Ada apa?" tanya Hans pula.


"Sebenarnya tujuan ku kesini adalah untuk melamar cucu Paman untuk anakku. Aku sudah bertemu dengan Emil dan dia menyerahkan semuanya pada Paman" jawab Alvin tanpa basa basi.


Bersambung...