Way Back Into Love

Way Back Into Love
Curiga



Pintu teater telah dibuka, Mereka pun masuk ke dalam bioskop. Liam cukup beruntung karena letak kursinya tepat berada di atas Flora hingga dia bisa melihat pujaan hatinya dengan jarak begitu dekat.


Film sudah mulai di putar, baik Flora maupun Vivi nampak begitu serius. Adegan demi adegan romantis pun membuat mereka hanyut dalam perasaan. Liam sendiri sama sekali tidak menonton layar besar itu. Yang dia lakukan hanya memandangi wajah Flora yang sangat cantik dimatanya.


Andai di bioskop diperbolehkan memakai ponsel mungkin sekarang di galery hp Liam sudah full berisakan foto-foto Flora dengan berbagai expresi.


Flora sendiri begitu hanyut dalam cerita. Dia membayangkan dirinya yang berada di posisi pemeran wanita itu. Kadang dia menangis dan tertawa tergandung adegan yang ditampikan.


Liam tersenyum dan merasa lucu karena Flora begitu serius dan ikut hanyut dalam cerita.


Liam tidak tau saja kalau Flora mengingat kenangannya bersama Liam saat mereka masih berstatus sepasang kekasih. Masih lekat di ingatan Flora bagaimana perlakuan manis Liam kala itu.


Tanpa terasa air mata Flora menetes padahal adegan di depan sana begitu romantis. Vivi bahkan sampai histeris dan menutup wajahnya karena begitu terbawa suasana. Begitu pula penonton yang lain, bahkan ada yang sampai histeris.


Tapi Flora malah menangis.


Melihat respon berbeda antara Flora dengan penonton yang lain membuat Liam pun melihat adegan di depan sana. Dimana sang pemeran pria mencium pemeran wanita dan mengatakan kalau wanita itu akan menjadi pelabuhan terakhirnya bahkan walau maut memisahkan. Flora malah semakin menangis tersedu-sedu mengingat bagaimana Liam juga pernah berjanji seperti itu padanya tapi nyatanya kurang dari 100 hari Liam sudah bisa berpaling.


Liam terdiam. Entah apa yang dia pikirkan. Yang jelas dia tidak suka melihat Flora menangis seperti itu.


“Kamu kenapa?” tanya Vivi yang tersadar kalau sahabatnya itu malah menangis padahal main lead sudah bersatu dan tinggal beberapa masalah yang belum terselesaikan.


Flora menghapus air mata dengan punggung tangannya. Dia tersenyum kemudian menggelengkan kepala.


“Aku hanya terharu” bohong Flora.


Vivi hanya terkekeh.


“Ada-ada saja kamu” gumamnya lalu melanjutkan menonton film tersebut. Flora sendiri memilih menghentikan aktivitas menontonnya. Dia sudah terlanjur mengingat tentang kenangan bahagianya saat bersama Liam.


Flora dan Vivi berjalan beriringan dengan Vivi tidak henti-hentinya membicarakan tentang film tersebut. Vivi terlihat begitu puas karena film tersebut berakhir sesuai keinginannya.


“Kamu kayaknya kurang suka yang dengan ceritanya?” tanya Vivi karena Flora tidak seantusias dirinya. Flora hanya terkekeh.


“Iya, aku lebih suka menonton barbie” jawab Flora berbohong tentu saja.


Tawa Vivi pecah seketika, jawaban Flora memang selalu diluar jangkauannya.


“Kita makan dulu yuk sebelum pulang” ajak Vivi kemudian. Flora menganggukkan kepalanya.


“Tteokbokki Pedas, Odeng, Ramyeon?” usulnya pula.


Flora menggelengkan kepala dengan tegas.


“Aku tidak memakan makanan seperti itu. Healthy food saja ya?” pinta Flora.


Vivi terpaksa setuju walau tentu tidak sesuai seleranya. Vivi baru tersadar semenjak lupa ingatan Flora sama sekali tidak pernah mau menyentuh makanan sembarangan lagi.


Tanpa sengaja Flora melihat bayangan tubuh Liam yang melintas. Walau dari jarak jauh dia sudah sangat mengenali siluet tubuh Liam walau dia memakai masker dan topi sekalipun.


Flora jadi curiga kalau Liam memang mengikutinya.


Flora tersenyum miris.


“Sebegitu cintanya kamu pada Anya hingga kamu mengikuti kemanapun dia pergi” ucapnya dalam hati.


Bersambung...