
Flora seperti berjalan di terowongan tak berujung. Entah berada dimana dia sekarang Flora sama sekali tidak mengetahuinya. Semakin jauh melangkah semakin berat kakinya berpijak. Entah sudah berapa lama dia berjalan hingga dia kembali ke masa di mana Liam sedang berbicara dengan Anya.
Flora mendekatkan dirinya pada kedua orang itu.
“Flora sayang…” ucap Liam sambil menggenggam jemari manis Anya.
Deg.
“Kenapa Liam memanggil Anya dengan nama Flora?” tanya Flora dalam hati.
Flora membaca name tag yang tertulis di baju putih yang dikenakan Anya.
“Sandra Divanka, S.Psi”.
“Dia bukan Anya?”.
“Apakah dia psikolog?”.
Dalam sekejap wanita yang diyakini bukan Anya itu berhasil membuat Liam tertidur. Tak lama setelah itu Naina pun datang.
“Bagaimana kak keadaan kakak saya?” tanya Naina.
“Kita berdoa saja semoga dengan bantuan hipnoterapi kakakmu bisa kembali seperti sedia kala” ucap Sandra.
Naina terlihat seperti menahan tangisnya seperti ada beban berat yang dia tanggung.
Dalam keadaan masih tidak sadarkan diri, Naina dan Ray memapah tubuh Liam keluar dari ruang konsultasi tersebut.
Flora menutup mulutnya. Selama ini dia telah salah sangka pada Liam. Mengira kalau Liam berpaling dengan cepat. Tapi ternyata Liam di hipnoterapi dan dibuat seolah melihat Sandra sebagai Flora.
....
Liam sudah ditidurkan di kursi belakang dengan kepalanya bersandar di bahu Naina.
Beberapa menit kemudian Liam pun terbangun.
Dia kembali mengingat tentang kepergian istrinya. Tatapan mata Liam begitu kosong.
"Nay, bawa kakak ke pantai ya" ucap Liam saat kesadarannya mulai pulih.
Naina ingin sekali menangis. Kakaknya sudah kembali mengingat tentang kepergian istrinya. Padahal sudah beberapa minggu ini hipnoterapinya berjalan lancar. Tepat di 100 hari meninggalnya Flora Liam kembali mengingat istrinya.
"Kakak ingin ke pantai nay" Liam mengulang ucapannya.
"Iya kak" jawab Naina dengan memalingkan wajah. Nay tidak ingin kakaknya melihat kalau saat ini dirinya sedang menahan tangis.
Flora yang juga ada disana ikut menangis.
"Selama ini aku sudah berpikiran buruk tentangmu. Maafkan Aku sayang. Sekarang aku ikhlas kalau kamu memulai kehidupan yang baru. Maafkan keegoisanku sayang" Flora sudah terisak. Dia merasa menjadi wanita paling egois di dunia ini.
"Sayang... Kamu berhak bahagia. Maafkan Aku".
"Maafkan Aku" Flora kembali meminta maaf.
Hatinya begitu sakit melihat Liam dengan tatapan mata kosong seperti ini. Lebih sakit dari melihat Liam terlihat begitu terpesona pada Anya.
"Maafkan keegoisanku sayang, Aku sudah ikhlas. Aku ikhlas bila kamu kembali bersama dia".
Flora belai wajah Liam penuh kerinduan walau Liam tidak bisa merasakannya.
Dia peluk tubuh hangat yang begitu dia rindukan itu.
"Aku mencintaimu dan aku ikhlas melepaskanmu. Kamu berhak bahagia sayang".
Flora mengecup pipi Liam cukup lama.
"Maafkan Aku".
Flora sangat menyesal pernah meragukan kesetiaan suaminya.
....
Beberapa menit kemudian, mobil yang Ray kendarai sudah sampai di tepi pantai. Liam turun lebih dulu. Dia berjalan menyusuri pesisir pantai lagi-lagi dengan tatapan kosong.
"Sayang...aku merindukanmu" Liam bergumam dengan lirih.
Flora yang mendengar itu kembali menangis.
"Kamu harus kuat sayang, Aku mencintaimu walau kita tidak bisa bersama lagi" ucap Flora sambil menghapus air matanya.
Perhatian Liam teralihkan ketika mendengar suara mobil ice cream. Liam ingat kalau Flora begitu menyukai ice cream.
Naina dan Ray berdiri tak jauh dari Liam. Mereka membiarkan Liam sendiri dulu.
Liam berjalan mendekati mobil ive cream itu yang letaknya di seberang jalan.
Tatapan mata Liam hanya fokus pada si penjual ea cream itu tanpa melihat ke sekeliling hingga sebuah truk lewat dengan kecepatan penuh pun tidak dia sadari.
Flora menahan tangan Liam agar tidak menyebrang jalan tapi tentu saja tidak bisa karena mereka berada di dunia berbeda.
"Kak...Awas...." Naina memekik sambil berlari.
Tapi terlambat. Tubuh Liam sudah terhempas jauh tertabrak truk bersar tersebut.
"Sayang......" Flora histeris melihat Liam sudah tergeletak bersimbah darah.
"Tidak......." Naina berlari semakin kencang disusul Ray.
Liam sudah terpental jauh dan tidak bernyawa.
Bersambung....