The Second Chance To Change Destiny.

The Second Chance To Change Destiny.
Bab 52 Keberhasilan Haura.



Selama beberapa hari terakhir Elena tidak fokus dalam pekerjaannya dan sering melamun, semua temannya sedikit khawatir sampai meminta Liana untuk datang. Namun saat Liana datang tidak ada yang berubah, Elena justru malah mengabaikannya.


"Aku tidak tau apa yang terjadi. Tapi jika dia adalah Gotu, maka pria yang terakhir kali aku lihat saat aku meninggal juga adalah dirinya. Kenapa dia ada di sana? kenapa dia menangis saat itu? kenapa dia harus terlibat sejauh itu dengan ku dan kenapa aku tidak ingat banyak hal tentang dia? berapa banyak lagi ingatan tentang dia yang aku lupakan," batin Elena. Ia bertanya lebih lanjut pada Louis. Namun sejak hari itu tidak tahu kenapa Louis menghindarinya, kelakuannya membuat beban pikiran Elena bertambah.


"Irene," panggil Benton beberapa kali, Elena yang sedang mencabut rumput pun berdiri dan mendekati Benton.


"Ada apa?" tanya Elena. Terlihat jelas dari raut wajah Benton ada masalah yang datang.


"Itu ... ada yang mencari mu, wanita itu sangat sombong sampai memukul beberapa teman wanita kita. Dia bilang dia mau kau atau satu orang dari kami menjadi tukang cuci pavilliun petir, semua orang takut padanya karena dia keluarga kerajaan. Tolong lakukan sesuatu, " pinta Benton. Elena tidak bertanya lebih banyak lagi, ia bergegas pergi ke bagian depan untuk melihat siapa yang berani mengganggu mereka.


"Ada apa ini?" tanya Elena menghampiri mereka semua, melihat Elena sudah datang Isabella tersenyum lalu ia menepi ke samping Odelia.


"Jadi kau wanita bernama Irene Castiello itu? aku tidak akan memperpanjang masalah lagi, karena …."


"Hebat sekali diri mu ini." Elena memotong ucapan Odelia membuat wanita angkuh itu melotot.


"Apa kata mu? coba ulangi!" perintah Odelia meninggikan nada suaranya.


"Aku bilang kau sangat hebat. Kau bicara seolah kami yang datang pada mu dan membuat keributan, sampai kau berkata tidak akan memperpanjang masalah. Ingatlah nona angkuh, di tanah siapa kau berdiri saat ini."


Mendengar ucapan Elena, Odelia tertawa sangat keras. Setelah puas tertawa wanita itu mendekat pada Elena, dan menyentuh beberapa helai rambut Elena yang terurai.


"Rambut yang indah. Tapi sayang sekali rambut ini harus di potong, sebagai hukuman karena kau sudah bersikap lancang pada keluarga kerajaan," ucap Odelia. Elena bukannya takut ia malah mendorong Odelia menjauh darinya.


"Haura, ambilkan pisau!" perintah Elena, Haura mengangguk kemudian pergi ke dapur, tidak lama kemudian dia kembali membawa pisau lalu menyerahkan pisau itu pada Elena.


Elena mengambil pisau itu dan memotong bagian rambutnya yang di sentuh oleh Odelia, "Rambut itu sudah kotor, harus di singkirkan."


"Hei!" Odelia berteriak sambil mengacungkan jarinya tepat di depan mata Elena, "Berani sekali kau menghina keluarga kerajaan, aku akan membuat diri mu keluar hanya menyisakan nama saja dari daratan ini."


Kekuatan gelap Elena bangkit membuat penguasa menara merasakannya, pria berusia 50 tahun itu keluar dari ruang meditasinya dan menatap langit.


"Pavilliun pemanggil?" batinnya melihat ada kekuatan gelap dalam jumlah besar di atas pavilliun itu.


"Katakan sekali lagi wanita." Elena menutup mulut Odelia dengan tangannya, cengkraman tangan Elena terlihat menyakitkan sampai membuat Odelia meneteskan air mata.


"Irene, lepaskan dia. Sudahlah jangan marah lagi," ucap beberapa temannya. Namun Elena seolah tuli, dia sama sekali tidak berniat melepaskan Odelia begitu saja.


"Suasana hati ku sedang buruk, dan kau datang membuat segalanya semakin buruk. Kau memang cari mati," ucap Elena membuat semua orang di sana terkejut sampai tidak berani mendekat.


