
Fina terbangun dari tidurnya. Segera ia beranjak menuju kamar mandi. 30 menit berlalu Fina telah siap dengan menggunakan kemeja putih yang ia lipat sedikit kedalam celana jeans hitam dipadu dengan rambut yang ia urai panjang namun diselipkan sedikit dengan penjepit rambut. Terlihat cantik dengan proposional tubuh yang begitu sempurna. Fina turun dari kamarnya menuju ruang makan.
Ting tong ting tong
Seseorang membunyikan bel rumahnya. Fina teralihkan, dengan segera ia berjalan menuju pintu rumahnya untuk melihat siapa orang yang pagi-pagi begini bertamu ke rumahnya.
Fina membukakan pintu rumahnya.
"Bibi hanum, ada apa kerumah bi?" Tanya Fina kepada wanita separuh baya yang merupakan pembantu dirumah Fina.
"Maaf non, saya mau mengantarkan bahan makanan dan mau bersih-bersih rumah non" balas Bibi hanum menjelaskan.
"Sekarang masih hari jumat bi, biasanya kan hari minggu bibi kerumah".
Pasal nya Fina cukup paham bahwa pekerjaan bibi hanum dirumahnya hanya ada di hari minggu. Kehadiran bibi Hanum di hari jumat ini membuat nya sedikit kaget.
"Iya non maaf, hari minggu ini saya ada keperluan. Jadi saya ubah jadwal minggu ini di hari jumat" jelas bibi hanum.
"Hmm begitu, yasudah masuklah bi. Fina bantu bawa belanjaannya" Fina mengambil sebagian tas belanjaan yang di bawa bibi hanum.
"Tidak usah non, bibi sanggup kok non" tolak bibi hanum merasa tidak enak dengan majikannya.
"Hanya membawa sebagian ke dapur bi" ucap Fina lembut.
"terimakasih non"
Fina dan bibi hanum masuk kedalam rumah, mereka berjalan menuju dapur untuk meletakkan bahan makanan.
"Non Fina sudah sarapan?" Tanya bibi hanum pada Fina yang sedang membantu merapikan bahan-bahan makanan.
"Belum bi" Fina menggelengkan kepalanya.
"Mau bibi buatkan apa non?"
"Nasi goreng dengan 2 telur ya bi" Ucap fina dengan menunjukkan kedua jari nya.
"Siap non".
##############
Fina memakan sarapannya yang telah disajikan oleh bibi Hanum. Setelahnya dia beranjak dari tempat duduk.
"Bi, fina minta tolong buatkan bubur jagung dan susu hangat untuk Tiara ya". Ucap Fina sesaat sebelum pergi.
"Non Tiara disini non? Tanya bibi hanum
"Iya, Tiara ada dikamarnya"
"Baiklah non"
"Yasudah bi, kalo begitu. Fina minta tolong juga jagain Tiara ya bi, kalo ada apa-apa hubungi fina. Fina berangkat ya bi"
"Hati-hati non".
Fina hanya menganggukkan kepalanya dan berlalu keluar dari rumahnya.
################
Pagi ini Fina pergi bukan untuk kuliah maupun berkencan dengan kekasihnya. Dia sudah bertekad akan memberikan pelajaran yang paling berharga untuk Revan Wijaya.
Mobil Fina telah sampai di perkarangan kampus Tiara. Banyak mata mahasiswa dan mahasiswi kampus yang memandang Fina kagum setelah ia keluar dari mobil dan berjalan di sepanjang lorong kampus untuk menemui Revan Wijaya. Namun, Fina tidak begitu menghiraukan pandangan orang. Ia berjalan dengan anggun bak seorang model yang berada di catwalk.
#############
"Kenapa nomornya tidak aktif" gumam Faizi saat sudah beberapa kali menghubungi nomor kekasihnya, tapi tidak pernah tersambung.
"Apa dia belum bangun, tapi ini sudah jam 8 lebih." Ucap Faizi pada dirinya sendiri. Setelah berfikir lama ia mencoba menghubungi Aiden.
"Halo"
"Aiden kau tau dimana Fina, aku menghubungi ponselnya tidak tersambung dari tadi" Kata Faizi khawatir.
