
Tidak selalu ketidakberuntungan yang menghampiri kehidupan kita.
Dibalik ketidakberuntungan akan selalu saja ada cara Tuhan untuk menjadikan kita orang yang beruntung.
Tanpa kita sadari, tanpa kita mengerti dan tanpa kita rencanakan dengan pasti.
##########
Author pov
Setelah Fina mengerti akan penjelasaan suster tadi dia pun bergegas ke loket untuk menyelesaikan biaya adminsitrasi.
"Menyebalkan sekali seharusnya aku yang mendapatkan ganti rugi. Kenapa jadi dia yang mendapat untungnya. Awas saja .. jika dia bangun aku akan menagih semuanya. Haih" rutuk Fina dalam hati dengan kesalnya.
Fina telah menyelesaikan biaya administrasi rumah sakit. Dia pun segera berlalu pergi karena siang hari ini dia ada kelas. Belum lagi dia harus mampir ke toko buku untuk membeli buku yang dibutuhkan pada kelas siangnya nanti.
Sudah pukul satu siang. Fina telah sampai di kelasnya. Dia merasa cukup lelah hari ini. Perkuliahan yang berlangsung pun tidak begitu masuk di otak Fina. Sampai berakhirnya perkuliahan Fina hanya berbaring lemah di atas mejanya.
"Fina kau tidak apa apa?" Tanya seorang gadis pada fina.
"Ahh Ifah.. aku tidak apa apa. Aku hanya sedikit lelah." Jawab Fina pada gadis yang di panggil Ifah tadi.
"Kau belum makan siang ya? Ayok ke kantin aku akan menemanimu. Jangan pula pingsan kamu." Ajak Ifah pada Fina.
"Aku langsung pulang saja lah Fah".
"Dalam kondisi seperti ini? Kau cari mati! lagi kau menyetir kan? Tidak .. kau harus makan terlebih dahulu. Baru setelah nya kau bisa pulang" kata Ifah sedikit memarahi. Karena pada dasarnya Fina merupakan gadis yang susah sekali di beritahu dan keras kepala.
"Baiklah aku menurut, ayo kita ke kantin". Ucap Fina akhirnya menyetujui.
############
Di tempat lain dengan dipenuhi cat warna putih terbaring lemah lelaki yang baru saja selesai melakukan operasi usus buntu. Di samping tempat tidur, terlihat seseorang yang menemaninya. Lelaki yang terbaring lemah tersebut mulai perlahan mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan penglihatannya.
"Ini dimana?" Tanya lirih lelaki tersebut mengenai keberadaannya saat ini.
"Kau sudah sadar, sekarang kau ada dirumah sakit." Jawab seseorang yang menemaninya.
"Bagaimana bisa aku ada disini?" lelali tersebut kembali bertanya pada orang yang berada disampingnya.
"Aku yang harus nya bertanya, bagaimana bisa terkena usus buntu huh? Apa yang kau makan? Kau gila. Apa yang membuatmu seperti ini Tuan Almer Faizi Adiguna." Ucap seseorang dengan penuh penekanan pada lelaki yang terbaring lemah itu.
"Entahlah.. aku saja tidak ingat" jawab Faizi dengan lemas dan membalikan posisi tidurnya menjadi ke samping.
Lelaki tersebut adalah Almer Faizi Adiguna. Dia merupakan anak lelaki bungsu dari keluarga Adiguna. Keluarga Adiguna hanya memiliki 2 anak yang pertama merupakan anak perempuan yang sekarang menjadi seorang desaigner terkenal di Eropa. Keluarganya termasuk dalam jajaran keluarga kelas atas. Yang dimana harta yang mereka miliki takkan abis hingga tujuh turunan.
"Aku sangat berterimakasih kepada wanita yang menolong mu. Jika tidak mungkin kau bisa terlambat mendapatkan penanganan." Ucap seseorang tiba tiba pada Faizi.
"siapa yang menolongku Andrea?". Tanya Faizi penasaran. Saat ini kondisi Faizi tidak begitu baik untuk mengingat hal hal yang terjadi sebelumnya. Hanya bayangan samar-samar mengenai tragedi kecelakaan yang menimpanya.
