
Karena dirinya menjadi pusat perhatian Kavana pun tersenyum, "Aku bintang agung posisi pertama, Kavana. Dan dia …" Kavana menunjuk Elena yang ada diudara bersama Rota, "Dia bintang agung posisi kedua, Elena."
"Eh! Elena yang itu? yang baru level dasar?"
"Mana mungkin, jelas sekali ini tidak seperti yang di rumorkan."
"Ya ampun, kekuatan tenaga dalamnya sangat besar. Menakutkan."
Semua kesatria akademik itu merubah pandangan mereka akan Elena. Namun masih ada beberapa yang menyangkal, mereka berpikir itu hanya Elena dengan nama yang sama saja.
"Mungkin, ada Elena lain di akademik ini yang memang murid sampah seperti dalam berita," ucap salah satu kesatria mengundang amarah Kavana.
"Benar. Bagaimana mungkin level dasar bisa punya kekuatan tenaga dalam sebesar ini," tambah yang lain.
"Sayang sekali, nama Elena di akademik ini hanya ada satu dan dia ada di udara sana." Kavana menyela percakapan mereka, "Dia hanya murid di level dasar, apa kalian paham sekarang?"
Paham kesatria itu langsung mengangguk dengan cepat, mereka takut dengan tatapan Kavana.
Setelah tetua ketiga datang yakni pemimpin pavilliun racun bagian dalam menara, ia memarahi Elena habis-habisan karena kembali menggunakan portal udara yang menjadi portal para dewa untuk turun.
"Alasan mu untuk mengetes kekuatan begitu sembuh dari flu, tidak diterima. Tetua seperti punya dendam dengan mu," canda Kavana.
"Selama bukan amarah dari penguasa menara atau tetua agung, aku masih bisa mengabaikannya," balas Elena. Hidupnya sangat santai sampai tidak memperdulikan amarah dari tetua lain.
"Aku akan pergi menemui Louis. Sampai jumpa nanti." Elena pergi ke arah yang berlawanan dengan tempat tujuan mereka.
"Demi Louis kau bahkan rela mengabaikan tugas mu untuk melapor. Aku yang harus turun tangan jika begini," batin Kavana menghela nafas berat, ia harus pergi sendiri ke kediaman tetua agung.
*****
Elf wanita yang Louis selamatkan bernama Oksana, ia datang membawakan Louis bubur buatannya sendiri. Karena dia elf pegunungan jadi ia paham betul membuat bubur dengan daun herbal sebagai campurannya. Penyakit dari dalam tubuh tidak bisa disembuhkan dengan kekuatan ahli amuan, harus dengan ramuan buatan sendiri.
"Padahal kau tidak perlu datang, Liana bisa membawakan aku bubur jika aku meminta," ucap Louis dengan nada datar, ia tidak mau Elena salah paham karena Oksana.
"Dia benar. Kau seharusnya tetap berada di dalam kamar mu sambil menunggu hari keberangkatan mu ke desa para elf," tambah Benton.
"Louis sudah menyelamatkan hidup ku, sampai kapan pun aku akan berhutang padanya. Sebenarnya aku ingin tetap berada di sini bersama Louis seumur hidup ku untuk membayar hutang budi ini," jawab Oksana.
"Louis, sudah bertunangan. Baik dia atau tunangannya tidak akan nyaman dengan kehadiran mu," balas Bagas.
Oksana malah meneteskan airmata, "Jika tidak bersama Louis maka aku harus ke mana? keluarga ku sudah tiada, sekali pun kembali ke desa elf aku akan sendirian selamanya. Louis memberikan ku harapan untuk hidup saat dia mengulurkan tangannya, aku tahu hanya dengan bersama Louis aku akan menemukan kebahagiaan ku. Jika Louis menolak atau tidak nyaman dengan ku, maka lebih baik aku tiada saja."
"Baguslah kalau begitu," ucap Elena melangkah masuk ke dalam kamar Louis, "Jika kau tiada maka aku akan berdoa pada tuhan, agar kau bisa dipersatukan dengan keluarga mu di atas sana."
Ucapan Elena membuat Benton, Bagas, dan Sean tertawa kecil. Mereka tidak akan menduga kalimat itu akan Elena lontarkan tepat di hadapan Oksana, mereka merasa kasihan pada Oksana.
