Way Back Into Love

Way Back Into Love
Tak Lagi Sama



Untuk beberapa detik Flora terdiam di tempatnya. Dadanya kian bergemuruh dengan hebatnya. Air mata tiba-tiba sudah menganak di pelupuk matanya. Dia masih belum menyangka akan bertemu disini dengan keadaan seperti ini. Bukan hanya Flora yang terdiam tapi juga Marvel.


“Al…” ucap Marvel memanggil nama orang itu. Dia adalah Liam, Pria yang begitu Flora cintai. Pria yang pernah menjadi suaminya di masa yang berbeda.


Liam hanya menganggukkan kepala, tidak seperti Liam yang Marvel kenal. Tanpa berucap apapun dia langsung meninggalkan kedua orang tersebut.


Liam berjalan ditemani asistennya dengan begitu percaya diri.


Nando yang baru saja keluar dari lift berikutnya melihat heran pada kedua sahabatnya. Marvel terlihat begitu terkejut sedangkan Flora seperti menahan tangis.


“Kenapa?” tanya Nando terheran. Nando mengikuti arah pandang keduanya.


“Kalian ada masalah dengan direktur yang baru?” tanya Nando penasaran.


Mendengar itu tambah terkejut pula marvel jadinya.


“Alvaro direktur disini?” tanyanya pada Nando.


“Iya, Pak Liam Alvaro” jawab Nando.


“Kemarin beliau kunjungan ke semua divisi” jelas Nando pula.


“Orangnya baik dan ramah. Semoga Pierry semakin berjaya di bawah kuasanya”. Nando bercerita cukup banyak tentang pertemuan pertamanya kemarin dengan Liam.


Ketiga orang itu pun melanjutkan perjalanan menuju ruangan mereka dengan isi kepala yang berbeda-beda.


Flora termenung begitu sampai di meja kerjanya. Tatapan Liam tidak lagi seperti dulu, bahkan dia terlihat enggan melihat ke arah dirinya.


“Bukankah ini yang kamu mau Flo? Bukankah kamu sendiri yang tidak ingin bertemu dengannya lagi”.


Lamunan Flora harus berakhir karena Valeria memanggil namanya.


“Anya kamu dipanggil Pak Marvel ke ruangannya” ucap Valeria terdengar ketus.


“Iya kak” jawab Flora lalu segera menemui Marvel.


“Kenapa Kak Marvel tumben tidak memanggil sendiri ya?” gumam Flora dalam hati.


Selepas kepergian Flora, Valeria dan Wanda mulai menggosipkannya lagi.


“Kenapa dia bisa kerja lagi? Bukannya sebulan lamanya dia dirumahkan?” ucap Valeria tidak terima.


“Kalau benar begitu kita lapor ke HRD aja” usul Valeria.


Nando yang mendengar itu hanya bisa geleng-geleng kepala.


“Biar saja mereka menemui HRD biar malu sekalian” gumamnya dalam hati.



“Kakak memanggilku?” tanya Flora begitu masuk ke dalam ruangan Marvel.


Marvel menganggukkan kepala.


“Aku beberapa kali menghubungi via telepon dan chat tapi kamu tidak jawab. Makanya aku hubungi melalui intercom” jawab Marvel.


“Benarkah? Aku tidak mendengarnya. Maaf kak” ucap Flora merasa bersalah.


“Tidak apa-apa” ucap Marvel memaklumi.


“Siap-siap ya, kita ke Shopping Center sekali lagi. Ada beberapa berkas yang harus dilengkapi” ucap Marvel.


“Iya kak” jawab Flora patuh.


Marvel bisa melihat kalau Flora terlihat begitu murung.


“Ternyata pengaruh Alvaro pada diri Anya begitu besar” gumam Marvel dalam hati”.


“Apa Al sudah melupakan Anya? Tadi bahkan dia terlihat enggan melihat kami. Alvaro kenapa ya?” ucapnya pula dalam hati.


Marvel merasa kehilangan adik sekaligus sahabatnya itu. Bagaimanapun juga dia dan Liam sudah berteman sejak kecil.


“Apa Empat tahun bisa berubah perasaan Alvaro pada Anya?”.


Marvel hanya menghela nafas kasar. Sebenarnya dia juga sedikit kecewa karena Liam tidak seperti dulu lagi padanya.Padahal dulu mereka bertiga begitu dekat.


“Kemana ya Alvaro yang dulu? Semuanya berubah dan tak lagi sama”.


Bersambung...