"Tadi aku menanyakan ke ruang administrasi, untuk melakukan pembayaran. Dan ternyata itu sudah dilunasi. Dan yang melunasi seorang wanita yang menyelamatkan mu. Jika tak salah ingat namanya itu La Fina Agatha. Apa kau mengenalnya?". Jelas Andrea pada faizi yang merupakan sepupunya itu.
"La Fina Agatha , Aku tak mengenalnya. Aku berhutang budi padanya." Ucap Faizi.
"Terimakasih La Fina Agatha, aku harap bisa cepat bertemu dengan mu". Ucap faizi dalam hati
"Bagaimana dengan orang tua ku dan kakak ku? Apa kau memberitahunya?" Tanya Faizi lagi pada sepupunya itu.
"Kau gila ya, mana mungkin aku memberitahu mereka. Bisa khawatir. Untung saja ponsel mu saat itu panggilan terakhir denganku. Jika bukan aku, pasti dengan yakin kau kena marah oleh keluargamu." Ucap Andrea sedikit bergidik ngeri mengingat kemarahan keluarga Adiguna.
"Baguslah kalo begitu". Kata Faizi pada Andrea.
"Bagaimana dengan besok? Kemungkinan kau tidak bisa menghadirinya." Tanya Andrea pada sepupunya itu.
"Besok aku sudah membaik, tentu aku akan hadir. Mau di taruh dimana muka ku ini" kata Faizi dengan yakin.
"Aku akan bertanya pada dokter dulu, aku harus meyakinkan diriku sendiri. Aku tak mau kejadian seperti ini terjadi lagi Tuan Almer Faizi Adiguna" ucap Andrea memperingati sepupunya yang keras kepala itu.
Faizi hanya diam tanpa mau menanggapi celotehan dari sepupunya itu. Dia menganggap angin lalu ucapan sepupunya dan beralih memainkan game di ponselnya.
###########
Fina pov.
Selesai makan bersama ifah dan mengantarkannya pulang. Aku pun bergegas pulang kerumah. Rasa-rasanya aku ingin segera berjumpa dengan kasur empukku. Hari ini begitu lelah untukku. Sesampainya dirumah aku menemukan bingkisan di dalam sebuah paper bag besar. Ada note disana. Aku pun segera membuka note tersebut.
"Ini Gaun yang ku belikan untuk acara besok. Pakailah. Dan makanlah coklat itu. Itu hanya sementara. Setelah esok selesai aku akan membawanya sekotak sesuai permintaanmu. Aiden".
Begitu lah isi note yang ditulis oleh Aiden.
Aku pun membuka kotak besar yang aku yakini berisi gaun pesta. Dan lihat tidak sesuai dugaanku. Aiden bahkan mengirimkan satu set beserta sepatunya.
Aku tersentuh akan tindakannya. Jika aku bukan saudaranya mungkin aku bisa jatuh cinta padanya. Itu lah pemikiranku. Ku rapikan kembali gaun tersebut didalam kotak. Dan mata ku beralih pada bungkusan kecil yang aku nantikan. Yap. Coklat.
Aku rasa sebelum aku tidur memakan coklat sedikit merilekskan pikiranku. Tanpa basa basi aku segera membuka bungkus coklat dan beralih ke kursi yang berada di kamarku. Aku memakannya sambil mendengerkan lagu favorit ku. "Confession is not flashy" yang di nyanyikan ulang oleh kyuhyun super junior. Sungguh kenikmatan yang luar biasa.
Drrrtdrrt..
Pesan masuk
"Aiden: Kau sudah pulang? Apa kau menyukainya? Maaf aku masuk tanpa izin. Aku harus menengok temanku di rumah sakit. Beristirahatlah. Sampai jumpa besok."
"Me: aku mengerti.. ini merepotkan tapi terimakasih kak.".