"Bukankah dia tidak ada jadwal, mungkin dia sedang tidur." Aiden menjawab santai.
Jawaban Aiden tidak membuat nya tenang. Hingga tiba-tiba pikirannya teralihkan, cerita Aiden mengenai lelaki yang membuat Tiara menangis. Entah mengapa ia merasa bahwa Fina pasti menemui lelaki itu untuk balas dendam.
"Kau tau di mana kampus Tiara?"
"Kenapa kau tanya itu?"
"Jawab saja pertanyaanku?"
" Wijaya University"
"Baiklah terimakasih".
Dan sambungan telepon pun terputus. Faizi bergegas mengambil kunci mobil nya dan pergi ke kampus Wijaya.
###############
Revan Wijaya yang mengaku diri nya seorang anak dari konglomerat pemilik rumah sakit dan kampus besar di kota ini, kini tengah mengadu kesakitan. Pasalnya, lelaki tersebut baru saja mendapatkan serangan keras dari kakak perempuannya, Victoria. Revan wijaya memiliki 2 kakak, namun hanya Victoria yang berani dan tidak segan-segan untuk memberikan pelajaran pada Revan jika adiknya itu berulah kembali, walaupun di lingkungan kampus sendiri. Lihat saja saat ini, Victoria selaku wakil rektor di kampus itu harus memutuskan urat malunya terlebih dahulu untuk bersikap seperti ibu-ibu yang sedang memarahi anaknya.
"YAAKK!!! Dasar anak nakal, tidak bisa kah kau sehari saja tidak berbuat ulah terus. Aku lelah mendengar orang lain bergosip tentang kelakuan buruk mu ini"
"Aku tidak menyuruhmu untuk mendengarkan omongan orang lain"
"Tapi mereka membicarakan mu berulang-ulang. Bagaimana kupingku tidak panas huh, Revan Wijaya"
Victoria memberikan pukulan berkali-kali dibadan Revan dengan tas yang berbahan kasar dan keras, agar ia merasa puas untuk memukul Revan.
"Cepatlah kau duduk!!"
Beruntung ada Victoria yang mampu membuat Revan seperti ini, jajaran pihak kampus yang memandang Revan sebagai anak pemilik kampus saja tidak berani mengusiknya.
Revan terus berteriak tidak jelas ketika dirinya menerima jambakan dari Victoria dirambut hitamnya terasa begitu perih. Wanita itu juga mencubiti perut adik lelakinya sebagai balasan atas perbuatannya karena hanya dirinya yang berani melakukan itu pada Revan.
Dari ujung arah kiri, Fina berjalan menuju sebuah ruangan wakil rektor, petinggi kampus yang ia yakini merupakan anak pemilik kampus ini. Fina terus berjalan hingga langkah kakinya terhenti ketika dirinya telah sampai di depan ruangan itu. Pintu ruangan itu sedikit terbuka. Fina melihat seorang lelaki yang tengah tersiksa dengan perlakuan seorang wanita di dalam ruangan itu. Fina merasa kenal akan kedua sosok yang berada di depannya. Hingga ia melanjutkan langkahnya pada pintu untuk mendengar percakapan mereka lebih jelasnya.
"Sekarang jelaskan pada kakak permasalahan mu itu, kenapa kau berbuat seperti itu huh"
Victoria berkata keras pada Revan.
"Haih bukan urusanmu kak"
"Tentu saja itu urusanku, karena kau melibatkanku. Dan juga karena kau mahasiswa aktif dikampus ini"
"Aku membenci gadis itu"
"Apa masalahmu sebenarnya?"
"Dia gadis kumel yang sombong"
"HAH!! Revan Wijaya! Kau kekanakan, kapan kau berubah?. Jika kau selalu dengan mudah menghina orang maka kau akan di penjara."
"Aku tidak begitu peduli. Aku bisa keluar kembali dengan uang."
"Kau ini menjawab terus" Victoria menjitak kepala Revan dengan begitu kerasnya.
"Kakak sakit ".
Fina terdiam, dia sungguh sangat kesal mendengar perkataan lelaki itu. Emosinya tidak bisa dikendalikan lagi. Hati nya merasa sakit jika sahabat kecilnya dihina seperti itu.
