
"Sayang....." Flora terbangun dari mimpinya dengan dada bergemuruh hebat. Nafasnya naik turun dan terasa begitu sesak. Bulir bulir bening membasahi dahinya seolah dia baru saja berlarian begitu jauh. Flora sandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Dia tutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Bahunya naik turun mengisyaratkan dia sedang menangis dengan begitu pilu. Flora tidak tahu apakah itu hanya mimpi atau Liam didunia satunya memang benar meninggal dunia. Tapi satu hal yang pasti, Flora merasa begitu menyesal. Menyesal telah meragukan kesetiaan Liam dan menyesal telah berpikiran buruk serta begitu egois.
Flora masih terisak.
"Aku harus memastikan, apakah dia memang mengenaliku atau tidak" gumam Flora dalam hati.
Flora bergegas bersiap-siap ke kantor. Dia ingin menemui Liam dan bila apa yang dia pikirkan benar maka Flora akan meminta maaf karena sudah begitu egois.
Hari ini Flora berdandan lebih dari biasanya. Untuk pertama kalinya juga dia memakai dress saat ke kantor. Flora ingin terlihat cantik di depan Liam.
Selesai memoles diri, Flora turun ke ruang makan yang disana sudah ada kedua orang tuanya tanpa Stefan. Seperti biasa Stefan selalu saja malas bangun apalagi dia tidak bekerja.
"Ya Tuhan....siapa ini cantik sekali" puji sang bunda kagum.
"Aku cantik ma?" tanya Flora pada Ibunya.
"Tentu saja sayang, kamu cantik sekali" puji Rina pula.
"Terima kasih Mama" balas Flora sambil memeluk Ibunya.
"Aku bahagia sekali memiliki Ibu seperti Mama. Aku akhirnya bisa merasakan memiliki seorang Ibu" ujar Flora dalam hati.
Rina menepuk-nepuk bahu putrinya penuh kasih sayang.
Flora baru teringat kalau dimimpi dia melihat kembaran Anya.
Flora menarik kursi lalu duduk disebelah Mamanya.
"Ma...apa aku punya kembaran?" tanya Flora hati-hati.
Uhuk...
Rina yang sedang mengunyah makanannya seketika tersedak.
Begitu pula Andra, wajah Andra yang tenang seketika berubah tegang begitu mendengar pertanyaan putrinya.
"Apa kamu pernah melihat gadis yang mirip denganmu?" tanya Rina.
"Ma..." tegur Andra.
Flora semakin bertanya-tanya tentang apa yang terjadi.
Rina langsung memeluk putrinya.
"Ceritanya panjang nak, Mama dan Papa sudah bersusah payah menemukan adikmu tapi hingga kino belum ada kabar dimana dia sekarang. Adikmu di culik saat kalian masih balita" cerita Rina.
"Ma ...sudah Ma..." Andra kembali menegur istrinya.
Cerita ini mereka sudah simpan bertahun-tahun lamanya. Karena setiap membahas tentang kembaran Anya maka Rina akan histeris dan menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi.
"Apa kamu pernah bertemu nak?" Rina mengulang pertanyaannya.
Flora menggeleng.
"Tidak Ma, tapi aku bermimpi bertemu dengannya" jawab Flora.
Rina semakin terisak. Kembali dia merasa gagal menjadi orang tua karena telah lengah mengawasi putrinya hingga putri cantiknya hilang di culik orang.
Flora begitu menyesal karena telah menanyakan ini kepada Ibunya.
Berbekal ingatan di masa berbeda, Flora kini tahu dimana kira-kira kembaran Anya berada.
"Maafkan Aku Ma" ucap Flora merasa bersalah.
"Ini bukan salah kamu nak. Mamalah yang tidak becus menjadi orang tua" balas Rina.
"Ma..sudah Ma..." andra lagi-lagi menegur istrinya.
Andra beranjak dari duduknya dan menghampiri sang istri. Mereka berpelukan sambil menangis pilu. Menyalahkan kelalaian mereka di masa lalu hingga harus kehilangan putri yang begitu mereka cintai.
Bersambung...