Segera aku mengirim balasan pesan tersebut. Sesaat setelah menerima pesan dari kak Aiden, tiba-tiba aku memikirkan seseorang yang ku bawa kerumah sakit tadi. Bagaimana keadaannya? Apa dia baik baik saja? Begitulah pemikiranku.
Bodoh, kenapa aku jadi memikirkannya. Aku merasa otakku terlalu lelah sehingga berfikir yang tidak tidak. Aku pun segera berlalu ke kamar mandi dan bersiap untuk tidur.
########
"Kau benar benar gila bagaimana bisa kau berbuat serendah itu hanya karena wanita tak tau diri itu. Dimana otak mu huh!!" bentak seorang lelaki pada temannya yang terbaring lemah.
"Sudah lah jangan kau marahi dia, biarkan dia istirahat dengan tenang." Ucap lelaki lain untuk melerai pertengkaran tersebut.
"Aku tak tahu jika berakibat seperti ini. Aku salah Aiden". Kata Faizi pada Aiden dengan rasa bersalah.
"Sudah lah Izi, kau mungkin sudah dibutakan oleh cintanya. Sekarang lupakan dia. Dan hiduplah jadi izi yang sediakala lagi." Ucap Andrea menasihati.
"Maaf kalo aku sudah berbicara dengan keras tadi izi. Aku hanya kesal saja melihat tindakanmu. Mungkin aku jika melihat wanita itu, akan aku buang dia kelautan luas. Kau harus melupakannya. Dan cari wanita lain yang lebih baik dari dia." Ucap Aiden.
"Entahlah.. aku mulai sedikit tidak mempercayai soal cinta." Kata Faizi dengan tatapan kosong menghadap jendela.
"Ayolah bro.. jangan bersikap seperti itu. Lembek banget" ledek Andrea pada izi.
"Jadi besok bagaimana?" Tanya Aiden pada kedua sahabatnya itu. Alih-alih untuk mengalihkan pembicaraan.
"Besok ya besok.. tetep berjalan kok. Dia juga ikut. Kau siap siap saja dengan tantangan kita untuk membawa cewek hm" kata Andrea mengingatkan pada Aiden.
"Aku tidak ingkar janji. Liat saja besok, kalian akan terpana melihat kecantikannya". Kata Aiden dengan penuh keyakinan.
"Pede sekali kau.. cewek mana yang lu sewa huh?. Penasaran aku bagaimana rupanya. Iya kan Izi?" Tanya Andrea
"Tak perlu tau kalian. Kita liat besok okay".
"Baiklah kami menunggu besok. Jadi sekarang pergilah kalian berdua. Aku mau istirahat." Timpal Faizi sambil berlalu berbaring di kasurnya dan menutupi sebagian badannya dengan selimut
"Istirahat yang cukup. Besok aku akan menjemputmu." Kata Andrea sambil berjalan untuk mengambil tasnya."
"Aku pun akan pergi. Kau sehatlah segera mungkin." Pamit Aiden pada Faizi.
Dan Faizi hanya mengangguk mengiyakan. Mereka berdua pun berlalu pergi meninggalkan kamar suite vip yang ada dirumah sakit tersebut. Setelah kepergian mereka Faizi merasa gusar dan susah tidur. Akhirnya dia menyalakan musik dari salah satu idolanya. Lagu yang diputarkan dari Audio miliknya "dorothy" begitulah judul lagu tersebut. Lagu dengan bit rendah dan melankolis. Apalagi dengan suara dari penyanyi yang begitu menjiwainya. Lagu tersebut membuatnya sedikit terlelap dari tidurnya.
########
Hujan di pagi hari membuat seorang wanita untuk enggan bangun dari tempat tidurnya yang empuk dan nyaman. Bahkan wanita itu beralih mengeratkan selimut untuk menghangatkan badannya.
"Beruntungnya hari ini hujan, syukurlah aku tidak ada kelas pagi" ucap wanita itu pada dirinya sendiri. Dan dia pun memejamkan matanya kembali untuk tidur.
Tot tok tok tok
Seseorang tiba tiba mengetuk kamar wanita tersebut.
