
Elena membuat pesta besar sampai menyewa satu kedai hanya untuk di pakai oleh mereka para mantan murid terbuang, mereka merayakan keberhasilan Elena dengan makan besar. Hari ini bukan hanya hari perayaan Elena saja, karena bagi yang lain tanggal hari ini adalah tanggal pertama kali Elena datang ke dalam hidup mereka lalu mengubah jalan hidup mereka.Ā
"Selamat untuk mu, sayang." Brianna memeluk Elena yang duduk di sampingnya.
"Kami benar-benar bangga pada mu, kau adalah adik kesayangan kami," tambah Gudytha.
"Hah? kalian bicara apa?" tanya Elena yang sudah mabuk, ia tidak pernah minum dan sekarang ia jadi mabuk hanya karena segelas minuman saja.
"Hahahah, dia tidak dengar. Dasar anak ini!" Jessy memukul punggung Elena dengan keras lalu kedua tumbang bersamaan.
"Aku cintai kalian semua," gumam Elena terdengar oleh mereka semua.
"Dasar!" ucap mereka serempak dengan mata berkaca-kaca.
*****
Keesokan harinya adalah hari penting bagi para bintang agung yang baru, kekuatan mereka akan di uji dengan cara mengirim mereka secara terpisah ke berbagai bagian dunia.
Dari semua bintang agung Elena yang datang paling lambat karen efek samping saat mabuk baru ia rasakan saat bangun tadi pagi, rasanya ia tidak ingin beraktivitas pagi ini.
Para bintang agung di kumpulkan di lapangan yang sangat luas, di tengah lapangan itu ada portal yang akan membawa mereka menuju tempat rahasia. Semua tetua sudah hadir untuk menyaksikan secara langsung pelepasan para bintang agung.
Suasana di lapangan itu sangat ramai karena murid bagian dalam menara yang sudah selesai kelasnya ikut datang melihat pelepasan. Namun tiba-tiba saja suasana menjadi tegang saat penguasa menara datang, ia datang bersama tetua agung yang merupakan mantan penguasa menara.
"Tekanan yang luar biasa," batin Kavana. Ia merasa sesak sampai tidak sanggup menatap tetua agung, bukan hanya dia saja kelima bintang agung lain juga merasakan hal yang sama. Kecuali, Elena. Dia masih berdiri tegak tanpa menunduk.
"Oh. Anak yang menarik," batin tetua agung mulai tertarik pada Elena.
Setelah tetua agung bergabung dengan tetua yang lain, upacara pelepasan pun di mulai. Para bintang agung maju dari posisi terendah lebih dulu. Pertama level para bintang agung di uji agar mereka bisa mengirimnya ke tempat yang sesuai.
Saat nama Louis di sebut, Louis menghela nafas lalu menatap Elena, "Aku pergi."
"Hati-hati di jalan," jawab Elena, membuat Louis tersenyum malu. Ia merasa seperti di antar oleh istri sendiri.
"Cih!" Kavana mengejek Louis dengan raut wajah jeleknya.
"Elena Abraham," panggil guru penguji. Elena menghela nafas kemudian maju ke depan, Kavana sedih karena Elena tidak berpamitan padanya.
"Level dasar tingkat 12," ucap penguji membuat tetua agung terkejut. Tidak dengan para tetua yang lain.
"Berhenti!" perintah tetua agung membuat suasana menjadi tegang, para tetua yang lainnya bahkan penguasa menara sudah terlambat untuk bereaksi sekarang.
"Kau murid level dasar, tidak pantas menjadi bintang agung. Pergi dari sana dan lepaskan bros serta jubah mu, kau hanya akan menjadi aib bagi keenam bintang agung yang lain," ucap tetua agung.
"Kakek, apa kakek pikir aku bisa ada di posisi ini karena belas kasih para tetua dan penguasa menara? jika benar maka pemikiran kakek salah, ini adalah tempat yang aku raih dengan kemampuan ku. Semua tetua adalah saksinya," jawab Elena tanpa merasa ragu sedikit pun.
