Way Back Into Love

Way Back Into Love
Khawatir



"Apa Ayah akan menceraikan Ibu?" tanya Aulia pada Ayahnya. Inilah ketakutan terbesar Aulia selama ini selain sikap kasar Ayahnya. Saat ini hanya mereka berdua yang ada diruangan rawat tersebut. Emil dan yang lainnya sudah pulang ke rumah masing-masing.


Mata Aulia sudah kembali berkaca-kaca. Tidak bisa dia bayangkan bagaimana nasib Ibunya bila bercerai dari sang Ayah.


"Apa kamu tahu tindakan yang Ibumu ambil adalah kejahatan?" tanya Ayah pada putrinya.


Aulia hanya bisa menunduk. Tidak bisa menjawab pertanyaan Ayahnya walau dia tahu apa yang Ayahnya katakan adalah benar adanya. Tapi bakti dan cintanya pada sang Ibu membuat Aulia menutup mata dan memilih bungkam.


"Apa kamu pernah berpikir bagaimana perasaan Melani? Dia ditinggalkan saat hamil, setelah anaknya lahir pun dia juga harus dipisahkan dengan anaknya. Coba kamu bayangkan kalau kamu yang berada di posisi itu. Apa kamu sanggup?".


Aulia menangis sesenggukan. Membayangkannya saja dia sudah tak sanggup apalagi harus berada di posisi Melani, Aulia yakin dia pasti langsung gila.


....


Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam. Ibu mondar mandir di dalam kamarnya karena hingga kini suaminya belum bisa dihubungi.


Karena khawatir, Ibu lalu keluar dari kamarnya hendak membangunkan putrinya. Ibu mengira kalau Aulia ada di rumahnya. Setelah sampai di depan kamar Aulia, Ibu beberapa kali mengetuk pintu kamar itu tapi tidak ada sahutan.


"Apa sebegitu nyenyaknya sampai tidak mendengar ketukan pintu?" gumam Ibu.


Saat itu juga seorang pelayan datang karena mendengar suara Ibu yang cukup berisik membangunkan Aulia.


"Maaf Nyonya, Ibu Aulia nya belum pulang. Tadi keluar bersama Pak Gino" jelas pelayan tersebut.


"Kemana dia jam segini belum pulang?" gerutu Ibu kesal.


"Maaf Nyonya, saya juga tidak tahu" jawab pelayan tersebut sambil menundukkan kepalanya.


Ibu kembali menggerutu lalu kemudian masuk ke dalam kamarnya sendiri.


"Kamu kemana jam segini belum pulang?" bukannya memberi salam, Ibu malah langsung marah-marah pada putrinya.


"Ayahmu juga tidak bisa dihubungi. Mama jadi khawatir" ucap Ibu pula.


"Aku bersama Ayah bu, Kami akan pulang sekarang" Aulia menjelaskan.


"Kenapa kalian bisa bersama? Dimana kalian sekarang?" Ibu tidak bisa menutupi rasa penasarannya.


"Kita bicara di rumah saja" Aulia menjawab dan langsung menutup teleponnya secara sepihak.


Ibu begitu terkejut karena ini pertama kalinya Aulia berlaku tidak sopan seperti ini padanya.


"Kenapa dengan Aulia? Bisa-bisanya dia menutup telepon secara sepihak" Ibu kembali menggerutu.


Bukannya tenang karena sudah mengetahui kalau suaminya ternyata bersama Aulia, Ibu malah tiba-tiba merasa semakin khawatir. Bukan lagi mengkhawatirkan suaminya tapi dia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya dia khawatirkan. Tiba-tiba saja dia merasakan cemas yang luar biasa. Dia merasa kalau akan ada sesuatu hal buruk yang akan terjadi. Dada Ibu terasa sesak dan tubuhnya panas. Ibu semakin mondar-mandir dan berkeringat dingin.


"Ada apa ini? Kenapa aku merasa begitu cemas. Apa yang akan terjadi?"gumam Ibu.


Hampir satu jam Ibu menunggu dengan kegelisagannya tapi Aulia dan suaminya belum juga terlihat batang hidungnya.


Ibu kemudian memutuskan untuk menghubungi Aulia kembali tapi kali ini nomor tersebut tidak aktif.


"Semoga semuanya baik-baik saja".


Bersambung...