"Siapa?"tanya wanita tersebut pada orang yang mengetuk pintu dan mengganggu tidurnya.
"Ini aku Tiara" jawab suara diseberang yang bernama tiara.
"Yak, Ara. Masuklah". Jawab wanita yang ada di dalam kamar.
Tiara masuk kedalam kamar setelah dipersilahkan. Kedatangan Tiara yang tiba-tiba tidak membuat Fina merasa terganggu. Karena kenyataannya Tiara memang sering berkunjung kerumahnya. Bahkan dia pun mengetahui kode rumah fina.
"Karena hujan bukan berarti kau malas malasan Fina sayang". Kata Ara pada wanita didepannya.
"Setidaknya aku tidak menyia-nyiakan waktu istirahatku Ara."
"Cepat kau basuh muka, temani aku sarapan. Aku membawa sup iga, kimchi dan telur gulung"
"Kau baik sekali pagi pagi sudah memasak hm, kau tidak minta yang aneh aneh dari ku lagi kan? Tanya Fina pada Ara dengan curiga sambil beranjak dari tempat tidur.
"Curiga mulu kau sama aku, ini murni kemauanku, karena aku ingin sarapan bareng kamu"
"Ahh baiklah aku akan segera turun, kau panaskan saja lagi lauknya. Aku tidak suka sup dingin."
"Baiklan nona fina" ucap Ara akhirnya dan langsung berjalan keluar kamar fina.
"Panggilan macam apa itu" kata fina sambil berlalu ke kamar mandi.
###############
"Cepatlah kemari nanti dingin kembali supnya".
Tiba-tiba bel rumah fina berbunyi.
Ting tong ting tong..
"Siapa yang bertamu fin?". Tanya Ara saat mereka bersiap akan makan.
"Entahlah, aku buka dulu" jawab Fina sambil berjalan kearah pintu keluar. Untuk melihat siapa yang bertamu dipagi yang dingin ini.
Sesaat setelah membuka pintu Fina melihat seorang pria dengan badan tegap dan dia menggunakan topi. Dalam benak pikirannya dia bertanya tanya. Siapa gerangan lelaki ini?
"Maaf apa benar ini rumah nona La Fina Agatha?" Tanya lelaki tersebut pada Fina.
Mendengar hal tersebut Fina sedikit tersentak dan sadar dari lamunannya.
"Ahh iya.. saya sendiri La Fina Agatha.". Jawab Fina dengan sopan.
"Ini nona ada kiriman paket untuk anda" kata lelaki tersebut sambil menyerahkan paper bag ukuran besar dan satu buket bunga mawar. Fina pun menerima nya dengan perasaan yang bingung.
"Maaf tuan, jika boleh tau siapa pengirim paket ini". Tanya Fina penasaran.
"Maaf nona, saya hanya mengantarkan. Itu bukan kewenangan saya. Baik nona silahkan tanda tangan disini" jawab lelaki tersebut sambil menyerahkan note book catatan untuk di tanda tangani Fina sebagai bukti penerimaan.
Setelahnya lelaki itu pun pamit undur diri. Dengan perasaan yang bingung Fina pun masuk ke dalam rumah dan membawa paket tersebut.
"Omo kau mendapatkan paket yang istimewa dipagi hari fin" ucap Ara sedikit kaget saat melihat fina membawa sebuket bunga dan paper bag yang belum diketahui isi di dalamnya.
"Seperti nya aku memiliki fans rahasia, aura ku begitu cocok untuk jadi artis" Fina berucap dengan pedenya.
"Narsis sekali dasar. Tidak ada nama pengirimnya kah? Tanya Ara penasaran.
"Tidak ada hanya berisi note Terimakasih dan simbol FA di bagian bawah. Hanya itu saja" jelas Fina pada Ara.
"Benar benar penggemar rahasia mu. Yasudah lah ayok lanjutkan makan mu." Ucap Ara sambil menyerahkan satu mangkok sup iga hangat pada Fina.
"Terimakasih Ara".
###########
"Bagaimana sudah kau lakukan" tanya seseorang pada orang yang ditelepon.
