
Marvel mendekat ke arah Flora tapi lama-lama sosok yang dia lihat di awal sudah menghilang dan kembali dia melihat Flora seperti biasa.
"Kakak kapan datang?" tanya Flora basa basi.
"Ayo duduk kak" ajaknya pula.
"Baru saja, ini aku bawakan carrot cake kesukaanmu" jawab Marvel sambil menyerahkan kue yang dia bawa.
Flora tersenyum lebar.
"Terima kasih ya kak" sahut Flora lalu menerima kue yang Marvel berikan. Flora membiarkan Marvel dan Stefan duduk di taman sedangkan dia ke dapur membawa kue tersebut sekaligus mengambilkan minuman untuk atasan sekaligus teman kakaknya itu.
Beberapa menit kemudian dia sudah membawa tiga gelas jus dan carrot cake yang sudah di potong-potong.
Melihat kedatangan Flora yang lagi-lagi terkena sinar matahari membuat Marvel kembali melihat sosok lain di gadis itu. Saking terkejutnya Marvel sampai berdiri.
"Kenapa?" tanya Stefan terheran.
Marvel mengucek-ucek matanya dan kembali melihat Flora seperti biasa. Tiba-tiba saja kepala Marvel rasanya pening. Dia pijat pelipisnya guna menghilangkan rasa sakit kepalanya.
Flora letakkan minuman dan kue di atas meja dan duduk tepat di depan Marvel.
"Kenapa kak?" tanya Flora terdengar khawatir.
Kepala Marvel masih berdenyut dan matanya dia pejamkan. Hampir 5 menit dia seperti itu hingga pelan-pelan dia membuka mata.
Deg
Deg
Deg
Kembali dia melihat sosok berbeda, bukanlah Flora yang biasanya.
"Siapa kamu?" tanya Marvel.
"Kamu kenapa sih Vel? Aneh-aneh saja. Dia adikku lah" Stefan yang menjawab.
Marvel kembali memijit keningnya dan menutup kedua matanya. Makin lama kepalanya semakin pening hingga rasanya dia tidak bisa menahannya lagi. Dalam hitungan detik Marvel pun tidak sadarkan diri.
.....
Marvel membuka matanya secara perlahan. Langit-langit kamar bernuansa putih yang pertama kali dia lihat. Dia tahu itu kamar siapa. Itu adalah kamar Stefan.
Setelah kesadarannya mulai pulih, Marvel duduk bersandar di kepala ranjang. Kamar tersebut sepi tidak berpenghuni. Tak berapa lama Stefan datang dengan membawa bingkai foto.
"Aku sudah mendingan. " jawab Marvel apa adanya.
"Apa itu?" tanya Marvel penasaran karena Stefan terlihat berbinar melihat bingkai foto yang dia bawa.
Stefan nampak tersenyum.
"Aku mengambilnya di kamar Anya. Aku tidak tahu siapa. Aku sengaja ambil karena aku kira gadis ini rekan kerja Anya. Kamu tahu siapa gadis ini?" tanya Stefan sambil menyerahkan foto Flora pada Stefan.
Deg
Deg
Deg
Dada Marvel semakin bergemuruh karena foto yang dibawa Stefan adalah sosok yang dia lihat di tubuh Flora tadi.
"Kamu tahu siapa gadis ini?" tanya Stefan terlihat begitu penasaran.
Marvel mengambil foto itu dan mengamatinya. Dia semakin yakin kalau gadis di foto itu adalah sosok yang dia lihat tadi pada diri Flora.
Marvel menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak tahu, aku tidak pernah melihatnya" jawab Marvel.
"Padahal aku penasaran sekali. Gadis ini cantik sekali" ucap Stefan.
"Aku sudah berharap kalau dia salah satu staff disana" ucapnya pula.
Tak berapa lama terdengar pintu kamar di ketuk. Suara Flora terdengar dari luar.
"Masuk aja" sahut Stefan.
Dengan tersenyum Flora masuk ke kamar tersebut. Tapi kini Marvel tidak melihat sosok yang ada di foto pada diri Flora. Dia sudah seperti semula.
"Siapa ini Anya?" tanya Stefan sambil menunjuk bingkai foto yang masih Marvel pegang.
Deg.
Jantung Flora berdetak hebat. Dia tidak menyangka kalau Stefan akan mengambil foto itu.
Marvel tentu langsung bisa membaca perubahan raut wajah Flora ketika mendengar pertanyaan Stefan.
Bersambung...