
Liam menguraikan pelukannya. Dia hapus air mata yang membasahi wajah cantik wanitanya.
“Maafkan aku” ucap Liam lirih.
Flora menggelengkan kepala.
“Ini bukan salahmu, harusnya aku yang meminta maaf” balas Flora. Liam kembali membawa Flora ke dalam pelukannya. Bahagia sekali dia akhirnya bisa memeluk wanitanya seperti ini. Flora benamkan wajahnya di dada bidang Liam.
Tapi tiba-tiba kaki Flora terasa lemas bagaikan jeli. Tubuhnya pun kian melemah. Nafas Flora rasanya putus-putus. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya.
Dalam hitungan detik Flora sudah tidak sadarkan diri dalam pelukan Liam.
Deg
Deg
Deg.
Liam seperti dejavu, dia ingat dulu saat Flora meninggalkannya untuk selama-lamanya. Dia ingat cengkraman Flora melemah seperti ini. Bahu Liam naik turun, dia sudah menangis sekarang.
“Sayang… jangan tinggalkan aku lagi” Liam tepuk-tepuk wajah Flora yang sudah tidak sadarkan diri. Liam guncang-guncang tubuh mungil itu sambil terus memanggil-manggil namanya.
“Flo sayang… bangun sayang… Flora….” ucap Liam sambil menepuk-nepuk wajah Flora. Flora tidak bergeming. Liam cek denyut nadi Flora. Dia masih bisa bernafas lega karena denyut nadi Flora masih terasa.
Tanpa menunggu lama Liam langsung mengangkat tubuh Flora. Liam menggendong pujaan hatinya itu sambil berlari. Dengan langkah seribu Liam menyusuri koridor perusahaannya.
“Sam, siapkan mobil!” pekik Liam terburu-buru. Samuel bergegas menjalankan tugas dari atasannya. Marvel masih mematung sejenak, saat kesadarannya mulai pulih dia lantas berlari menyusul Liam yang sudah jauh di depannya.
Wanda yang melihat dengan jelas apa yang terjadi seketika kakinya menjadi gemetar. Dia sedang menghitung berapa banyak kesalahan yang selama ini sudah dia perbuat pada Flora.
“Pantas saja direktur semarah itu saat aku memaksa Anya untuk ikut memakan makanan pedas” gumam Wanda dalam hati.
“Tapi kalau tidak salah dengar tapi direktur mengatakan kata istri, memangnya mereka sudah menikah?” gumamnya pula.
Wanda merasa kepalanya seketika berdenyut.
….
Dalam perjalanan ke rumah sakit Liam berusaha membangunkan Flora yang saat itu berada dalam pangkuannya.
Samuel yang mengemudi dan Marvel di sebelahnya.
Kenangan Marvel kembali berputar saat awal-awal perubahan sifat Flora. Dia yang tidak mengenali keluarganya, yang tidak lagi mengejar-ngenar Zayn, yang tutur bahasa dan gaya berpakaian berubah.
"Dia memang bukan Anya" gumam Marvel dalam hati.
"Mana ada orang cintq pada pandangan pertama seperti mereka?".
"Apa mereka seperti di film-film? Yang datang dari dimensi berbeda?".
Marvel sibuk dengan pikirannya hingga tanpa sadar mereka sudah sampai di rumah sakit.
Dengan sigap Liam langsung menggendong wanitanya menuju ruang gawat darurat.
Lagi-lagi Samuel dan Marvel mengikuti dari belakang. Mereka selalu kalah bila mengejar Liam.
Petugas medis langsung memberi penanganan pada Flora.
Liam tidak bisa menutupi kegelisahannya. Dia takut akan kehilangan lagi.
Sungguh Liam tidak sanggup kalau itu sampai terjadi.
"Bangunlah sayang....".
"Tuhan tolong jangan pisahkan kami lagi" Liam berdoa dalam hati.
Doa Liam terkabul, tak berapa lama Flora pun terbangun.
Liam mendekat dan menggenggam tangannya. Tapi begitu mata mereka bersitatap Liam langsung melepas genggaman tangannya.
"Kamu bukan Flo" ujar Liam sambil menjauhkan tubuhnya.
"Kamu bukan Flo..." Liam memegang dadanya yang tiba-tiba merasa sesak.
"Kenapa Al?" tanya Marvel mendekat.
"Dia bukan Flora ku" ucap Liam yang saat ini semakin merasa sesak.
"Marvel...kenapa aku disini?" tanya Anya yang jiwanya sudah kembali.
Deg
Deg
Deg
"Anya sudah kembali" ujar Marvel dalam hati.
Bersambung......