Way Back Into Love

Way Back Into Love
Tega



Ayah Emil terus memperhatikan Flora dari tempatnya berdiri. Hatinya berdebar ketika melihat gadis cantik tersebut.


"Ayah... Ibu sudah tes DNA, ternyata wanita itu benar-benar jahat. Dia berselingkuh dari anak kita. Anak yang dia lahirkan bukanlah darah daging Emil".


Ayah kembali mengingat kata-kata yang Ibu ucapkan dua puluh tahun yang lalu.


Ayah menghela nafas berat. Dia menyesal langsung percaya dan terbawa emosi.


"Andai saja waktu itu aku tidak langsung percaya" Ayah bergumam sambil terus memperhatikan Flora.


"Tapi bagaimana kalau mereka hanya mirip?" lanjutnya.


"Ada apa pak?" Asisten Ayah terheran karena atasannya berdiam diri di depan restoran dalam waktu yang lama. Bahkan ketika Flora dan Melani telah masuk ke dalam restoran, Ayah Emil tetap berdiam diri.


"Kita makan ke restoran itu" Putus Ayah sambil menunjuk restoran tempat Emil dan keluarga kecilnya makan.


Asistennya tersebut hanya menganggukkan kepala. Dia tidak protes padahal mereka baru saja selesai makan.


Ayah berjalan lebih dulu di susul oleh asistennya, saat sudah sampai di restoran mata Ayah mencari sosok gadis yang sudah menarik perhatiannya walau dalam pandangan pertama.


Setelah mengedarkan pandangan kesana kemari, Ayah akhirnya melihat sosok gadis itu. Tapi dada Ayah semakin berdebar tidak karuan ketika melihat anaknya yang sudah koma bertahun-tahun sedang tertawa sambil merangkul bahu wanitanya.


Ayah memegang dadanya dan hampir terjatuh andai asistennya tidak menangkap tubuhnya.


"E...Emil..." ucap Ayah terbata.


"Kenapa pak?" tanya asistennya khawatir.


Ayah tidak menjawab. Dia menegakkan tubuhnya dan berjalan dengan cepat menghampiri anaknya.


Ketika marah dia akan berapi-api tapi ketika sudah sadar dia akan begitu menyesal.


Emil tidak takut sama sekali mendengar teriakan Ayahnya. Mungkin karena sudah terbiasa seperti itu. Apalagi semenjak Ibu kandungnya meninggal dunia.


Beda lagi dengan Flora serta Melani, tentu saja kedua wanita itu terkejut mendengar bentakan yang lumayan keras itu.


"Ada apa ini?" Ayah kembali memekik.


Liam berdiri dari duduknya. Dia menunduk hormat pada Ayah Emil.


"Selamat malam. Saya Liam Alvaro, putra dari Alvin Thompson" Liam memperkenalkan diri sambil menjabat tangan Ayah. Dia tidak ingin ada keributan disana.


Ayah yang awalnya marah langsung meredup ketika mendengar nama keluarga Thompson.


"Silahkan duduk, Pak" Liam mempersilahkan Ayah untuk duduk. Ayah terdiam lama, dia pandangi wajah Emil yang tidak merasa bersalah sama sekali dan wajah-wajah khawatir dari Melani serta Flora. Ayah pandangi wajah Flora lebih seksama. Ternyata memang jika dilihat lebih dekat wajah gadis itu sekilas mirip dengan Emil. Apalagi saat mereka duduk bersebelahan seperti ini, sungguh sangat mirip walau keseluruhan lebih mirip dengan Melani.


"Aku tidak mau berbasa-basi. Aku tidak akan pulang lagi ke rumah. Aku sudah bahagia dengan keluarga kecilku. Aku juga sudah memaafkan Ayah dan Ibu yang tega membuang anakku" ucap Emil memulai pembicaraan.


"Apa maksudmu?" tanya Ayah tak terima.


"Ayah tidak perlu berpura-pura lagi. Aku tidak masalah Ayah tidak menerima putriku, tapi kenapa Ayah dengan tega memisahkannya dari Ibu kandungnya? Kenapa Ayah tega?" Emil mengeluarkan isi hatinya.


"Jaga bicaramu ya, Walau aku tidak merestui kalian bukan berarti aku tega membuang bayi tidak bersalah!" sahut Ayah dengan geram.


Bersambung...