"Kau adalah tunangan Louis, Louis sangat baik, hatinya lembut. Bagaimana bisa wanita kasar bermulut pedas seperti mu menjadi tunangannya? seumur hidup kalian tidak akan pernah bisa bersama," jawab Oksana, Louis mengerutkan dahinya mendengar hal itu.
"Selera mu memang unik Louis." Sean mencolek dagu Louis membuat mereka tertawa bersama.
"Aku pamit dulu." Oksana berlari keluar, ia tidak tahan ditertawakan seperti itu.
Setelah Oksana, Sean bersama yang lain memberikan Louis tempat untuk berdua saja dengan Elena. Mereka memilih menunggu di luar kamar.
"Maafkan Oksana, kau jangan …."
"Diam." Elena menepikan rambut Louis yang terurai di dahinya, lalu ia menempelkan kedua dahi mereka.
"E-Elena terlalu de-dekat," ucap Louis. Ia menahan nafas karena dahi mereka bersentuhan dan jaraknya sangat dekat.
Sesaat kemudian Elena pun menjauhkan dirinya dari Louis dan duduk di samping ranjang, "Demam mu tidak terlalu tinggi. Aku sendiri sudah sembuh."
"Baguslah kau sudah sembuh. Elena, bisakah aku bertanya tentang metode pelatihan yang kau berikan pada Bagas. Apa itu kau buat sendiri?" tanya Louis merasa sedikit ragu, ia penasaran sekaligus takut mendengar jawaban Elena.
"Ya, aku yang buat dan berikan. Kenapa? apa kau juga mau?" Elena balik bertanya tanpa berpikir alasan di balik pertanyaan Louis.
"Seharusnya metode yang sama sudah diperjual belikan oleh peneliti itu, Louis bisa membelinya. Tapi dia malah ingin meminta dari ku, apa uang sakunya habis?" batin Elena.
"Kau yakin tidak pernah melihat metode itu di mana pun, seperti kehidupan sebelumnya?" kali ini pertanyaan Louis langsung menyentuh inti, sekilaa tatapan Elena padanya menjadi sedikit aneh.
Namun, Elena tetap terlihat tenang dan bersikap biasa saja seraya menjawab, "Kehidupan sebelumnya? mana ada yang seperti itu, aku hanya terlalu jenius saja."
"Elena, ku mohon jangan berbohong. Kau ingat kan kehidupan mu sebelumnya kan? kehidupan mu terulang tepat setelah kau bunuh diri di pesta pernikahan mu dan Ernest. Itu adalah penyebab semua tentang mu tidak berjalan seperti dulu, Elena mulai masuk akademik sampai melepaskan Ernest adalah perubahan yang sengaja kau renacakan untuk menghindari kesalahan yang sama terulang lagi. Benarkan?"
"Louis." Elena tersenyum menatapnya, senyuman itu terasa ganjil bagi Louis sampai muncul bayangan hitam yang besar dibelakang Elena dan bayangan itu berhasil menekan Louis, Louis tidak bisa bergerak atau bicara saat itu juga.
"Jangan bicara hal aneh, kau paham kan?" tegas Elena.
Louis tidak mau semua jadi seperti ini, ia berusaha melawan tekanan Elena, "Kau tidak akan mengerti, karena aku sendiri sudah mengulang kehidupan ini sebanyak 3 kali untuk mu."
Tekanan Elena menghilang sepenuhnya dalam sekejab karena terkejut. Louis sendiri sampai batuk berkali-kali setelah keadaan kembali normal.
"Kau bohong, aku tahu itu," ucap Elena dengan mata berkaca-kaca, "Jangan mempermainkan aku."
"Jika aku bohong, kenapa aku bisa tahu tentang metode itu? Elena, aku juga punya rahasia besar. Anggap saja aku ini gila setelah kau mendengarkannya, aku mengulang kehidupan sebanyak 3 kali untuk merebut mu dari Ernest walau pun sering berakhir dengan kegagalan," jawab Louis.
Louis pun menatap keluar jendela kamarnya dan berkata, "Berada di satu tempat sampai memiliki hubungan sedekat ini dengan mu tidak lebih dari mimpi bagi ku di 2 kehidupan sebelumnya."
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