"Baiklah terimakasih. Lain kali aku akan memesannya kembali" ucap seseorang tersebut dan mengakhiri panggilannya.
#############
Waktu berlalu dengan cepatnya. Hari pun sudah sore. Fina mengingat janji nya pada Aiden. Dia pun bersiap untuk mandi dan berias diri. Fina menggunakan gaun pemberian Aiden yang bewarna merah maroon. Gaun dengan perpotongan yang sederhana dan terlihat sempurna di tubuh Fina.
"Cantik dan pas" gumam Fina sesaat melihat pantulan dirinya pada cermin didepannya. Setelah siap Fina pun beralih kek kotak persegi. Sepatu berwarna emas yang berkilau dan pas dengan gaun nya juga telah dipersiapkan oleh Aiden. Fina memakainya. Semua terlihat sempurna dari atas hingga bawah. Rambut terurai panjang dengan sedikit curly di bagian ujung rambutnya.
Drrrtt drrrttt
"Hallo"
"Aku sudh siap, baiklah aku segera turun"
Fina berjalan keluar rumah. Didepan rumah sudah ada pria yang menjemputnya. Siapa lagi jika bukan Aiden. Untuk sesaat Aiden terpukau akan kecantikan saudara perempuannya itu.
"Berhenti memandangku kak" ucap Fina membuyarkan lamunan Aiden.
"Kau cantik, Gaunnya sangat pas untukmu." Puji Aiden.
Mereka pun masuk kedalam mobil dan bersiap untuk berangkat ke tempat pesta itu diselenggarakan.
"Kak, aku gugup. Aku tidak biasa datang ke pesta" ucap Fina pada Aiden.
"Ada aku, kau tak perlu gugup. Dan ingat kau disana sebagai pasanganku bukan saudaraku fin. Jadi, bersikaplah seperti pasangan pada umumnya." Jelas Aiden
"Haih, untung kau kakak ku. Menyebalkan"
"Kau kan masih single, jadi aku tidak masalah mengajak mu sebagai pasangan. Kecuali jika kau sudah memiliki pasangan, aku tidak akan berani. Oleh sebab itu, segera kau cari pasangan".
"Untuk apa mencari pasangan? Lagian sudah ada kau, dan keluargaku yang menyayangiku?"
"Bodoh, kau jelas butuh pasangan yang menemani mu setiap saat dan selalu ada disaat kau butuh."
"Iya aku mengerti, aku akan menemukan pasanganku jika hati ku berdebar karenanya. Hati ku yang akan menuntunku menemukan dia nantinya." Ucap Fina sambil berlalu menatap keluar jendela mobil.
"Nah begitu, itu baru Fina ku".
############
Tak berapa lama mereka pun sampai di tempat pesta. Fina begitu takjub. Perayaan ulang tahun yang begitu mewah hanya untuk sebuah perayaan jurusan. Memang kelas Elit semua didalamnya begitu pemikiran Fina ketika menginjakkan kaki di tempat pesta tersebut.
"Ayo fin, aku akan mengenalkanmu pada teman temanku" ajak Aiden dengan mulai menggandeng tangan Fina untuk berjalan berdampingan.
Semua orang yang ada di pesta pun menatap mereka berdua. Seolah olah mereka merupakan pasangan yang begitu sempurna. Cantik dan tampan. Begitulah pandangan mereka. Tak jarang para pengunjung lain pun berbisik bisik akan hal itu.
"Kak, aku tak suka dengan tatapan mereka semua" bisik Fina karena merasa risih akan pandangan dari para pengunjung lainnya.
"Kau bersikap tenang lah,mereka hanya mengagumi kita" ucap Aiden menenangkan sambil mengelus punggung tangan Fina agar merasa tenang.
"Lihat siapa yang membuat kebisingan ini, ternyata kau pintar membawa gadis" sambut seseorang sesaat melihat Aiden dan Fina.
"Kau ini, dia gadis istimewa ku Fina. Dan Fina itu Andrea temanku" ucap Aiden.
"Ah iya.. perkenalkan aku La Fina Agatha" ucap Fina memperkenalkan diri.
