
Entah bagaimana caranya akhirnya Liam berhasil mempertemukan Flora serta Mamanya dengan sang Papa yang saat ini sedang di rawat di salah satu rumah sakit swasta di kota mereka. Tidak ada luka fisik yang terlihat tapi hingga kini Emil masih dalam keadaan koma. Hanya alat-alat medis sebagai penunjuk kalau saat ini Emil berada di dunia ini.
Flora dan Mamanya sudah mengenakan pakaian medis. Baru memasuki ruangan tersebut Melani sudah tidak bisa membendung air matanya. Dia setengah berlari mendekati ranjang Emil.
Air mata melani sudah jatuh bercucuran. Terlihat jelas dimatanya ada berjuta rasa rindu yang begitu membuncah. Tak hanya itu rasa khawatir akan keadaan Emil pun begitu kentara terlihat disana. Melani genggam tangan pria yanh sampai saat ini masih dia cintai begitu dalam.
"Sayang...Ini Aku Ela. Aku datang menjengukmu" Melani berucap dengan terbata. Dia menutup matanya dan bahunya naik turun dengan begitu hebatnya. Rapuh. Satu kata itu bisa menggambarkan perasaan Melani saat ini. Dia tidak tega melihat prianya yang dia kenal kuat dan sehat kini berbaring lemah di rumah sakit dalam keadaan koma.
"Apa kamu mendengar aku?" Melani kembali berucap.
"Aku masih hidup sayang".
Susah sekali Melani berucap karena tangisannya yang tak kunjung berhenti.
Flora menepuk-nepuk pundak Ibunya menguatkan.
"Aku datang bersama anak kita. Anak kita begitu cantik sayang. Apa kamu tidak ingin bertemu dengan anakmu?".
"Anak kita memiliki mata indah seperti dirimu" Melani semakin terisak. Tubuhnya sudah tidak kuat berdiri karena kakinya begitu bergetar.
Flora menarik kursi dan mendudukkan ibunya disana. Tangan Melani masih menggenggam erat tangan Emil dan sesekali menciuminya.
Flora kembali menepuk-nepuk pundak Ibunya.
"Mama harus kuat ya, demi Papa" ucap Flora.
Bukannya berhenti menangis, Melani malah semakin terisak. Dia mengingat kembali bagaimana tersiksanya dia dua puluh tahun kebelakang ini. Dia dengan kebenciannya yang mengira kalau Emil sudah tidak peduli dan dengan tega membuang anak mereka. Dua puluh tahun itu Melani hanya isi dengan penyesalan dan dendam.
Melani menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Sungguh dia begitu tersiksa dan sesak.
"Pa.. Aku Flora anak Papa" Flora mulai memperkenalkan diri.
"Tapi Mama memberiku nama Ilona Louise" lanjutnya.
"Papa cepat sembuh ya, Pa. Aku ingin sekali merasakan memiliki keluarga yang utuh. Dari dulu aku bertanya-tanya kenapa orang tuaku menitipkan ku di panti asuhan."
Flora menjeda ucapannya.
"Tapi tak sekalipun aku membenci kalian. Kini aku tahu alasannya. Aku tahu kalau Papa dan Mama tidak pernah berkeinginan membuangku."
"Jadi Papa harus sembuh ya, agar kita bisa memiliki keluarga yang utuh".
Flora mencium punggung tangan Papanya untuk yang pertama kali. Berharap Ayahnya segera sembuh seperti sedia kala.
Saat itu juga petugas medis datang dan meminta mereka untuk mengakhiri sesi kunjungan karena biasanya sebentar lagi keluarga Emil entah itu Ayah atau Ibunya pasti datang berkunjung.
"Pa...Flora pulang dulu ya. Aku pasti akan sering kesini" pamitnya.
Melani menepuk-nepuk dadanya. Dia tarik dan keluarkan nafasnya secara perlahan. Setelah dirasa dirinya sudah lebih tenang, Melani bangun dari duduknya dan mencium kening Emil penuh perasaan.
"Cepat sembuh sayang. Berjuanglah untuk kami" bisik Melani. Air mata Melani tanpa sengaja mengenai pipi Emil.
"Ayo Ma kita pulang" Flora lalu menuntun Melani keluar dari ruangan tersebut.
Bersambung....