Dengan langkah berani dan cepat fina masuk kedalam ruangan itu. Sontak membuat Victoria dan Revan kaget ketika melihat orang lain masuk. Refleks mereka berdua berdiri dari tempat duduknya.
PLAK
PLAK
Dua tamparan secara tiba-tiba sukses Fina daratkan dipipi Revan. Fina bisa melihat ekspresi keterkejutan dari mimik wajah Revan dan wanita yang ada di sampingnya, Victoria.
PLAK
Tidak, dua tamparan belum cukup baginya. Fina tambahkan lagi bonus pada lelaki yang sukses membuat sahabatnya itu menderita dan benar-benar terhina atas perbuatannya itu. Tamparan tersebut membekas merah dipipi mulus nan putih milik Revan.
"YAK!!" Teriak Revan setelah dirinya sadar dari keterkejutannya.
"Siapa kau? Dan apa yang kau lakukan? Kenapa menamparku?" Teriak Revan kembali sambil mengelus pipi nya.
"Aku, apa yang aku lakukan? Aku hanya ingin membalas penghinaan yang kau berikan pada Tiara" jawab Fina tegas.
"Apa? Apa hubunganmu dengan nya?"
"Hubungan ku dengan Tiara itu sangat erat, jadi jangan pernah kau menghina Tiara lagi."
Revan tertawa kecil
"Cih, kenapa kau mencampuri urusan orang lain nona"
"Tiara bukan orang lain, dia anggota keluarga Agatha. Jika, dia tertimpa masalah. Maka masalahnya termasuk masalahku juga."
Victoria terkejut dengan penuturan Fina. Victoria mengenal Fina sekilas saat pertemuan perayaan ulang tahun perusahaan. Namun, wanita itu tetap diam di tempat tanpa berniat melerai dan menyasikkan pertengkaran mereka sebagai tontonan.
"Kau terlalu cantik dan istimewa untuk membela gadis kumel seperti dia nona."
"Jaga bicara mu Revan Wijaya. Dan berhenti berkata gadis kumel pada Tiara. Huh aku rasa kau pantas menerima ini"
Fina sudah mulai jengah dengan perkataan Revan. Ia mengambil botol yang sudah ia bawa dari rumah untuk membalas penghinaan yang diterima Tiara.
BBBBYYYYUUUUUURRRRRRRR
Revan gelagapan ketika menerima sebuah guyuran air bewarna hitam yang berbau amis di sekitar badannya.
"Itu adalah saos ikan belut. Aku baru membelinya, aku membelikan hadiah yang bagus kan untukmu"
Fina tersenyum puas melihat Revan yang terlihat jijik. Merasa urusannya selesai ia pun melangkah untuk pergi. Sebelum pergi Fina mengucapkan sesuatu. Ia berbalik dan menghadap ke arah wanita di samping Revan, Victoria.
"Maafkan saya sudah membuat ruangan anda menjadi kotor dan bau. Saya akan menghubungi layanan kebersihan untuk membersihkan ruangan anda seperti semula nona Victoria"
Fina berkata lembut dan membungkukkan badannya sopan. Dan Victoria hanya tersenyum menanggapinya.
Setelahnya Fina benar-benar berlalu pergi. Terlihat banyak sekali manusia kurang kerjaan yang mengerubungi ruangan ini. Dan ini cukup membuat Revan malu seperti hal nya yang di rasakan Tiara.
"YAK!!! Fina tertawa kecil saat Revan teriak tidak jelas.
Victoria yang berada disamping Revan hanya tertawa geli, benar-benar tontonan yang menarik. Tidak hanya Victoria, Teman-teman Revan dan kekasihnya Yuna kini mengerubungi Revan dengan tertawa mengejek.
"YAK!!!YAK !! berhenti tertawa kalian semua"
"Omo Re.. kau bau" ujar Yuna yang meledek dengan keras sambil menutupi hidungnya.
Revan semakin tidak karuan ketika menyadari ada kekasihnya disitu, bagaimana jika Yuna merasa Ilfell padanya.
Revan merasa geram dengan semuanya. Dia berjanji akan membalas kembali penghinaan ini.
###################
shyshy kembali.. maaf atas keterlambatannya.
jangan lupa readers untuk like komen dan berikan vote pada novel ku ini.
terimakasih banyak semuanya