Way Back Into Love

Way Back Into Love
Senyum Penuh Arti



Flora hanya perlu melanjutkan pendidikan 2 semester lagi karena dia terakhir sudah lulus dari kelas sebelas. Tapi karena usianya yang sudah menginjak 20 tahun, Liam kemudian memutuskan untuk menyekolahkan Flora via homeschooling. Dia tidak tega melihat Flora kembali menjadi murid Senior high school dengan teman-teman yang masih berusia 16 tahun.


Seminggu sudah Liam dan Flora tinggal di apartemen, bukan di apartemen yang sama tapi bersebelahan. Liam tidak ingin orang-orang berpikiran buruk terhadap dirinya serta Flora bila mereka tinggal satu atap.


Melani sudah kembali dari luar negeri, inginnya dia mengajak Flora untuk ke kampung halaman mereka tapi Melani sudah terikat kerja ditempat yang baru dan tentu memerlukan waktu hampir dua jam bila dia tetap tinggal di kampung halamannya.


Awalnya Melani ingin menyewa apartemennya sendiri tapi Liam memaksa untuk menggunakan apartemen itu karena sayang mubazir bila tidak digunakan.


Bukannya Melani bermaksud apa, tapi tidak pantas rasanya menerima pemberian berlebih dari Liam yang bukan siapa-siapa mereka.


Tapi bukan Liam namanya bila menyerah begitu saja, berbagai rayuan dia lontarkan hingga Melani akhirnya luluh juga.


"Mama rasanya tidak enak bila kita tinggal disini, bagaimana tanggapan keluarga Liam nanti?" ujar Melani saat dirinya dan Flora hanya berdua saja di apartemen itu. Dia tidak menyangka kalau Liam akan mencarikan apartemen, padahal maksud Melani adalah mencarikan kamar hotel selama kepergiannya keluar negeri. Setelah kembali baru dia berencana akan mencari rumah sewaan.


"Mama benar, nanti aku akan coba bicara dengan Liam" putus Flora kemudian.


....


Liam baru saja menginjakkan kakinya di rumah mewahnya. Ada beberapa berkas penting di kamar yang harus dia bawa ke tempat kerja.


Alvin yang melihat kedatangan putranya langsung saja mendekati putranya itu.


"Dari mana saja kamu?" tanya Alvin dengan nada tak enak di dengar. Ini pertama kali Liam mendengar Papanya berbicara dengan suara meninggi seperti ini.


Liam tidak terpancing emosi sama sekali, dia mendekat pada Papanya dan mencium punggung tangannya. Dia bahoan tersenyum dan tidak ada raut wajah takut sama sekali.


"Aku yakin Papa tahu aku dimana selama ini" jawab Liam dengan tenang.


"Siapa dia ? Kenapa kamu begitu peduli padanya?" tanya Alvin penuh tuntutan. Suara menggelegar yang Alvin lontarkan sampai di dengar istrinya yang berada di dapur.


Anna seketila berlari menghampiri.


"Lihat putramu, seminggu tanpa kabar. Tahu-tahunya tinggal bersama gadis muda" ucap Alvin sengaja menyindir Liam.


"Benar itu nak?" tanta Anna sambil menutup mulut tidak percaya.


"Papa tidak usah dilebih-lebihkan. Papa tahu sendiri bagaimana kejadian yang sebrnarnya" Liam benar-benar tenang walau kalimatnya ada sindiran sedikit.


"Itu tidak benar Ma. Aku memang memiliki kekasih. Tapi kami tidak tinggal di apartemen yang sama" lanjut Liam pula.


Semakin terkejut lah Anna mendengar jawaban putranya yang mengatakan kalau dirinya sudah memiliki kekasih.


"Siapa dia? Anya?" tebak sang bunda.


Liam menggeleng dengan cepat.


"Dia Bidadariku, Flora Anastacia" jawab Liam dengan tersenyum.


"Gadis yang dibuang keluarganya di panti asuhan karena Ibunya sakit. Gadis yang lahir dari orang tua yang tidak utuh." Alvin menyela ucupan Liam.


"Kasihan sekali" Anna malah sedih mendengar cerita tentang Flora.


"Bawa kesini, kenalkan pada Mama nak" ucap Anna tak terduga.


Liam melirik ke arah Ayahnya dan tersenyum penuh arti.


Alvin mendengus lalu pergi meninggalkan istri dan anaknya begitu saja.


Bersambung....