"Hahahahah. Nak, jika baru di level dasar saja kau telah mendapatkan posisi kedua bintang agung. Maka bagaimana jika kau sudah di level lebih tinggi? apa kau akan mendapatkan posisi sebagai penguasa 3 dunia."
"Jika posisi itu ada maka tentu saja bisa aku raih, tidak ada yang tidak mungkin selama kita berusaha. Benarkan?"
"Boleh. Tentukan saja siapa gurunya," ucap Elena. Tetua agung tersenyum, ia menunjuk guru paling hebat di pavilliun pemanggil.
"Kakek. Bagaimana jika jangan bertarung secara fisik? kalau aku kehabisan tenaga di sini lalu pergi dan jatuh ke tempat yang banyak monster maka aku bisa tiada nanti. Jadi aku mau pertandingannya adalah siapa yang memiliki familiar terbanyak, bagaimana?" usul Elena mendapatkan persetujuan dari tetua agung.
"Anak ini menarik. Dia sebenarnya kuat. Tapi orang yang telah menarik perhatian kakek tua ini, tidak bisa pergi dengan mudah. Ayo! tunjukan semua yang kau punya," batin tetua agung.
Guru itu memulai lebih dulu, ia memanggil 10 kesatria suci, Wyvern, spirit 4 elemen tingkat tertinggi, wurm dan yang terkuat adalah naga berkepala tiga. Semua orang terkagum dengan familiar itu, mereka merasa Elena sudah kalah.
"Baiklah. Memanggil penguasa 4 elemen, Ignatius, Admon, Alara, dan Auretta. Memanggil Hydra, Valkyrie Brunhilde." Elena memanggil familiar dan sahabatnya.
"Apa masih kurang?" tanya Elena pada tetua agung. Pria tua itu tersenyum melihat rasa percaya diri yang begitu besar dari Elena.
"Cukup. Kau tidak perlu memanggil lagi. Kau lulus," jawab tetua agung. Elena langsung bergegas masuk ke dalam portal teleportasi bersama para familiar dan sahabatnya.
Saat ia sampai pada tempat tujuannya, Elena langsung terkulai lemas di tanah, "Sial! hampir saja jantung ku copot."
"Apa masih kurang?" Brunhilde meniru cara bicara Elena.
"Nona, padahal sudah tidak ada yang bisa di panggil lagi masih saja sombong. Dasar," ucap Slyph yang telah menembus batasannya sampai berhasil menjadi penguasa elemen angin bernama Auretta.
"Kata siapa? adik-adik dari Brunhilde belum di panggil, begitu juga 50 kesatria suci nona. Jadi apa salahnya bertanya begitu?" tanya penguasa elemen api, Ignatius.
"Diamlah dasar kadal!" ejek Auretta.
"Aku adalah naga, naga bukan kadal. Ku bakar kau nanti," kesal Ignatius.
"Lupakan dulu tentang itu, kita sekarang ada di mana?" tanya Alara menatap taman bunga di depan mereka.
"Brunhilde tetaplah di sini, kalian kembali dulu nanti akan ku panggil lagi," ucap Elena. Yang lainnya langsung kembali tersisa Brunhilde bersama dengan Elena.
"Ini seperti taman peri," ucap Brunhilde. Dulu ia pernah kemari.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan di sini? apa maju saja?" tanya Elena menatap jauh ke depan.
"Peri pada dasarnya benci atau mungkin takut dengan manusia. Tapi kekuatan anda membawa anda ke mari, alasan di balik itu masih belum jelas. Kita maju saja dulu. Ayo nona," ajak Brunhilde. Elena mengangguk seraya melangkahkan kaki masuk ke dalam taman bunga tersebut.
Teng!
Bunyi lonceng menusuk telinga Elena membuat Elena meringis kesakitan. Brunhilde yang tidak mendengar suara itu menjadi heran dengan tingkah Elena, tidak lama para peri terbang mendekat lalu menjatuhkan jaring tepat pada keduanya.
"Serang pemilik kekuatan gelap itu," teriak salah satu peri seiringan dengan itu muncul peri petarung setinggi tubuh manusia, mereka memukul Elena dengan tongkatnya dari luar jaring.
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berartiš