Way Back Into Love

Way Back Into Love
Memendam Rasa Sakit



Sekitar pukul 9 lebih Flora baru tiba di apartemen. Melani sudah tiba lebih dulu. Saat masuk ke dalam rumah, Melani sedang duduk termenung dengan tatapan menerawang jauh. Dia bahkan tidak menyadari kedatangan Flora, padahal anaknya itu sudah memberi salam.


"Mama kenapa?" tanya Flora yang sudah ikut bergabung di sebelah Melani.


Melani cepat-cepat menghapus air matanya, tidak ingin Flora menyadari kalau dia sedang menangis.


Melani tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya.


"Mama tidak apa-apa kok. Liam mana?" tanya Melani mengalihkan pembicaraan.


"Liam pulang ke rumahnya ma, tadi hanya mengantar sampai di lobby" jawab Flora.


Melani menganggukkan kepala kemudian tersenyum.


"Kamu sudah makan kan? " tanya Melani pula.


"Sudah ma, Mama sudah makan?" Flora balik bertanya.


"Sudah nak, ya sudah mandi dulu ya ini sudah malam" ucap Melani kemudian.


Flora tidak langsung menjawab. Dia perhatikan wajah Ibunya yang terlihat sekali kalau habis menangis.


"Mama kenapa?" Flora mengulang pertanyaannya.


"Mama gak apa-apa sayang" Melani mengelus puncak kepala putrinya seolah memberi tahu kalau dia memang baik-baik saja.


"Mama bisa kok cerita padaku, apa pekerjaan Mama kurang baik hari ini?" tanya Flora.


Melani menggelengkan kepala.


"Semuanya baik-baik saja sayang" balas Melani.


"Mama hanya merindukan Papamu. Walau sekarang dia sudah bahagia dengan kehidupan barunya dan melupakan kita tapi Mama tetap tidak bisa membencinya" tanpa terasa air mata Melani kembali menetes. Walau seperti apapun dia berusaha menghapus nama Emil dalam hatinya tapi dia tetap tidak bisa. Emil sudah masuk terlalu dalam ke dalam relung dan jiwanya.


Flora memeluk Ibunya dan mereka sama-sama menangis.


"Tidak nak, Mama yakin Papamu sekarang sudah bahagia dengan wanita pilihan orang tuanya. Mereka pasangan yang serasi" elak Melani.


Flora urai pelukannya. Dia genggam kedua tangan Ibunya dengan erat.


"Saat orang tua Liam mencari tahu tentang aku, mereka mendapatkan informasi tentang Papa" Flora memulai ceritanya.


"Papa mengira kalau kita sudah meninggal ma" lanjutnya.


Melani terdiam. Entah percaya atau tidak percaya.


"Setelah mendengar kabar kalau Mama dan aku telah meninggal, Papa bunuh diri tepat di hari pernikahannya" Flora melanjutkan ceritanya.


Melani begitu syok. Dia menutup mulut dengan kedua telapak tangannya.


"Jangan bilang kalau Papamu sudah meninggal" Melani kini sudah sesenggukan. Dia tidak bisa menerima berita yang baru saja dia dengar.


Flora menggelengkan kepalanya.


"Papa koma ma, Liam berjanji akan mempertemukan kita dengan Papa. Itulah kenapa Liam sekarang pulang. Dia akan meminta bantuan Papanya agar kita bisa bertemu dengan Papa".


Melani kembali memeluk putrinya. Dia menangis sejadi-jadinya.


"Kenapa harus seperti ini jadinya? Hu...hu...hu...." Tidak bisa digambarkan bagaimana sakitnya hati Melani saat ini.


"Apa salah Mama pada mereka? Kenapa mereka sebegitu tidak sukanya pada Mama? Sampai-sampai mereka tega membohongi Papamu dengan mengatakan kalau kita sudah meninggal. Dan yang paling mama tidak bisa terima adalah mereka membuangmu ke panti asuhan. Padahal jelas-jelas kamu adalah cucu mereka. Hu....hu....hu...." sakit rasanya hati Melani.


Bertahun-tahun dia memendam rasa sakit hatinya. Memendam amarah dan juga dendam di jiwanya atas apa yang sudah keluarga Emil lakukan pada dirinya.


"Walau miskin, Mama tidak ada niatan sedikitpun untuk merebut harta mereka. Tapi kenapa mereka setega ini pada kita?".


Flora sudah banjir air mata seperti ibunya, miris memang hanya karena status sosial seorang nenek dan kakek tega membuang cucunya sendiri.


Bersambung...