Way Back Into Love

Way Back Into Love
Ikut



Tidak menghiraukan Liam karena hatinya sakit mendengar Liam memanggil Anya dengan sebutan Angel, Flora memilih berpamitan pada Ibunya untuk pergi jalan-jalan bersama Vivi.


"Aku pergi ya ma" pamitnya.


"Iya, hati-hati. Bilangin sama Vivi jangan pulang malam-malam. Selesai nonton langsung pulang" pesan sang bunda.


"Iya, Ma" sahut Flora lalu bergegas menuruni tangga.


Mendengar kalau Flora akan pergi dengan Vivi membuat Liam mempunyai ide untuk mengikuti mereka berdua.


"Tante terima kasih buahnya" ucap Liam basa basi.


Rina tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Tante tinggal ke kamar dulu ya" pamit Rina sebelum masul ke kamarnya.


"Iya tante".


Liam pun kembali ke kamar Stefan.


"Ya Tuhan Al...kamu ini bisa-bisanya menggoda anak orang di depan Ibunya" ucap Marvel sambil menggeleng-geleng kepala.


Liam terkekeh saja.


"Aku mau ke bioskop sekarang. Nanti kamu jemput aku ya kalau Stefan sudah datang" ucap Liam mengutarakan keinginannya.


Marvel semakin geleng-geleng kepala.


"Kamu mau jadi penguntit? Nanti dia risih Al..." protes Marvel yang tidak setuju dengan rencana Liam.


"Ya jangan sampai dia curiga lah".


Entah sudah berapa kali Marvel geleng-geleng kepala. Dia masih tidak habis pikir dengan polah sahabat baiknya itu.


"Terserah kamu saja" ucap Marvel pasrah.


Liam menepuk-nepuk pundak Marvel sebelum meninggalkan rumah Stefan. Dia tidak mau kehilangan jejak Flora. Liam memesan taxi yang untungnya sebentar lagi akan tiba.


"Hati-hati ya Angel" ucap Liam sambil melambaikan tangannya.


Flora tidak menjawab. Dia langsung masuk ke dalam mobil begitu saja.


Vivi yang baru pertama kali melihat Liam tentu saja bertanya-tanyq siapa gerangan pemuda tampan yang memanggil Flora dengan sebutan Angel.


"Siapa?" tanya Vivi.


"Teman kakak, Ayo cepat jalan" pinta Flora. Jujur Flora saat ini begitu sesak. Melihat bagaimana gigihnya Liam mendekati Anya padahal Flora sudah mengabaikannya dengan begitu kentara membuat Flora sakit hatinya.


Tanpa banyak tanya, Vivi langsung menjalankan mobilnya.


"Dia godain kamu ya?" tebak Vivi.


Flora tidak menjawab karena masih saja dia merasa sesak bila mengingat cara Liam mendekati Anya.


Vivi melirik ke arah sahabatnya, tatapan Flora terlihat begitu sendu. Persis seperti dirinya saat di tolak mentah-mentah oleh Stefan dulu.


"Anya kenapa ya?" batinnya.


Tak mau berpikiran kauh, Vivi lebih baik menghibur Flora dengan mengajak sahabatnya itu untuk bersenang-senang hari ini.


Tanpa mereka sadari, Liam sudah berada di mobil Vivi. Dia mengikuti dengan menggunakan taxi.


Beberapa menit kemudian mereka sudah tiba di Mall yang juga terdapat bioskop di dalamnya. Vivi mengantre di loket untuk memesan tiket film kesukaannya. Tentu saja film dengan tema percintaan karena Vivi sudah bisa move on dari Stefan dan kembali menyukai seseorang.


Selesai membeli tiket, Vivi pun menghampiri Flora yang sudah duduk di sofa sambil menunggu teater di buka.


Tak jauh dari tempat mereka duduk, Liam berdiri memperhatikan sudah dengan masker juga topi agar tidak dikenali oleh Flora. Dia berjalan menuju loket untuk membeli tiket yang sama.


Walau tidak tau Flora membeli kursi yang mana, tapi Liam berdoa setidaknya dia bisa melihat Flora dari tempat duduknya karena tujuan Liam untuk mengikuti Flora sampai kesini adalah untuk melihat wajah Bidadari yang dia cintai itu.


Bersambung...