
Liam meminta bantuan Papanya untuk mengalihkan sejenak keluarga Emil agar tidak menjenguknya untuk sementara waktu. Awalnya Alvin keberatan tapi atas segala bujuk putranya akhirnya dia luluh juga. Alvin sebenarnya tidak tega juga pada Emil mengingat bagaimana perlakuan kedua orang tuanya. Bagaimanapun dia dan Emil adalah seorang teman walau usia mereka terpaut hampir 7 tahun.
Di ruang perawatannya, Emil sudah bisa berjalan sedikit demi sedikit. Dia dibantu Melani berjalan pelan-pelan mengitari ruangan tersebut.
"Aku rasanya belum menyangka kalau sudah memasuki kepala empat. Padahal baru kemarin rasanya aku merayakan ulang tahun ke dua puluh lima" ucap Emil dengan terkekeh.
Melani ikut tertawa kecil.
"Apa kamu tidak kaget tiba-tiba saja melihat aku sudah tua" ucap Melani menimpali.
"Kamu belum tua sayang" Emil mencuri kecup di puncak kepala Melani. "Kamu masih cantik seperti dulu".
Melani tersipu pendengar pujian Emil walau dia tahu itu hanya untuk menyenangkan dirinya saja. Mana mungkin di usia sekarang dirinya masih dikatakan cantik.
"Kamu bilang putri kita bernama Ilona, tapi kenapa Liam terus memanggilnya Flora?" tanya Emil yang sudah penasaran dari kemarin.
"Itu panggilan kesangan mereka, tapi di tanda pengenal namanya tetap Ilona Louise" jawab Melani.
"Maafkan aku. Putri kita jadi tidak memiliki nama belakang keluargaku" sesal Emil.
"Tidak masalah sayang, tidak mendapat nama keluarga yang penting dia tetap anakmu" hibur Melani.
"Tentu saja, mata coklatnya sudah menjadi bukti kalau dia darah dagingku" balas Emil.
"Kalau sampai ada yang meragukan kalau dia adalah putriku berarti mereka sudah buta" lanjutnya.
"Oh iya, kamu sendiri memanggil siapa pada putri kita? Ilona atau Flora?" tanya Emil. Jujur dia bingung memanggil apa pada putrinya.
Emil terharu karena Melani tetap menamai putri mereka dengan nama yang sudah mereka siapkan dulu padahal Emil sudah menyerah pada hubungan mereka.
Emil berhenti sejenak. Dia pegang kedua pundak Melani.
"Maafkan aku Ela, Andai saja saat itu aku membawamu kabur kejadian ini pasti tidak akan terjadi. Maafkan aku" ucap Emil penuh sesal.
Melani menggelengkan kepala.
"Semua ini sudah takdir kita, kita tidak bisa merubah apa yang sudah terjadi. Yang bisa kita lakukan hanya menatap masa depan" balas Melani.
"Kamu benar. Kita berjuang bersama-sama agar kita bisa memiliki keluarga yang utuh. Terima kasih karena kamu tetap menjaga hatimu hanya untukku padahal aku hampir saja menikah dengan wanita lain". Sepasrah itu dulu hidup Emil. Dia rela melepas cintanya dan menikah dengan wanita pilihan ibunya karena Ibunya mengancam akan mencelakai Melani.
"Sudah aku bilang, jangan mengingat masa lalu lagi" tegur Melani. Jujur Melani tidak ingin mengingat kenangan buruk itu lagi. Hatinya sakit bila mengingat hal itu.
Emil membawa Melani ke dalam pelukannya.
"Ayo kita menikah sayang, kita minta bantuan Liam agar bisa menikah di rumah sakit. Dia pasti bisa membantu kita" ucap Emil pula.
"Aku tidak enak terlalu banyak merepotkan Liam. Biaya rumah sakit Ilona, Apartemen dan biaya rumah sakitmu semua sudah Liam yang membantu. Aku tidak mau orang tua Liam berpikiran buruk tentang putri kita. Aku tidak mau hal itu terjadi" tolak Melani.
"Jangan berkata seperti itu tante, Aku ikhlas membantu" tanpa mereka sadari Liam dan Flora yang baru saja tiba mendengar pembicaraan mereka.
Bersambung...