
Zayn tak tahu harus berkomentar apa. Entah senang atau bagaimana karena akhirnya Anya yang dulu bucin padanya kini telah kembali. Tapi sejujurnya Zayn pun sangat menyukai sifat Anya beberapa tahun kebelakang. Gaya berpakaiam dan tutur bahasanya. Apakah Anya yang sekarang bisa seperti itu?.
Tak berapa lama kemudian, dokter datang dan memeriksa keadaan Anya. Tidak ada kondisi mengkhawatirkan hingga sore itu juga Anya sudah diperbolehkan pulang.
Mendengar kabar bahagia itu, Rina pun bergegas untuk mengurus administrasi kepulangan putrinya.
"Kamu tahu, selama kamu lupa ingatan kamu begitu berubah. Aku sama sekali tidak menyangka kalau kamu bisa seperti itu" ucap Zayn menceritakan bagaimana kekaguman dirinya pada Anya.
"Aku bagaimana? Aku akan berusaha seperti itu juga agar kamu mau berteman denganku"Anya bersungguh-sungguh akan hal itu.
Melihat kesungguhan Anya membuat Zayn terharu, ternyata begitu besar perasaan Anya padanya. Zayn pun akan berusaha menerima semua kekurangan Anya dan akan mengatakan sejujurnya apa yang membuatnya risih. Ya walau sekarang hanya sebatas teman saja dulu.
"Kamu tidak lagi berpakaian terbuka. Riasan wajahmu juga tipis. Kamu selalu tersenyum dan ramah. Kamu juga tidak seenaknya lagi pada Vivi." jelas Zayn.
Anya terdiam, tidak menyangka kalau dia bisa seperti yang Zayn katakan.
"Kamu juga hormat pada kedua orang tuamu. Dan yang paling berubah adalah kamu tidak lagi beradu mulut dengan Stefan. Hubungan kalian sangat baik sejak kecelakaan itu".
Anya semakin membelalakkan matanya.
"Pantas saja Stefan menjadi perhatian" gumamnya.
"Dan kamu tidak hanya memanggil nama pada kami. Kamu memanggil kami dengan tambahan kakak" lanjutnya.
"Benarkah? Aku bisa seperti itu?" tanya Anya tidak percaya.
Zayn menganggukkan kepalanya.
"Aku akan berusaha, aku akan melakukan apapun asal kamu suka" ujar Anya cepat.
"Jangan demi aku, tapi demi dirimu sendiri" ralat Zayn.
Anya pun menganggukkan kepalanya.
Zayn tersenyum lalu mengelus rambut Anya. Sesuatu yang tidak pernah Anya bayangkan akan Zayn lakukan padanya.
Anya seketika berkaca-kaca.
Senang sekali dia mendapatkan perhatian seperti ini.
"Ada satu hal yang tidak bisa aku lakukan" ucap Anya ketika mengingat sesuatu.
"Apa itu?" tanya Zayn.
"Aku tidak bisa bekerja bersama Marvel lagi. Aku tidak paham dunia kerja. Apa yang harus aku lakukan?" ketika mendengar cerita Mamanya beberapa waktu lalu tentang dirinya yang ternyata sudah bekerja membuat Anya ketakutan. Dia yang merasa baru saja lulus senior high school tiba-tiba harus merasakan kejamnya dunia kerja.
Zayn tersenyum. Anya yang panik seperti ini ternyata begitu lucu.
"Kamu bisa magang di tempatku kalau kamu mau" tawar Zayn kemudian.
Tanpa berpikir panjang Anya pun menganggukkan kepalanya. Sebenarnya bukan pekerjaan itu yang membuat dia tergiur, dia bisa saja magang ditempat Papanya. Yang membuat Anya tidak ingin membuang kesempatan adalah dia bisa sering bertemu dengan Zayn, pujaan hatinya.
"Aku mau !!! Terima kasih Zayn" ucap Anya dan reflex memeluk erat tubuh Zayn.
Walau tadi Anya sudah sempat memeluknya tetap saja dia kaget dipeluk seperti ini.
Debaran jantungnya begitu menggila bisa sedekat ini dengan Anya.
"Apakah nanti kalau kamu sudah mengingat Al kembali kamu akan berpaling padanya?" ucap Zayn dalam hati.
Rasanya dia tidak rela kalau Anya kembali nanti pada Liam.
Bersambung...