
Belum sempat Melani keluar dari ruangan tersebut, terdengar suara sesuatu yang jatuh dari ranjang Emil. Tentu saja Flora dan Melani langsung membalik tubuh mereka. Rupanya alat pendeteksi denyut jantung terlepas dari jemari Emil.
Melani mendekat ke arah ranjang sedangkan Flora memanggil petugas medis, dia takut salah dalam memasangkan alat tersebut.
Dapat Melani lihat kalau jari jemari Emil mulai bergerak.
Deg
Deg
Deg
Melani tidak bisa mengekspresikan bagaimana perasaannya saat ini. Pria yang begitu dicintainya sudah mulai memperlihatkan tanda-tanda kesadaran.
"Sayang..." Melani kembali menggenggam erat tangan Emil dan kali ini tangan tersebut membalas genggamanya.
Melani kembali terisak. Luapan kebahagiaan saat ini begitu dia rasakan.
Pelan-pelan Emil terlihat membuka matanya. Melani menunggu itu dengan dada yang bergemuruh hebat.
Mata mereka bertemu.
"Sudah berapa lama kita berpisah?" tanya Emil dengan terbata.
Melani tidak bisa menjawab karena masih sesenggukan. Dia terus menangis hingga terisak.
Emil angkat tangannya dan elus wajah wanita yang begitu dia cintai. Wanita yang sudah tidak semuda saat terakhir kali mereka bertemu tapi kecantikannya masih sama bahkan berkali-kali lipat lebih cantik dari sebelumnya.
"Mama..." tak berapa lama Flora dan petugas medis datang. Emil melihat ke arah Flora. Matanya berkaca-kaca karena untuk pertama kalinya dia melihat putrinya. Putri yang begitu cantik dan mirip sekali dengan Melani.
Flora begitu terkejut karena ternyata Papanya sudah sadarkan diri.
"Di di a putri kita?" tanya Emil dengan terbata.
"Iya, dia Ilona" jawab Melani sambil menuntun Flora mendekati papanya.
Flora sudah berlinang air mata, tak menyangka kalau akhirnya dia diberi kesempatan untuk berbicara seperti ini dengan Papanya.
"Pa...Aku Flora" Flora kembali memperkenalkan diri. Ingin sekali Emil mendudukkan tubuhnya tapi efek koma hampir dua puluh tahun membuat dia susah bergerak.
Emil begitu terharu karena kedua wanita yang dia cintai ternyata masih hidup.
Emil membawa tubuh Flora ke dalam pelukannya.
"Maafkan Papa nak... Maafkan keluarga Papa..." Emil semakin terisak. Sakit hatinya ketika tahu bahwa selama ini dia telah dibohongi. Dengan tega Ayah dan Ibunya mengatakan kalau Melani serta anak mereka telah meninggal dunia.
Cukup lama Emil memeluk putrinya.
Setelahnya dia beralih meraih tangan Melani.
"Ela...maafkan Aku. Aku terpaksa melakukan itu. Bukan karena aku menyerah pada hubungan kita, tapi aku tidak ingin mereka melukaimu".
Banyak tekanan yang Emil terima hingga dia terpaksa melepaskan Melani. Emil mengira ketika dia sudah melepaskan Melani maka orang tuanya tidak lagi akan mengusik wanitanya, tapi ternyata salah. Emil malah mendengar sendiri dari mulut Ibunya kalau Melani telah meninggal bersama anak yang ada dalam kandungannya dan meninggalnya Melani karena Ibunya sengaja menyuruh orang untuk mencelakainya.
"Aku hancur. Aku tidak bisa berpikir. Aku kecewa pada Ibuku. Aku tidak mempunyai semangat hidup hingga aku sengaja bunuh diri dengan terjun ke jurang".
Melani berhamburan ke pelukan Emil. Rasa bersalah semakin menggelayuti hatinya karena selama ini sudah berburuk sangka. Melani bahkan sering mendoakan hal yang buruk tentang Emil karena dia begitu benci dan dendam pada keluarga itu.
"Maafkan aku" Emil kembali meminta maaf.
Flora terharu melihat orang tuanya yang kembali bersatu. Dia berharap semoga tidak ada lagi halangan dalam hubungan mereka. Cukup sudah restu keluarga di masa lalu yang menjadi hambatannya dan semoga orang tua Emil tidak lagi berlaku sama mengingat usia mereka tentu sudah tidak muda lagi. Apa lagi yang mereka cari? Bukankah kebahagian anak yang paling penting?.
Bersambung...