"Aku Andrea, senang berjumpa dengan mu. Kau sangat cantik." Ucap Andrea.
"Dimana dia?" Tanya Aiden pada Andrea.
"Dia di ruangannya, nanti juga pasti keluar" jawab Andrea sambil meminum anggur yang ada ditangannya.
"Kak aku ingin ke toilet" bisik Fina pada Aiden.
"Mau kakak temani?"
"Tidak aku bisa sendiri"
"Baiklah kalo begitu, cepatlah kembali."
Fina pun hanya mengiyakan dan berlalu berjalan menuju toilet.
"Ini membuat ku gugup, haih dimana toiletnya. Kenapa lorong ini begitu panjang si" gerutu Fina karena tidak menemukan toiletnya.
Lorong tersebut sangat minim pencahayaan, karena pada dasarnya bagian lorong ini tidak digunakan untuk acara pesta. Karena terburu buru dengan pandangan yang minim membuat Fina tidak bisa berjalan dengan baik. Dia pun terjatuh karena sepatu high hells yang dia gunakan.
"Ahh kaki aku, omo sakitnya" rintih fina kesakitan. Fina pun ingin menghubungi Aiden untuk membantunya. Tapi, bodohnya dia malah meninggalkan tas kecil nya. Tidak ada jalan lain, dia memaksakan diri untuk berdiri dan berjalan. Namun, baru saja akan mencobanya kaki Fina terasa sangat sakit. Dia pun hanya merintih kesakitan dan menangis.
"Hiikkkks hikss hikss. Bagaimana ini. Ya tuhan tolong lah hambamu ini." Fina menyerah dia hanya bisa berdoa dan berharap ada yang menolongnya.
"Kau kenapa?" Tanya seseorang yang menghampiri Fina.
Mendengar itu Fina merasa bersyukur. Dia pun mendongakan kepala nya untuk melihat siapa yang menghampirinya itu. Namun, karena gelap Fina tidak bisa begitu jelas melihatnya.
"Kaki aku terkilir, aku sangat susah untuk berjalan." Fina menjawab dengan lirih.
"Bagian mana yang sakit?" Tanya seseorang itu dengan lembutnya.
"Bagian kaki kiri"
Seseorang tersebut pun mulai memegang kaki Fina dan mulai memijatnya.
"Akan aku putar kaki kamu, bertahan lah ini sedikit sakit. Namun hanya sebentar kok"
Fina hanya berdehem mengiyakan. Dan orang tersebut dengan segera memilin dan memutar kaki Fina.
"Ahhhh sakit" rintih Fina dengan kerasnya.
"Sudah selesai bagaimana?"
Fina mulai menggerakkan kakinya pelan- pelan dan dia pun sudah merasa sedikit lebih baik.
"Ini sudah tidak sakit, terima kasih tuan."
"Syukurlah kalo begitu, seperti nya mata kaki mu terluka. Lebih baik aku obati dulu agar tidak infeksi."
"Tidak usah tuan, ini merepotkan. Kau sudah membantuku lebih dari pada cukup."
"Aku tidak merasa direpotkan, baiklah sini aku bantu kamu berdiri".
Lelaki tersebut membantu fina untuk berdiri. Sesaat saat mendengar suara lelaki tersebut Fina merasa familiar. Namun, itu hanya praduganya saja. Fina berjalan dengan dibantu oleh lelaki tersebut. Mereka berjalan berdampingan. Hingga pada akhirnya sampai lah mereka di sebuah ruangan.
Fina di dudukkan oleh lelaki tersebut di sebuah kursi. Dan lelaki tersebut berjalan kearah saklar lampu yang berada di ujung tembok untuk menyalakan lampu.
Ketika lampu di nyalakan. Fina merasa kaget. Untuk sekarang Fina yakin akan sesuatu setelah memastikannya.
"Dia .. lelaki itu"
Jangan lupa untuk vote dan berikan komentar yang membangun. Kritik dan saran sangat diperlukan untuk berkembangnya novel ini.
Terimakasih.