Way Back Into Love

Way Back Into Love
Menyetujui



Kabar Liam yang menemani Flora di rumah sakit tentu saja di dengar sang Papa. Alvin merasa ada sesuatu yang aneh dengan putranya. Dia sampai memanggil Samuel ke kediamannya untuk menceritakan apa yang terjadi.


Samuel menundukkan kepalanya. Dia takut kalau nanti akan salah bicara.


"Saya tidak suka mengulang pertanyaan, bisa kamu ceritakan apa yang terjadi?" tanya Alvin dengan tegas.


Glek.


Samuel menelan ludahnya paksa. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Biar bagaimanapun dirinya memang bekerja dengan Alvin dan diminta untuk menjadi asisten Liam.


"Sebenarnya saya juga bingung pak" Samuel mulai menceritakan berdasarkan apa yang dia lihat.


"Saat awal-awal kami di Pierry, Pak Al sangatlah ramah dan tenang, tapi ketia bertemu dengan sahabat lamanya Pak Marvel, beliau mulai ketus. Ternyata alasannya karena Pak Al cemburu pada kedekatan Pak Marvel dengan Bu Anya" Samuel menjeda ceritanya.


Alvin tidak mencela sama sekali, dia membiarkan Samuel melanjutkan ceritanya.


"Lalu suatu ketika, Bu Anya mengatakan kalau dia adalah Flo."


Samuel menghela nafas. Takut kalau Alvin menganggapnya berbohong.


"Pak Al mengatakan kalau dia sudah tahu kalau Bu Anya itu Flo. Pak Al juga mengatakan Flo itu istrinya".


Alvin membelalakkan matanya. Sangat merasa aneh dengan cerita Samuel.


"Lalu mereka berpelukan dan menangis hingga akhirnya tiba-tiba Bu Anya pingsan.


Pak Al panik dan langsung mengajak Bu Anya ke rumah sakit. Tapi... Begitu Bu Anya sadar, dia tidak mengenali Pak Al."


Alvin kembali bertanya-tanya, tapi tak sedikitpun dia menyela.


"Tiba-tiba saja Pak Al berteriak mengatakan kalau Bu Anya bukan Flora dan keluar dari ruang rawat tersebut."


"Di luar gedung rumah sakit Pak Al menangis histeris, berulang kali beliau meneriakkan nama Flora".


"Mereka berpandangan lalu saling menghampiri satu sama lain dan berpelukan".


"Begitulah pak, seperti di film. Saya tidak berbohong karena memang seperti itu kenyataannya" Samuel yakin Alvin tidak akan mempercayai ceritanya.


"Dan satu hal lagi, nama gadis itu tertera Ilona Louise, bukan Flora yang seperti Pak Al katakan" jelas Samuel pula.


Alvin memijit keningnya yang tiba-tiba pening. Sama sekali dia tidak bisa menebak apa yang terjadi.


"Tapi Pak, mereka terlihat saling mencintai dan sudah mengenal satu sama lain dari lama. Padahal kata perawat Ilona itu pindahan dari luar negeri dan tidak bisa berbicara bahasa sini. Tapi dengan Pak Al mereka sungguh lancar berbahasa".


Alvin termenung. Dia menelisik kilas balik perubahan sikap putranya yang menjadi begitu dewasa sejak beberapa tahun terakhir. Wawasannya juga terlihat begitu luas padahal seharusnya dia belum mempunyai pengalaman seperti itu.


"Kamu boleh pergi" ucap Alvin kemudian.


Samuel mengangguk dan menunduk hormat kemudian keluar dari ruangan tersebut.


"Semoga Pak Al tidak marah padaku" gumam Samuel dalam hati.


Sedangkan di rumah sakit, Flora sudah diperbolehkan pulang. Selama status mereka yang bukan siapa-siapa untuk saat ini, Liam terpaksa mengajak Flora untuk tinggal di apartemen.


"Ayo kita menikah, kamu tahu aku sangat merindukanmu" Liam menggenggam erat tangan Flora saat mereka sudag merada di dalam apartemen. Liam tidak ingin berbuat dosa yang akan menghancurkan masa depan mereka sendiri.


"Tapi aku belum lulus" jawab Flora. Dia tidak ingin mempermalukan Liam dan keluarganya atas status pendidikannya.


"Aku sudah meminta Samuel mengurusnya.Setelah lulus senior highschool kita akan menikah dan kamu bisa melanjutkan pendidikan setelahnya" ucap Liam. Tatapannya begitu memohon meminta Flora untuk menyetujuinya.


Flora menganggukkan kepala.


"Baiklah....".


Bersambung....