
Berita itu juga akhirnya didengar oleh Stefan. Dia yang tidak menelaah terlebih dulu sudah langsung naik pitam dan mengira kalau orang di video itu adalah Flora dan Liam.
Wajah Stefan sudah memerah siap-siap untuk menerkam mangsanya. Langkahnya memburu dan kepalanya mencari kesana kemari. Mencari Liam yang akan menjadi sasaran kemarahannya.
Liam sendiri karena sebagai mahasiswa baru, dia sama sekali tidak tahu menahu tentang berita buruk yang melibatkan dirinya. Dengan tersenyum dia berjalan penuh percaya diri hendak mencari pujaan hatinya. Dalam pencarian itu dia melihat Stefan yang terlihat saat ini bagai seekor harimau yang kapan saja siap menerkam musuh. Liam yang tidak tahu kalau kemarahan Stefan tertuju padanya malah dengan riangnya menyapa senior sekaligus sahabatnya itu.
Bugh
Bugh
Bugh
Tanpa aba-aba Stefan langsung memukul tepat di wajah Liam hingga Liam jatuh tersungkur.
“Ada apa ini?” tanya Liam tak terima. Tanpa menjawab Stefan langsung saja memukul Liam dengan membabi buta. Liam hendak melawan dengan sisa kekuatan yang dimiliki tapi teman-teman Stefan sudah datang dan memegang kedua tangan dan kakinya hingga Liam tidak bisa bergerak.
Liam tidak bisa berontak karena tenaganya kalah karena serangan bertubi yang Stefan lakukan. Marvel yang melihat itu berlari dan langsung melerai.
“Stef… sudah jangan diteruskan. Alvaro tidak salah. Itu bukan mereka” Marvel berusaha membela sahabatnya tapi Stefan sudah kesetanan dan tidak peduli. Marvel pun ikut-ikutan terkena pukulan Stefan.
Suasana menjadi ricuh dan dikelilingi banyak mahasiswa karena keributan yang mereka perbuat. Keributan itu tentu saja didengar oleh Flora dan Vivi yang masih menyusun rencana untuk menemukan pelaku pemfitnahan ini.
“Kakakmu memukul Alvaro” pekik Vivi.
Mendengar itu membuat Flora tidak bisa menutupi rasa khawatirnya. Dia langsung berlari untuk melihat keadaan pujaan hatinya.
Flora berlari dengan begitu kencangnya tidak peduli orang-orang melihat ke arahnya dengan tatapan mencemooh. Flora tidak peduli akan hal itu sama sekali. Yang ada dalam pikirannya hanya bisa melihat keadaan Liam.
Setelah menerobos kerumunan dia melihat Liam yang sudah babak belur dan Stefan masih berusaha menghajarnya habis-habisan.
Flora menangis tersedu-sedu melihat Liam yang sudah tidak berdaya.
“Itu bukan kami kak, Aku tidak pernah melakukan hal kotor seperti itu”.
“Bukankah Aku selalu pulang pergi dengan kakak? Pulang kuliah aku selalu di rumah. Kapan aku pergi dengan dia kak?” Flora berusaha memberi pengertian pada kakaknya.
“Hu…hu….” Flora menangis tersedu-sedu.
“Liam… bangun” Flora menepuk-nepuk wajah Liam. Kesadaran Liam sudah 20 persen saja. Dia samar-samar bisa mendengar suara bidadarinya.
“Itu bukan kami kak” Flora kembali berusaha menjelaskan.
Stefan mematung. Dia baru tersadar kalau Flora selama ini tidak pernah kemana-mana.
“Tolong bawa Liam ke rumah sakit kak, Tolong kak…”.
Dengan masih memeluk tubuh lemah Liam, Flora memohon pada kakaknya.
Bisa Stefan lihat kalau Flora sangat peduli pada Liam. Begitu juga Marvel dan Vivi.
Flora menangis sambil terus berusaha membangunkan Liam yang kesadarannya sudah semakin hilang.
“Tolong kak…” Flora kembali memohon.
Saat kesadaran Stefan sudah seratus persen, dia meminta teman-temannya untuk membawa Liam ke rumah sakit. Flora juga memaksa untuk ikut, dia ingin memastikan kalau Liam baik-baik saja.