Way Back Into Love

Way Back Into Love
Donatur



"Ceritakan pada Ayah, apa yang sebenarnya terjadi?" Ayah menuntut penjelasan pada Aulia.


"Kalau kamu tidak mau bercerita , biar aku yang menceritakannya pada Ayah" Gino angkat bicara.


Aulia menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. Dia bagai memakan buah semalakama, cerita salah tak ceritapun tambah salah.


Susah payah dia menghentikan laju air matanya.


"Aku awalnya tidak tahu Ayah. Aku baru tahu setelah Ibu mengatakan terima kasih di telpon kepada orang suruhannya karena sudah berhasil menculik anak Emil" Aulia bercerita sambil sesenggukan.


"Aku tidak bisa memberitahu Ayah karena Ibu mengancamku. Ibu bilang Ayah sangat mempercayai Ibu dan Ibu akan membuat seolah-olah aku sengaja menjebak Ibu" Aulia melanjutkan ceritanya.


"Melihat bagaimana Ibu berhasil melakukan keinginannya membuat aku takut Ayah, apalagi aku tidak punya bukti" ucapnya pula.


"Kenapa kamu begitu bodoh? Kenapa tidak mengatakannya pada Ayah?" tanya Ayah dengan geram.


"Aku takut Ayah, Aku tidak berani. Aku juga takut kalau Ayah sampai memukul Ibu, Maafkan Aku" Akhirnya Aulia mengakui kenapa dia tidak dari dulu mengatakannya. Sikap Ayahnya yang tempramental membuat Aulia ketakutan.


"Dan Kamu Gino? Kenapa kamu juga merahasiakannya dari Ayah?" Ayah merasa dirinya dipermainkan.


Selama ini dia ikut mengancam Emil lantaran hasutan Ibunya yang mengatakan kalau Melani adalah wanita yang tidak baik. Dan salah Ayah pula karena langsung tersulut emosi dan mempercayainya.


"Aku baru tahu beberapa tahun lalu Ayah. Saat istriku menangis seorang diri karena tidak berani menyampaikan kebenarannya. Disitu aku baru tahu" jawab Gino apa adanya.


"Kenapa kalian tega begini? Kenapa merahasiakan dari Ayah?" pertama kalinya Aulia dan Gino melihat Ayah frustasi dan menangis seperti sekarang. Mereka bisa melihat penyesalan di wajah Ayahnya.


Gino dan Aulia hanya bisa menunduk. Mereka akui kalau mereka salah.


Ayah kembali mengingat bagaimana dia memaksa Emil untuk berpisah dari Melani kalau tidak karir Melani akan dihancurkan dan keluarganya juga akan dibuat huru-hara. Ayah menyesal sekali. Dia tidak menyangka kalau selama ini dia dibohongi. Ibu dengan pintar membolak balikkan fakta kalau Melani adalah wanita yang tidak baik-baik dan Emil sudah dibutakan cinta.


"Andai saja waktu itu aku merestui hubungan mereka, Emil tidak akan koma dalam waktu yang lama dan juga cucunya tidak akan hidup menderita dengan tinggal di panti asuhan."


Ayah tahu betul panti asuhan tempat di mana cucunya selama ini dititipkan adalah panti asuhan yang jauh dari kata layak.


"Maafkan kakek" Ayah bergumam dalam hati.


Dia merasa menjadi kakek yang paling jahat. Dia ambil bagian secara tidak langsung dalam menculikan tersebut.


Sikap tidak ingin ikut campur Ayah membuat Ibu dengan mempermudah kejahatannya.


"Panggilkan Emil, Ayah ingin bicara" Ayah memohon pada anaknya.


Aulia mengangguk, dia keluar dari ruangan tersebut dan memanggil kakaknya yang saat ini berada di luar.


"Kak, Ayah ingin bicara dengan Kakak" Aulia menyampaikan pesan dari Ayahnya.


Emil melepas genggaman tangannya pada Melani lalu ikut masuk ke dalam ruangan tersebut menyusul Aulia.


Tak lama kemudian suami Aulia keluar dari ruangan tersebut dan duduk di tempat Emil tadi.


"Kakak ipar, maafkan Aku" Gino berucap dengan menunduk. Dia tidak berani melihat ke arah Melani.


"Aku merasa bersalah, yang bisa aku lakukan hanya menjadi donatur untuk anakmu" aku Gino.


Flora kini tahu kenapa dia dulu begitu beruntung mendapatkan donatur yang membiayai sekolahnya hingga lulus kuliah. Ternyata itu karena bantuan dari Om nya sendiri.


Bersambung...