
Tanpa berucap sepatah katapun, Liam langsung pergi dari sana disusul Samuel serta Marvel. Riuh karyawan mulai terdengar. Beberapa banyak yang menyalahkan panitia acara karena tidak berkoordinasi dengan direktur terlebih dahulu. Wanda yang menjadi salah satu panitia merasa ketakutan. Apalagi ide mukbang makanan pedas adalah idenya.
Wakil direktur yang ada disana langsung mengumpulkan panitia dan meminta untuk merapikan kekacauan yang terjadi.
Flora masih diam di tempatnya. Dia menatap bayangan Liam yang sudah semakin menghilang. Dalam hati dia bertanya-tanya kenapa Liam bisa semarah itu pada hal yang bisa dibilang sangat sepele.
….
“Kamu kenapa Al? Kenapa bisa semarah itu?” tanya Marvel sambil berusaha menyusul Liam yang berjalan begitu cepat.
Samuel sendiri hanya bisa geleng-geleng kepala.
“Padahal boss sendiri yang menyerahkan semuanya pada panitia. Sekarang dia yang tidak setuju” gumamnya dalam hati.
Liam masuk ke dalam mobil dan meninggalkan asisten serta teman baiknya itu.
“Al…” Marvel sedikit berteriak.
“Apa dia memang seperti itu?” tanya Marvel pada Samuel.
Samuel pun mengedikkan bahunya karena dia sendiri belum lama bekerja menjadi asisten Liam.
Marvel hanya bisa menghela nafas berat.
“Ada-ada saja, kenapa dia malah jadi kekanakan seperti ini?” ujar Marvel masih terheran-heran.
“Coba kamu pikir bagaimana komentar para karyawan tentangnya? Dia direktur baru tapi emosional sekali. Harusnya dia bisa bicara baik-baik. Ini malah langsung membuang makanannya begitu saja” ucap Marvel pula.
Samuel pun membenarkan. Sifat sang atasan sama sekali tidak bisa dia tebak.
….
Flora berjalan menyusuri pantai yang dulu dia dan Liam sering kunjungi. Angin sepoi sepoi menerpa wajah cantiknya.
“Nak Anya…” panggilan seseorang menghentikan sejenak langkah Flora. Dia membalikkan tubuhnya.
Wawan penjaga panti menghampirinya.
“Pak Wawan” Flora begitu terkejut melihat keberadaan Wawan disana.
Setiap bulan Flora memang sering berkunjung ke panti asuhan sekaligus mengecek siapa tahu Flora sudah ada disana.
“Bapak kenapa bisa ada disini?” tanya Flora sambil mencium punggung tangan pria yang pernah menjadi ayah angkatnya itu.
“Bapak ada urusan disini, kebetulan lihat kamu” jawab Wawan.
“Ada yang bapak mau sampaikan juga padamu” jelas Wawan.
“Bapak mau membicarakan apa?” tanya Flora penasaran.
“Kamu ingat kan beberapa tahun lalu kamu pernah menanyakan tentang gadis yang bernama Flora Anastacia?” ujar Wawan.
Flora menganggukkan kepalanya.
“Iya pak, Bapak pernah bertemu?” tanya Flora semakin penasaran.
Wawan menggelengkan kepala.
“Tidak, tapi Bapak baru ingat kalau sebelum kamu menanyakan itu, ada pemuda yang lebih dulu menanyakan tentang gadis itu” jawab Wawan.
Deg
“Apa jangan-jangan itu keluarga ku?” tanya Flora dalam hati.
“Siapa pak?” tanya Flora.
“Bapak lupa menanyakan namanya, Bapak ingat lagi setelah melihatnya beberapa hari lalu” jawab Wawan.
“Bagaimana ciri-cirinya pak?” Flora sangat penasaran.
“Tubuhnya tinggi, rambutnya gelap sedikit bergelombang. Hidungnya mancung. Ada lesung pipi” jelas Wawan berusaha mengingat ingat.
Deg
Deg
Deg
“Liam….” Flora bergumam dalam hati.
“Apa itu Liam? Kenapa ciri-cirinya sama?”
Dada Flora seketika bergemuruh.
“Apa Liam sama seperti dirinya? datang dari masa depan?”.
“Ada satu lagi yang jadi pengingat. Ada tahi lalat di bawah hidungnya” jelas Wawan pula.
Air mata Flora sudah menganak di pelupuk matanya.
“Itu Liam… itu suamiku… Apa dia tahu kalau ini aku? Apa dia bisa merasakan aku?”.
Bersambung...