Way Back Into Love

Way Back Into Love
Pergi Bersama



Aulia dan Gino sepakat untuk menutupi tentang kondisi Emil pada orang tua mereka. Gino pun sudah memutuskan untuk pindah dari rumah mewah tersebut. Dia lebih baik hidup sederhana daripada masih tinggal dengan mertua. Satunya gila harta satunya lagi tempramental. Kalau bukan karena istri dan anak-anaknya sudah dari lama Gino memilih pergi dari rumah itu.


Saat ini mereka sekeluarga sedang makan malam bersama. Tidak ada obrolan yang terdengar. Hanya suara dentingan garpu dan sendok yang beradu dengan piring yang menemani keheningan acara makan malam di kaluarga tersebut.


Ibu mengelap mulutnya dengan sapu tangan. Dia menghentikan acara makan malamnya dan melihat ke arah putrinya.


"Bagaimana keadaan kakakmu?" tanya Ibu pada Aulia.


Aulia menunduk, tidak tahu harus menjawab apa.


"Belum ada perkembangan?" Ayah yang kali ini bertanya.


Aulia masih terdiam. Dia tidak mau berbohong tapi tidak juga mau jujur.


"Kita doakan saja yang terbaik untuk kakak" jawaban yang akhirnya dipilih oleh Aulia.


Ayah terlihat menghela nafas berat.


"Andai kakakmu tidak jatuh cinta pada wanita yang salah. Wanita itu bahkan membuang anaknya. Untung saja anaknya bukan anak kandung kakakmu" ujar sang Ayah. Sebegitu pintarnya Ibu membuat cerita dan bukti bohong hingga mencoreng nama Melani. Sehingga Melani terlihat jahat dan mengkhianati Emil.


Gino benar-benar tidak tahan. Ingin sekali dia menceritakan yang sebenarnya tapi lawannya adalah Ibu. Dia tidak boleh gegabah.


....


Sebulan telah berlalu, kondisi Emil sudah benar-benar pulih, saat ini dia dan keluarga kecilnya beserta Liam pergi bersama mengunjungi pameran fashion yang diadakan perusahaan tempat Melani bekerja.


Tamu undangan yang hadir adalah kalangan celebrity dan juga influencer terkenal.


"Wow...siapa ini? Cantik sekali" puji salah satu pemilik agency terkenal yang merupakan rekanan tempat Melani bekerja.


"Ini putriku" ucap Melani memperkenalkan.


"Halo kak, Aku Flora. Salam kenal" ujar Flora memperkenalkan diri.


"Halo juga, Aku Vicky. Salam kenal juga" balas pemilik Agency itu yang ternyata bernama Vicky.


"Apa kamu mau bergabung sama agency aku? Dari postur tubuh dan wajah sangat mendukung. Boleh kan Kak Ela?" Vicky meminta izin pada Melani.


"Terima kasih ya kak tawarannya. Untuk sekarang Aku ingin fokus sekolah dulu" balas Flora dengan tersenyum manis.


Vicky nampak kecewa. Menurutnya wajah Flora sangat komersil. Hanya dalam sekali lihat kita sudah tertarik untuk melihat lagi dan lagi ke arahnya.


"Kak Ela... Ayo push anaknya supaya mau bergabung di Agency ku ya". Vicky tidak pantang menyerah. Dia menggenggam tangan Melani penuh harap.


Melani hanya tertawa saja.


"Iya, kalau dia memang suka aku pasti akan dukung dan ajak anakku untuk gabung di agency mu" Melani berusaha menyenangkan hati sahabatnya itu.


Liam dari tadi diam saja. Tidak bisa dia bayangkan andai Flora menjadi celebrity, bisa-bisa dia akan cemburu setiap saat.


....


Selesai acara, Mereka akan makan malam di salah satu restoran yang menyajikan makanan khas jepang. Emil dan Liam sudah lebih dulu masuk ke dalam restoran sedangkan Melani dan Flora masih belum masuk karena Vicky kembali menghampiri mereka.


Vicky terus-terusan mendesak keduamya agar Flora mau bergabung di Agency miliknya.


Tak jauh dari tempat Flora dan Melani berdiri, Ayah Emil baru saja keluar dari salah satu restoran yang tepat berada di seberang restoran jepang tersebut.


Bukan Melani yang menarik perhatian Ayah, melainkan Flora. Gadis muda yang memiliki rambut coklat dan mata coklat, seperti keturuan keluarga Emil.


Deg


Deg


Deg


"Apa dia cucuku? Apa bayi yang kami buang dulu adalah cucuku? Apa Sarah berbohong mengatakan kalau wanita itu berselingkuh dan mengandung anak pria lain?".


Ayah semakin penasaran apalagi senyum Flora sekilas begitu mirip dengan putranya.


"Ya Tuhan...apakah selama ini aku telah membuang cucuku sendiri?".


Bersambung....