"Hydra." Elena memanggil Hydra tanpa ia sadari, karena amarah telah mengendalikan hatinya.  Tidak lama muncul pria tampan berbaju ungu, dengan rambut hitam dan mata ungu juga.


"Ya ampun suasana hati anda buruk sekali. Tenanglah sedikit." Hydra berusaha menenangkan Elena karena ia tahu akan seperti apa akhir dari Odelia jika Elena tidak tenang.


"Kau, makanlah dia!" perintah Elena malah semakin marah. Odelia menggelengkan kepala dan terus menangis karena tidak bisa mengatakan apa pun.


"Irene." Liana datang setelah merasakan firasat buruk tentang Elena, "Apa yang kau lakukan? hentikan ini. Apa kau mau jadi kakak yang buruk untuk Elios dan Leon? jika kabar kau meminta Hydra memakan Odelia tersebar keluar, maka Leon dan Elios bisa saja benci pada mu."


"Apa ini? jadi Hydra yang saat itu bertemu dengan kami di puncak menghilang karena telah menjadi familiar Irene? menakutkan, untung saja aku tau cara menenangkannya atau Odelia akan berakhir tanpa menyisakan mayat," batin Liana.


*****


Kejadian itu dirahasikan oleh siapa saja yang melihat jika sampai bocor, Hydra telah mengancam mereka jika dia akan memakan mereka semua. Odelia sendiri tidak berani lagi datang pada Elena.


Ingatan Elena tentang kejadian itu samar-samar karena kekuatan gelap lagi. Namun Elena ingat jelas tentang Hydra walau pun ia tidak begitu ingat. Semua teman Elena juga sempat takut mendekati Elena. Namun mereka sadar untuk apa takut, Elena menjadi sangat marah saat itu demi melindungi mereka.


"Lapar." Elena seperti biasa terbaring saat jam istirahat makan siang, yang lainnya merasa tidak perlu waspada karena sikapnya masih saja sama.


"Roti kukus isi daging sapi. Pak pengawas memberikan kita bonus karena ramuan dari herbal kita laku dengan harga tinggi," ucap Benton. Ia memang memiliki tugas sebagai juru masak.


"Akhirnya kita bisa makan daging," ucap Elena mengambil rotinya lebih dulu.


"Senang rasanya melihat Irene kembali bersemangat. Kita harus berterima kasih pada Isabella nanti," ucap Cole pada Bagas.


"Tapi, Irene itu sepertinya lebih kuat dari kita. Untuk sejenak aku ragu dia bisa menaklukan Hydra, sementara itu levelnya masih di bawah kita," balas Bagas. Mereka menatap Elena untuk waktu yang cukup lama.


"Kyaaaa." Haura berteriak kegirangan dari dalam dapur, setelah itu ia keluar dan langsung memeluk Elena.


"Terima kasih Irene, berkat kau. Aku … aku bisa mencapai Level misteri," ucap Haura membuat semuanya merasa bahagia.


"Benarkah? luar biasa. Selamat Haura." Semuanya memberikan dia ucapan selamat, kebahagian Haura adalah kebahagian mereka. Elena tau dengan jelas dari raut wajah mereka, tidak ada satu pun orang yang iri padanya.


"Karena Haura sudah sukses maka dia akan kita temmani untuk melapor, bagaimana?" usul Ryan di setujui semuanya.


"Kami yang akan merapikan semua barang mu." Jessy dan Olaf mengajukan diri untuk membantu.


"Biar aku yang angkat semua barang mu sampai ke asrama baru," tambah Waldi, dia adalah tunangan Haura.


"Tidak sekarang. Kita akan keluar dari sini bersama karena aku percaya kalian pasti akan berkembang, karena guru kita orang yang sama," jawa Haura mencolek pipi Elena.


"Jika itu memang keputusan mu maka kami mendukungnya. Para murid terbuang akan bersinar terang, kalian tunggu saja," teriak Brianna yang mendapatkan sorakan dari semuanya.


Pak pengawas saat itu ingin mengantarkan beberapa daging lagi, harus mengurungkan niatnya saat mendengar ucapan Haura. Beliau tersenyum karena akhirnya setelah 2 tahun menyandang nama murid terbuang, kini mereka bisa menjadi murid resmi. 


Selama beberapa hari ini Pak pengawas sering mendapati para murid terbuang bermeditasi, beliau tidak percaya jika itu akan membuahkan hasil berkat Elena yang sama-sama murid terbuang.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